Published On: Sun, Sep 6th, 2015

Cerita di Balik Make Up

*Oleh: Anisa Widiasari

Ilustrasi

Ilustrasi

Bagi gue makeup udah jadi kebutuhan sehari-hari. Bukan lagi jadi barang sekunder atau substitusi, tapi udah jadi barang yang dipakai setiap hari kayak sabun mandi. Mungkin kalian bingung dan menganggap gue lebay, genit, atau rempong. Tapi ada alasan kenapa gue pake makeup sehari-hari.

Sebagai perempuan kita terlahir dengan sifat insecure atau enggak nyaman dan kurang puas sama penampilan diri sendiri, tapi dalam kasus gue beda. Gue bukan perempuan yang ngeluh sama berat badan karena ngerasa gendut, padahal beratnya cuma 50 kg. Gue bukan perempuan yang pura-pura enggak bisa ngerjain ulangan tahunya dapet A.

Oke, maaf kalau kalian kesindir. Gue enggak ada maksud sama sekali. Maksudnya, gue beneran insecure karena gue punya something real to be insecured about. Semenjak gue puber, jerawat di wajah gue tumbuh terlalu berlebihan dan bisa dibilang di luar batas sewajarnya kata dokter itu karena hormon di tubuh gue terlalu tinggi ditambah pola makan yang enggak baik. Dan itu udah dokter ke tujuh yang bilang kayak gitu karena udah tujuh kali ganti dokter dan sampai sekarang wajah gue masih berjerawat ditambah bekas-bekasnya. Intinya, gue udah usaha tapi enggak membuahkan hasil.

Tentunya teman-teman sebaya dan orang dewasa lainnya memperlakukan gue dengan beda. Gue tumbuh dengan banyak panggilan, ejekan, dan komentar pedas tentang kondisi wajah gue. Waktu baru masuk SMA, gue sempet mikir kalau masyarakat akan memperlakukan orang yang cantik atau ganteng lebih baik dari pada lainnya. Emang kedengerannya hancur banget tapi itu yang gue rasain saat itu. Mulai dari situ, gue mencari cara untuk menutupi kekurangan yaitu dengan make up. Gue jatuh cinta banget sama gimana berbagai produk dapat membuat gue kelihatan lebih cantik dan rasa percaya diri gue langsung naik tentunya. Sejak itu gue selalu pakai make up kapanpun dan dimanapun gue pergi walaupun cuma buat belanja sebentar ke toko.

Oiya! Udah ngomong panjang lebar kita belum kenalan. Nama gue Jenna. Kalian cukup tahu Jenna aja. Umur gue sekarang udah 21 tahun dan setelah melewati masa pertumbuhan yang penuh dengan ups and downs terutama karena kondisi wajah, gue baru aja lulus dari salah satu sekolah make up terkenal di Jakarta. Sekarang gue menekuni bidang kesukaan yaitu make up. Sejauh ini yang memakai jasa make up gue sudah dapat dibilang banyak. Mulai dari kerabat sampai artis-artis dan orang terkenal. Awalnya gue mengunduh foto-foto klien ke akun media sosial yang gue punya. Mulai dari situ banyak yang meninggalkan komentar bagus dan akhirnya gue mulai terkenal dan banyak klien yang memanggil.

Nanti malam berhubung malam Minggu, gue mau jalan sama temen deket gue, Jihan, yang udah gue kenal dari SD untuk belanja berbagai macam peralatan make up baru. Jihan udah kenal gue banget bisa dibilang kayak keluarga sendiri. Walaupun orangnya cerewet tapi gue udah sayang banget deh sama dia.

Malam itu Jihan menjemput gue di depan rumah. “Lama banget sih lo! Untung tadi gue sempet beli risol di perempatan” kata Jihan saat gue baru masuk mobil. “Ya sorry, lo tahukan gue kalau siap-siap lama banget”. Setelah itu kami langsung menuju ke salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Setelah sampai, tanpa membuang waktu kami mendatangi tempat make up dan segera memilih. Bagi gue saat belanja make up adalah salah satu hal paling menyenangkan. Mulai dari milih warna, jenis, merek, sampai mencoba berbagai produk. Pokoknya I always go for the best!

