Published On: Sat, Dec 26th, 2015

Haru Biru Desember

*Oleh: Rarasati Anindita

Ilustrasi

Ilustrasi

Ku berlari di tengah hamparan pasir putih

Ombak menyambut kaki ku dengan lembut

Sang surya menyapa ku dengan hangatnya

Angin pun membelaiku saat terhenti di bawah pohon kelapa

 

Wahai Desember! aku terpukau dengan pemandangan pantai kala itu

Meski kau termasuk musim penghujan, biru langit tak bisa memendam pancarnya

Kicauan burung tak bisa menandingi suara penyanyi opera

Alam ciptaan Yang Maha Kuasa tak bisa menandingi lukisan sang maestro

 

Saat terpejam menikmati alam, terdengar seorang anak laki-laki berteriak BAH! BAH!

Teriakannya sangat memekikan telinga dan penuh ketakutan

Ku buka mataku dan langsung terbelalak!

Pemandangan menakjubkan itu berubah menjadi suram

 

Apa yang terjadi? Kemana alam yang kulihat sesaat tadi?

Sekelilingku menjadi pemandangan yang mengerikan

Kapal-kapal berada di darat, pohon kelapa rubuh, bangunan pun rata dengan tanah

Laut seakan melahap daratan dan melumpuhkan seisi pemukiman

 

Anak laki-laki itu menghampiriku, menangis mencari saudaranya

Tubuhnya mengigil kedinginan, kotor dan penuh luka

Seketika air mata jatuh dan langsung kupeluk erat anak itu

Tak henti ku menangis hingga tersentak bangun di dunia lain

 

Tuhan,

Maafkan bila ku tak menghargai ciptaan-Mu

Maafkan juga bila teman-temanku tak menjaga ciptaan-Mu

Tuhan,

Terima kasih atas karya dan anugerah-Mu yang sempat kunikmati sesaat

Terima kasih telah menyadarkan bahwa kami mulai jauh dari-Mu

 

*Penulis merupakan mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2012 dan Pemimpin Redaksi LPM Media Publica Periode 2015-2016