Published On: Wed, Jul 15th, 2015

Mengintip Kehidupan Muslim di Amerika

Mengintip kehidupan umat muslim di Amerika lewat talkshow Muslim Life in America: Through the Indonesian Media’s Eyes, @america, Jakarta Pusat (9/7) (Foto: Media Publica/Icha)

Mengintip kehidupan umat muslim di Amerika lewat talkshow Muslim Life in America: Through the Indonesian Media’s Eyes, @america, Jakarta Pusat (9/7)
(Foto: Media Publica/Icha)

Jakarta, Media Publica – Bulan Ramadhan merupakan bulan suci yang paling ditunggu-tunggu bagi umat muslim di seluruh dunia, karena dipercaya menjadi bulan yang penuh berkah. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengisi bulan Ramadhan. Salah satunya seperti yang diadakan oleh @america, Pacific Place Sudirman, Jakarta Pusat (9/7). Acara yang bernuansa keagamaan yang bertemakan Muslim Life in America: Through the Indonesian Media’s Eyes tersebut turut mengundang Ronny Suryanto dan Firza Arifien selaku jurnalis dari NET, Ahmad Fuadi selaku mantan jurnalis Tempo dan Ratnasari Dewi selaku perwakilan dari Kedutaan Amerika.

Seperti yang terlihat dari temanya, acara tersebut bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kehidupan muslim di Amerika dan juga  memperlihatkan apakah pandangan orang Indonesia terhadap muslim di negara tersebut benar seperti yang dibayangkan sebelumnya karena minoritas.

Pandangan masyarakat Indonesia mengenai kehidupan muslim di negara adidaya ini, tidak lepas dari pemikiran bahwa mereka dikucilkan dan tidak bebas untuk hidup sepenuhnya sebagai seorang musli. Namun apakah itu semua benar? Ronny dan Firza yang meliput kehidupan muslim di Amerika selama kurang lebih dua minggu mendapat banyak hal menarik.

Selama 20 tahun lamanya, masyarakat muslim Indonesia yang tinggal di Washington D.C menginginkan tempat untuk beribadah. Sampai akhirnya terwujud dengan membeli rumah di Maryland yang diberi nama Imaam Center. Rumah ibadah ini diresmikan pada 26 September 2014 dan diberi hibah oleh Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab disapa SBY sebesar 30 miliar rupiah. Imaam Center bukan hanya sekedar tempat ibadah bagi para muslim yang ikut dalam komunitas tersebut melainkan menjadi keluarga kedua mengingat mereka terpisah ribuan kilometer dari keluarga aslinya.

Di Imaam Center terdapat banyak kegiatan. Mulai dari acara pengajian yang dilakukan sekali setiap minggu, kelas-kelas pelajaran agama bagi anak-anak dan remaja yang diajar oleh para relawan atau hanya sekedar berkumpul dan bermain dengan sesama anggota yang berjumlah kurang lebih 2000 jamaah. Masyarakat muslim di Imaam Center diberikan kebebasan melakukan kegiatan keagamaan dan beribadah walaupun adzan hanya terdengar di dalam bangunan tidak seperti di Indonesia dimana adzan terderngar di seluruh penjuru negeri. Komunitas Imaam diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar yang non-muslim. Bahkan terkadang diadakan obrolan antar masyarakat dari berbagai agama dengan damai, tanpa menimbulkan konflik.

Komunitas yang berdiri pada tahun 1993 ini awalnya didasari oleh keinginan dari anggotanya untuk menjaga akidah walaupun jauh dari rumah terutama anak-anak mereka.
Kesulitan untuk tetap menganut ajaran agama islam dengan baik serta menjauhi segala larangan Allah, ditakuti oleh para orang tua yang anaknya masih kecil hingga remaja. Tidak dipungkiri dunia pergaulan dengan teman sebaya sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Menurut orang tua disana, mereka membentengi anak-anaknya dengan tetap menanamkan ajaran agama dan mengikuti anaknya pada pengajian setiap hari Minggu.

Menurut anak-anak muslim yang menjadi anggota di Imaam Center, mereka tidak mendapat kesulitan untuk bergaul dalam lingkungan sekolahnya. Tidak sedikit dari anak perempuan yang memakai jilbab dan merasa bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim.  Mereka diperlakukan sama saja layaknya anak-anak lain. Bahkan seorang anak mengatakan “they are friends with you  for who you are and not for your religion”.  Ratnasari Dewi yang sempat menuntut ilmu di Amerika juga bercerita bahwa dirinya diberi izin untuk shalat kapan saja dirinya membutuhkan.

Ternyata menjadi muslim di Amerika tidak seburuk yang selama ini dibayangkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Walaupun masih menjadi minoritas, namun muslim dapat diterima oleh negara besar seperti Amerika sekalipun. Pesan dari Ratnasari Dewi adalah perbanyak jalan-jalan untuk menambah kekayaan wawasan dan pengetahuan.

Reporter: Anisa Widiasari
Editor: Rizky Damayanti