Published On: Tue, Jul 14th, 2015

Arti Sebuah Perjuangan

Oleh: Rarasati Anindita

Ilustrasi

Ilustrasi

 

Hentakan kencang rantai memukul pagar besi nan kokoh. Suaranya tak seberapa bagi rumah berhalaman bak lapangan bola. Ku ucapkan salam sapa berharap ada yang dengar untuk membukakan pagar yang sebagian berselimut karat. Aku bukan bertamu saat itu. Seseorang memintaku datang untuk wawancara setelah aku mengirimkan surat lamaran kerja.

Bilangnya sih kantor, namun seperti tak ingin menerima tamu atau orang dari luar, mirip rumah kosong tapi segan untuk dijual. Aku hanya menuruti tawaran ibuku dan memilih melamar sebagai copywriter. Bahkan tak tahu aku melamar ke perusahaan apa, hanya membayangkan kerja di agensi iklan. Hanya bermodal pengalaman dan keberanian. Pikiranku mulai aneh, mungkin aku sedang terjebak dalam sebuah penipuan kelas kakap. Ketakutanku sirna karena seseorang datang membuka gerbang pagar rumah itu.

Baru kusadari ini kantor rumah produksi, tapi tak seperti yang kubayangkan. Kosong dan tak terurus, tak menyenangkan pokoknya! Tak henti kumainkan ponsel pintar hingga mati gaya. Ternyata harus menunggu orang yang mewawancaraiku di ruangan yang tak berbatas dengan area ruang lain. Aku benci menunggu, bagaimana sebuah kantor mau professional kalau tidak displin waktu. Keinginan untuk membatalkan wawancara ini sirna ketika seorang pelamar lainnya datang.

“Mbak Nova, maaf nunggu lama ya. Nanti langsung ketemu sutradaranya ya, lagi otw bentar lagi sampe kok. Ini aku kasih contoh script yang jadi project kita sembari nunggu,” ujar resepsionis kantor. Hanya kubalas dengan senyuman dan rasa penasaranku dengan script itu.

Seorang pelamar yang lain pun menyapaku, “Halo, aku Ulfa. Dikirain aku udah telat banget karena nyasar sampe muter dua kali.” Kami pun berbagi cerita dan pengalaman.

Ulfa telah lulus kuliah sejak 2 tahun lalu, jadi kelihatan kalau dia telah memiliki banyak pengalaman. Kalau aku? Baru semester 5, boro-boro lulus kuliah, kerja aja belum pernah. Ia cerita pengalamannya saat melamar kerja di beberapa stasiun tv swasta Jakarta bersama beribu pelamar kerja dan tes yang tak henti-hentinya. Ulfa pun mengeluh mencari pekerjaan di Jakarta susah, sampai sekarang belum mendapat pekerjaan.

Akhirnya Ulfa mencoba lagi melamar di rumah produksi ini dengan jabatan jurnalis. Cerita-ceritanya mengingatkan pada pacarku yang gila kerja. Kami akhir-akhir ini  sering bertengkar karena ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia selalu membela dengan mengatakan “Kalo aku ga kerja, aku dapet duit darimana? Aku ngehidupin keluargaku darimana?” Skak mat-lah aku! Resepsionis kantor akhirnya memanggil kami untuk mengikuti wawancara.

Di ruangan itu, seorang perempuan usia 40-an yang disebut sutradara menyambut kami dengan ramah. “Halo! Maaf nunggu lama, silahkan duduk. Budi! Ambilin minum buat mereka!” ucap keras perempuan itu. Ia pun memperkenalkan namanya Rita dan langsung menjelaskan apa yang akan kami kerjakan. Aku pun sontak terkejut karena kami belum dites ataupun diwawancara olehnya.

“Ini kita gausah kaku banget lah ya, santai aja. Saya langsung kasih briefnya aja ya biar kalian ada gambaran,” ucapnya sambil berbisik. Ia menjelaskan bahwa kami akan mengerjakan sebuah program acara berjenis human interest untuk salah satu stasiun tv swasta. Program acara ini menyorot kehidupan orang desa dan keadaan mereka yang serba kekurangan dengan usaha yang dijalankannya. Kami pun diminta untuk mengarahkan orang desa yang menjadi sasaran untuk menunjukkan kesedihan karena keadaan mereka dan menulis script yang dapat menciptakan suasana haru, sedih dan prihatin penonton. Kami juga diminta untuk intens di lokasi selama sebulan agar bisa merasakan langsung penderitaan yang dialami mereka. Ulfa langsung semangat seakan menemukan jalan emas menuju masa depan dengan tawaran tersebut. Beda denganku yang masih bertanya-tanya dengan pekerjaan itu.