“Jen… Coba cek instagram lo deh,” ujar Jihan tiba-tiba. Dengan melempar tatapan aneh ke Jihan gue bertanya, “hah ada apa?”
Dalam waktu satu jam, ponsel gue udah dipenuhi ratusan notifications dari Instagram. Ada orang jail yang mengunggah foto gue tanpa menggunakan make up sedikitpun ke Instagram. Masa lalu yang gue coba hindari dan tutupi bertahun-tahun kembali lagi. Enggak gue sangka walaupun udah sejauh ini gue coba hindarin, masa lalu itu balik lagi sekarang.

Gue bingung harus apa. Rasanya kayak semua ketakutan dan insecurity gue yang dulu balik lagi. Sambil mematung karena kaget gue membaca semua komen-komen yang ada di foto itu.

“Astaga jelek banget”

“Jelas aja dandannya tebel yang ditutupin kayak gitu”

“Gila nenek lampir hahahaha”

“Nipu banget ya”

“Super ugly

“Jijik”

dan masih banyak lagi.

“Ternyata cyber bully rasa sakitnya sama aja kayak bullying beneran,” pikir gue dalam hati. “Jen?” Jihan memecah kesunyian. Dengan mata berkaca-kaca gue menarik Jihan buat ke mobil untuk segera pulang.

Sepanjang jalan gue cuma bisa diam, sementara Jihan marah-marah kayak waktu baju kesayangannya kelunturan di laundry kiloan. “Gila itu orang sampe gue tahu siapa yang masukin foto itu, langsung gue samperin Jen! Enggak ada ampun pokoknya!” ujarnya sewot. Dan gue tetap diam.

Sesampainya di kamar gue nangis ngelepasin semua kesedihan dan ketakutan yang gue rasain. “Apakah habis ini masih ada klien yang mau memakai jasa make up gue? Apakah habis ini mereka masih percaya sama gue? Ah! Bodo amat sama klien! Gimana gue? Gimana image yang udah capek-capek gue bikin?!” Tangisan gue makin pecah.

Setelah capek nangis dan rasanya air mata sudah habis, muncul suatu pikiran. Gue familiar sama perasaan ini. Perasaan sedih dan hancur habis di bully. Ini sama aja kayak waktu remaja dulu. Ini bukan pertama kalinya dan gue udah berkali-kali bangkit dari keadaan kayak gini! Gue harus bangkit lagi gimana pun caranya.

Keesokan harinya, gue merekam video yang akan di unggah ke Youtube. Di video itu, gue membuat tutorial makeup yang berawal dari wajah gue yang polos tanpa sedikit make up apapun sampai tampilan selesai yang menutupi segala kekurangan wajah gue. Di video itu gue memberi pesan kalau it’s okay to do whatever that makes you feel great about yourself. Gue ingin orang-orang yang minder dan malu tentang dirinya, enggak usah takut karena sebenarnya semua orang punya rahasia yang mereka tutupin kok. Gue ingin orang-orang yang terlalu peduli sampai takut mengenai apa yang masyarakat pikir tentang diri mereka, untuk ngerti kalau hal yang paling penting adalah apa yang kita pikirin tentang diri kita sendiri bukan apa yang mereka pikirin. Gue ingin orang-orang yang enggak bisa berkata baik sadar kalau dengan berkata buruk dan menyakiti orang lain enggak akan membuat diri mereka lebih baik.

Setelah seminggu video itu gue unggah di Youtube, enggak disangka banyak banget respon yang gue terima. Dari situ gue belajar, apapun yang gue lakukan enggak mungkin bikin semua orang senang. Tetapi dengan tanggapan-tanggapan baik yang didapat, gue bahagia bisa bikin banyak orang  merasa lebih baik terhadap dirinya, walaupun gue harus membuka bagian dari diri gue yang selama ini gue coba untuk tutupi.

Setelah kejadian ini, gue enggak keberatan  membuka wajah ‘polos’ gue ke masyarakat karena ini bagian dari gue. Bagi kalian yang belum merasa percaya diri, tolong sayangi diri kalian karena pada akhirnya cuma kita sendiri yang bisa menentukan kebahagiaan kita.

*Penulis adalah mahasiswi Fikom UPDM(B) angkatan 2014