Published On: Tue, May 5th, 2015

Lika-Liku Kehidupan Wanita dalam Buku Gadis Pantai

Judul: Gadis Pantai Penulis: Pramoedya Ananta Toer Penerbit: Lentera Dipantara Jumlah Halaman: 270

Judul: Gadis Pantai
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Jumlah Halaman: 270

Media Publica – Gadis Pantai merupakan roman yang mengisahkan tentang kehidupan seorang gadis belia nan elok dari sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah yang diambil menjadi istri pembesar Jawa yang bekerja pada Belanda. Roman karya Pramoedya Ananta Toer ini merupakan trilogi, namun dua buku lanjutan roman ini hilang ditelan kuasa zaman orde baru. Berkat seorang mahasiswi dari Australia, Savitri P. Schrer yang mengambil tesis seputar proses pengarangan Pram di tengah golak budaya dan kuasa, roman Gadis Pantai pun terselamatkan dan beredar di Indonesia.

Dalam novelnya, gadis pantai yang berusia empat belas tahun dibawa ke kota oleh bapak dan ibunya serta kepala kampung untuk menghadap seorang priyayi yang dipanggil Bendoro. Di malam sebelum ke kota, gadis pantai telah dinikahkan dengan sebilah keris. Ternyata keris itu merupakan wakil dari Bendoro dan secara otomatis ia menjadi seorang istri pembesar. Bukan sebagai istri sesungguhnya, melainkan sebagai Mas Nganten atau pelayan kebutuhan seks pembesar sampai pembesar menikahi perempuan yang sederajat dengannya.

Kehidupan gadis pantai berubah saat ia tinggal di rumah besar Bendoro. Ia tidak boleh bekerja maupun ke dapur, berbeda dengan kehidupannya di kampung dimana membantu ibu di dapur dan sering memperbaiki jala yang rusak. Awalnya ia tidak tahan dan mengeluh ingin pulang ke rumah orangtuanya. Lambat laun gadis pantai mulai terbiasa menjadi ‘wanita utama’ yang memerintah para bujang (sebutan untuk pelayan) dan mematuhi perintah Bendoro.

Pernikahan itu mulanya memberi suatu kehormatan baginya karena dipandang telah naik derajatnya di kampung halamannya. Nyatanya, gadis pantai kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari suaminya. Bendoro sering pergi jauh dan tidak pulang karena urusan pekerjaannya. Beragam pikiran negatif tentang suaminya namun apa daya gadis pantai tidak boleh berharap apa-apa.

Lika-liku kehidupan di rumah pembesar gadis pantai hadapi sendiri. Mulai dari tamu-tamu Bendoro yang ke rumah tapi tidak boleh diterima olehnya dan tidak dikenal hingga seorang pelayan baru bernama Mardinah yang diutus Bendoro Putri Bupati Demak untuk menghabisi gadis pantai agar bisa menikahi Bendoro.

Pada usia enam belas tahun, gadis pantai hamil dan melahirkan seorang anak perempuan. Saat bayinya berusia tiga bulan, nasib malang menimpa gadis pantai. Ia diceraikan oleh Bendoro dan diusir dari rumah besar dengan kejam. Bendoro juga memisahkannya dengan sang bayi yang akan diasuh oleh para bujang di rumah pembesar. Dalam perjalanan pulang ke kampung bersama bapaknya, gadis pantai memutuskan untuk tidak pulang dan berbelok ke Blora.

Novel ini memperlihatkan praktek feodalisme Jawa yang tidak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan dimana status sosial menjadi perbedaan yang mencolok. Budaya patriarki atau kekuasaan juga terlihat dalam novel ini dengan adanya penindasan dan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Karakter tokoh dan latar waktu maupun tempat pada roman Gadis Pantai digambarkan dengan baik oleh Pram sehingga membuat pembaca terbawa suasana saat itu.

 

Peresensi: Rarasati Anindita