Published On: Sat, Mar 21st, 2015

Sastra Lisan dan Cerita Rakyat Kian Memudar Gaungnya

Oleh: Rati Prasasti

 

Legenda Jaka Tarub merupakan salah satu cerita rakyat diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.

Legenda Jaka Tarub merupakan salah satu cerita rakyat diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.

Media Publica – Cerita rakyat Indonesia begitu sangat beragam. Setiap daerah mempunyai cerita rakyat yang berbeda-beda. Cerita tersebut berupa legenda, cara hidup, budaya, ataupun kebiasaan. Cerita-cerita tersebut dimaksudkan untuk membagikan ilmu pengetahuan juga berguna untuk membangun anak-anak penerus Bangsa Indonesia. Cerita Rakyat disukai oleh banyak anak dan juga orang tua. Metode untuk memperkenalkannya pun sangat beranekaragam. Mulai dengan menceritakannya secara lisan, membelikan buku cerita rakyat, dan seringkali melalui metode audio visual dengan cara membelikannya DVD.

Sebelum akrab dengan televisi, rakyat Indonesia cukup akrab dengan memperoleh informasi, pengetahuan, hiburan dari mulut ke mulut atau dengan komunikasi lisan. Komunikasi lisan tertuang dalam begitu banyak cerita. Sebelum adanya sarana hiburan yang begitu banyak seperti ini. Orang tua pada zaman dahulu biasanya akan mengajak anak-anak mereka mendengarkan orang tua atau orang-orang yang dituakan yang sedang bercerita. Sastra daerah umumnya bersifat lisan berkembang secara turun menurun sesuai dengan isi dari sejarah di suatu daerah tersebut. Cerita yang dikembangkan melalui lisan adalah bagian dari sastra yang berkembang. Seperti legenda Laksamana Hang Tuah, Ketobong Sakti, Putri Kaca Mayang, Putri Tujuh dan masih banyak lagi.

Cerita rakyat yang sering menyajikan cerita yang luar biasa, dengan tokoh yang luar biasa pula mempunyai banyak kegunaan dari cerita tersebut, yaitu dapat menyajikan alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial dan proyeksi atas keinginan terpendam. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam sebuah ide yang besar atas buah pikiran luhur, pengalaman berharga, pertimbangan luhur tentang sifat-sifat yang baik dan buruk serta pandangan kemanusiaan.

Sastra lisan atau cerita rakyat juga merupakan salah satu bentuk aset kebudayaan nasional yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya, aspek komunikasi untuk memperkenalkan cerita rakyat sangat berpengaruh agar menjadikan seseorang tahu seluk beluk mengenai sejarah dan cerita yang berkembang pada saat itu. Pernyataan tersebut didasari bahwa sastra lisan sebagai sastra tradisional yang menyebar di daerah-daerah merupakan bagian kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah dan berkembang secara turun-temurun secara lisan sebagai milik bersama (Fachruddin, 1981:1). Berdasarkan uraian tersebut, dapat diterima jika ada anggapan bahwa sastra lisan memiliki kandungan nilai-nilai sosial, kultural, religi yang tinggi serta dimiliki oleh masyarakat penuturnya.

Rusyana (1978:1) mengatakan, sastra lisan merupakan kekayaan budaya, khususnya kekayaan sastra sebagai modal apresiasi sastra. Sebab sastra lisan telah membimbing anggota masyarakat ke arah apresiasi dan pemahaman gagasan berdasarkan praktik yang telah menjadi tradisi berabad-abad. Sastra lisan merupakan dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat. Hal ini berarti, karya sastra, khususnya sastra lisan, akan mudah dipahami dan dihayati, sebab ada unsur yang lebih mudah dikenal di masyarakat. Untuk itu, perlu upaya memberikan pemahaman agar generasi belia tidak mengalami kealpaan terhadap kebudayaannya. Salah satu bentuk upaya memelihara tradisi itu dapat dilakukan dengan mengaktifkan kembali sastra lisan melalui kelas mendongeng. Mengingat melalui mendongeng yang disampaikan dengan cara-cara unik dan kreatif akan memberikan pengetahuan kepada calon generasi penerus budaya.