Published On: Wed, Apr 22nd, 2015

Kartini Riwayatmu Kini

Oleh: Dwi Retnaningtyas

Diciptakan alam pria dan wanita
dua makhluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
adapun wanita lemah lembut manja

Wanita dijajah pria sejak dulu 
dijadikan perhiasan sangkar madu
namun ada kala pria tak berdaya
tekuk lutut di kerling wanita

 

Media Publica – Petikan lagu dari seniman besar Ismail Marzuki ini mampu menggambarkan bagaimana perempuan terkonstruksi peranan dan posisinya dalam kehidupan. Pria berkuasa dan perempuan tercipta untuk menjadi lemah, lembut dan manja. Suatu kondisi di mana pada akhirnya dalam lagu ini diceritakan bagaimana perempuan menjadi perhiasan cantik para pria pada masa itu. Masa di mana perempuan berjuang dengan keterpaksaannya pada budaya, takdir dan tuntutan.

Kartini sebagai perempuan dengan keberuntungan sepertinya tidak ingin sendiri menjadi hebat di antara kaumnya. Kegelisahannya akan budaya, takdir dan tuntutan yang dilihat, bahkan dialaminya ini mampu membuatnya tergerak menjadikan kaumnya setahap melangkah maju demi nantinya, suatu saat nanti, perempuan dapat menyamakan ritme langkah kaum lawan.

Bukan tidak mungkin bila perempuan kala itu enggan beranjak dari kepasrahannya terhadap norma yang terkonstruksi begitu lama. Bukan tidak mungkin bila perempuan kala itu membiarkan dirinya terus menerus membiarkan dirinya terkurung dalam ungkapan ‘yen awan dadi teklek, yen bengi dadi lemek’ (ketika siang menjadi sandal, bila malam tiba menjadi selimut penghangat).

Artinya bukan hanya Kartini yang berjuang kala itu. Bukan tidak mungkin perempuan-perempuan hebat pada masa itu tidak memaksa dirinya untuk berontak pada keadaan. Perempuan-perempuan hebat itu turut berjuang atas sepatu hak tinggi membawa Kartini masa kini mampu berjalan bersampingan dengan para pria.

Emansipasi sebagai istilah yang menggambarkan usaha untuk mendapatkan persamaan derajat pada kaum perempuan di Indonesia muncul pada masa yang tertinggal. Namun, keberanian dan ketaatan yang dicontohkan kala itu membuat emansipasi nampak begitu berharga untuk dipertahankan. Hal itu pula membuat perempuan masa kini bertugas amat berat menjaga amanat.

Walau tidak dipungkiri, Kartini masa kini sebagai sosok perempuan yang mampu mandiri dan dinamis pun hanya mampu terlepas pada batas gaya hidup, intelektualitas dan kuasa. Mampu mengenyam bangku pendidikan, mampu bekerja dalam satu meja dengan pria, bahkan memimpin pria yang dulu, pada masa Kartini dan perempuan hebat itu, menguasai perempuan, baik tubuh hingga intelektualitas.

Namun, sosok Kartini yang sehebat kini pun rasanya belum mampu melawan rasa hormat dan kepercayaannya akan budaya yang begitu tinggi. Kartini kini justru memiliki banyak tugas berat. Di atas nama emansipasi dan di bawah norma, serta budaya, perempuan kini harus mampu berjuang mempertahankan posisinya di masyarakat dan menjaga kodratnya sebagai seorang perempuan yang hakiki. Menjadi apapun dalam pekerjaan dan pendidikan, namun juga harus bisa menjadi ibu, istri dan anak perempuan dalam satu waktu.

Batas yang kini hampir tidak ada, emansipasi yang membuat kesetaraan makin jelas terlihat ini baiknya menjadi celah bagi perempuan untuk tetap berjuang demi dirinya sendiri dan membuat Kartini dan para perempuan hebat kala itu tersenyum senang memandang benih yang dulu mereka tanam kini mulai subur tumbuhnya. Walau tanpa meninggalkan kodrat sebagai perempuan yang penuh kasih atas keluarga dan cintanya atas titipan Tuhan, Kartini pada masa ini membuktikan bahwa perjuangan Kartini dan para perempuan hebat itu tidak sia-sia.