Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Media Publica – Memotret, saat ini tengah menjadi hal yang digeluti oleh banyak orang. Sekadar dilakukan karena bagian dari rekreasi atau memang mencintai. Sekadar untuk memotret momen, disimpan di kamera lalu dibagikan ke khalayak melalui media sosial atau mungkin diikutsertakan dalam lomba untuk diapresiasi. Tak dipungkiri pula, pengaruh aspek visual yang saat ini lebih banyak disukai masyarakat membuat kegiatan fotografi semakin diminati.

Dengan semakin banyaknya kalangan yang gemar dengan kegiatan ini bermunculan, baik dari kalangan muda maupun yang sudah terlebih dahulu menggelutinya, sebenarnya semakin banyak pula hal-hal teknis maupun non teknis yang harus dipahami. Terlebih lagi saat ini banyak tolak ukur dalam menilai suatu hasil karya fotografi hanya melalui pandangan mata sekilas saja dengan melupakan aspek atau nilai di dalam foto itu sendiri.

Hal tersebut juga didukung oleh beberapa mahasiswa Fikom UPDM(B) yang saat ini tengah menyukai dunia fotografi, seperti yang diungkapkan oleh Bimbi Ardianti.

“Saya sebagai orang awam yang tidak mengetahui mengenai fotografi, saya ingin tau lebih lanjut tentang fotografi diluar mata kuliah fotografi yang saya dapatkan,” ungkap mahasiswi konsentrasi Jurnalistik ini.

Begitu pula dengan Aditya Dirgantara yang mengatakan jika pengetahuan mengenai dunia fotografi mampu mengantarkan seseorang menjadi fotografer yang profesional, “karena kan kita masih pemula, yang pengen gw dapetin ya gimana caranya jadi fotografer jurnal yang professional,” ungkap Aditya.

Berangkat dari hal itulah, kini fotografi dianggap sebagai suatu keterampilan yang mumpuni dalam dunia industri. Bahkan saat ini dapat kita lihat pula banyak seminar, workshop bahkan sekolah fotografi untuk menunjang kemampuan dari orang-orang yang memang belum memiliki dasar fotografi, sampai mereka yang pernah belajar sendiri dan lebih ingin mendalaminya lagi.

Dalam istilah umum, fotografi sendiri diartikan sebagai proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Namun, jauh sebelum menyentuh ke bagian teknis tersebut ada satu hal yang sebenarnya tidak boleh dilupakan sebelum memotret, yakni menentukan tema dan konsep.

Salah satu pewarta foto Tempo Aditya Noviansyah, menjelaskan mengenai hal tersebut. Menurutnya, tema dan konsep menjadi suatu hal penting yang harus diperhatikan sebelum memotret. Baginya, foto harus memiliki sebuah ide cerita yang akan disebarkan ke khalayak. Sebab, selain berdasarkan definisi umum dari tema itu sendiri, foto memang merupakan sebuah medium untuk menyampaikan suatu pesan kepada masyarakat.

“Kita harus tahu pesan yang mau kita sampaikan agar komunikan mampu memahami gambar kita,” ungkapnya dalam Seminar ‘Menentukan Tema dan Konsep dalam Fotografi Jurnalistik’, Kamis (10/12) di Laboratorium Humas Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).

Pewarta foto kelahiran 1986 ini memberi pesan jika foto sebaiknya tidak hanya sekadar bersifat naratif, melainkan deskriptif, dimana pendalaman cerita dari tema foto dijelaskan. Misalnya seperti efek atau dampak dari peristiwa yang kita potret. Umumnya, tema sosial seperti potret kehidupan orang pinggiran, kemiskinan banyak digunakan oleh fotografer. Bukan tanpa sebab, isu seperti ini lah yang memang memiliki proximity dengan kehidupan kita dan dapat menimbulkan feedback cepat dari penikmat foto tersebut.

Aditya juga memberi pendapatnya mengenai perkembangan media sosial saat ini. Menurutnya, seharusnya masyarakat dapat memanfaatkan keberadaan media sosial dengan baik, karena melalui media sosial dapat menentukan tema dan konsep foto yang kita usung.

‘Dengan adanya media sosial seperti instagram sudah mampu mengkonsepkan foto yang akan kita sajikan,’ jelasnya. Ia menambahkan jika konsep dan tema foto yang kita miliki tersebut tidak menutup kemungkinan menghadirkan keuntungan jika media sosial kita akan dijadikan referensi bagi pengguna media sosial yang lain.

Dalam aspek teknis memotret, kemampuan  mengendalikan tiga komposisi dalam kamera seperti diafragma, ISO dan dan shutter speed memang wajib dimiliki. Namun di luar dari itu, kamera hanya sebuah media, dimana sebenarnya kecerdasan fotografer jauh lebih dilihat. Singkatnya, sebelum memotret fotografer wajib untuk ‘melihat, berpikir dan meng-klik’ sebuah momen untuk membuatnya tidak hanya sekadar sebuah foto, melainkan ada pesan yang ingin disampaikan.

 

Reporter: Dianty Utari Syam

Editor: Rarasati Anindita

2,814 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.