Tanpa basa-basi aku pun bertanya, “Bu, jadi kalo ini orang desa serba kekurangan tapi mereka tidak merasa sedih karena keadaannya gimana?”

“YA ITU TUGASMU! Bikin mereka nunjukkin kalo mereka bertahan dengan keadaan serba kekurangan. Bikin yang bisa bangkitin suasana sedih penonton. Mereka kalo mau ke kota jual hasil usaha mereka dengan modal jalan kaki tapi upah sedikit sedangkan kita bisa naik mobil atau motor. Itu yang jadi poin utamanya!” ujar Ibu Rita dengan menggebu.

Aku membalasnya dengan senyum namun hatiku berkata lain. Oke aku mengerti kenapa statement ‘Media controls us’ itu nyata terjadi. Itulah mengapa masyarakat kadang gampang termakan omongan dari media terutama tv. Ceplos dikit, langsung besar di masyarakat. Ditambah literasi media masyarakat masih kurang. Kalau hal positif ditayangkan sih oke, kalau negatif apa jadinya? Ah media. Aku terlalu lugu hingga baru sadar beginilah orang-orang dibalik industri media. Kemana saja diriku selama ini?! Bodoh.

Aku pun melanjutkan. “Bu bagaimana dengan acara FTV yang isinya percintaan remaja? Masih produksikah?”

“FTV kayak gitu udah lewat jamannya. Penonton kita itu udah ga doyan yang cinta-cintaan. Sekarang tuh yang sedih-sedih, haru, mencekam itu yang dipengen sama penonton. Makanya sekarang saya udah ga produksi sinetron teenlit atau ftv cinta-cintaan. Hiiiiy! Kita kan juga ngejar royalty, emang mau bikin acara cuma upah capek terus gak dapet duit? Hahaha,” jawab Ibu Rita.

Statement ‘Money can’t buy happiness’ perlahan runtuh di dalam pikiranku. Uang lagi, uang lagi. Hal itu sedikit membuka cara pandangku bahwa kehidupan ini tak hanya dikontrol oleh suasana hati melainkan juga oleh uang. That’s why!Orang-orang jadi brutal karena berjuang mati-matian demi uang. Kriminalitas tak terelakan lagi karena untuk hidup harus punya uang. Aku jadi berpikir apakah tujuan hidup orang-orang ini hanya untuk uang? Dimana keberadaan Tuhan di hati mereka?

“Bagaimana? Soal upah tenang! Bakal sebanding kok sama usaha kalian, semua diakomodir sama kita. Kita butuh cewek karena menurut saya mereka nulis dengan perasaan, jadi bisa dapetlah script yang menyentuh. Gimana? Deal kan?,” tawar lagi sang Sutradara.

Kami berdua tersenyum. Aku dengan mantap berkata, “Terima kasih atas tawaran kerjanya, namun pekerjaan itu kurang cocok dengan saya. Kiranya pekerjaan ini cocok untuk Ulfa yang sudah mengincarnya dari awal. Maaf bu saya mundur.” Aku bodoh menolak pekerjaan yang tinggal di genggaman. Banyak orang yang mencari pekerjaan tapi aku sendiri menolaknya mentah-mentah.

“Yah mbak Nova, sayang loh pekerjaan ini padahal bisa nambah pengalamanmu. Sebenernya bagus tau, yaudahlah gapapa. Banyak-banyak belajar ya!” sinis Ibu Rita.

Ulfa tersenyum padaku. Ia mengingatkanku dengan perjuangan pacarku dalam mengais rezeki untuk kehidupan. Yaa aku mengerti sekarang kondisinya. Walaupun aku dapat senyum pahit dari sang sutradara, tapi ucapannya memang benar aku harus banyak belajar lagi dan peka dengan sekitar. Keluar dari ruangan itu aku dengan spontan mengirim pesan singkat kepada pacarku. ‘Halo sayang, hidup penuh perjuangan ya. Maaf kalo aku suka mengeluh. Aku harus banyak belajar dan peka sama keadaan. Good luck for today J’