Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Media Publica – Hari Down Syndrome yang jatuh pada tanggal 21 Maret ini mengingatkan kita bahwa pentingnya berbagi perhatian dan kasih sayang kepada penderitanya sebagai sesama makhluk hidup. Selain itu penting juga bagi kita untuk mengetahui bagaimana gejala dari down syndrome.

Disamping itu, anggapan down syndrome dengan autis yang dipandang sama oleh masyarakat sebenarnya juga tidak kalah pentingnya untuk kita pelajari lebih dalam. Bahwa, sebenarnya kedua hal tersebut sangat berbeda penyebabnya.

Down syndrome sendiri sudah diketahui sejak tahun 1866 oleh Dr. Langdon Down dari Inggris. Down syndrome merupakan kelainan kromosom yang diderita oleh anak sejak dalam kandungan. Penyebab kelainan genetik ini diakibatkan oleh lebihnya kromosom 21 yang diduga terjadi akibat non-disjunction, yaitu proses dua buah kromosom pada pembelahan sel gamet (meiosis), yang secara normal mengalami segregasi menuju kutub yang berlawanan (pembelahan ekual), tetapi menjadi abnormal dikarenakan pergi bersamaan menuju kutub yang sama.

Gangguan pembelahan meiosis tersebut juga berhubungan dengan usia ibu hamil saat pembuahan (konsepsi) sehingga menyebabkan pembentukan meiosis dengan jumlah kromosom yang tidak normal. Sementara itu penyebab genetik dari down syndrome ialah salah satu kromosom 21 mengalami translokasi atau menempel pada kromosom lain.

Di negara maju, upaya pencegahan kelainan genetic ini dilakukan dengan pemeriksaan kromosom rutin yang dilakukan sebelum bayi lahir dengan diagnosis prenatal. Biasanya diagnosis tersebut dilakukan dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG), serum darah tertentu dan hormon ibu hamil yaitu Alfafetoprotein (AFP), Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Estriol (UE3). Pemeriksaan dilakukan kepada Ibu yang berusia lebih dari 35 tahun dan diperkirakan akan melahirkan bayi down syndrome, akan dilakukan pengambilan cairan ketuban atau sedikit bagian dari plasenta pada minggu ke 8-15 kehamilan.

Sementara itu, autis merupakan kelainan neuropsikiatrik dan gejalanya dapat terlihat pada umur tiga tahun sejak kelahiran anak. Kelainan ini dapat dikenali dengan gangguan sosial dan komunikasi yang kurang baik oleh penderita. Penderita cenderung tidak memerhatikan lingkungan sekitarnya, lalu berkomunikasi dengan cara yang mengulang-ulang (ekolalia). Selain itu juga memiliki keterbatasan dan pengulangan pola dalam tingkah laku serta perhatian, yang lebih dikenal dengan mal adaptif.

Penyebab autis sendiri bisa dipengaruhi oleh faktor genetik atau pengaruh lingkungan, diantaranya penyakit infeksi dan bahan-bahan tercemar sejak dalam kandungan seperti logam berat dan multifaktorial yang berasal dari genetik maupun lingkungan.

Perlakuan terhadap penderita autis dan down syndrome juga terdapat perbedaannya. Bagi penderita down syndrome, jangan lupa untuk rutin berkonsultasi kepada dokter. Biasanya, penderita down syndrome cenderung memiliki penyakit jantung bawaan, kelainan otot, masalah pendengaran, penglihatan maupun penyakit kanker sel darah putih atau leukimia.

Sementara itu bagi penderita autis, jauhkan mereka dari hal-hal yang bisa membuat mereka marah, misalnya warna, suara atau bau yang membangkitkan rasa sensitif mereka. Jauhkan juga dari hal-hal negatif, misalnya meniru perilaku dari tayangan televisi, karena penderita autis cenderung meniru hal-hal yang mereka lihat tanpa menyaringnya kembali. Jangan pula menuntut anak untuk beradaptasi atau mengenal lingkungan baru, biarkan penderita menjaga jarak dan memiliki lingkungannya sendiri. Penderita autis tidak dapat menerima instruksi verbal, maksimalkan kemampuan mereka dengan rangsangan berupa gambar, lalu terapkan pola belajar melalui hal yang disuka. Misalnya penderita menyukai gambar mobil, maka ajarkan membaca dan berhitung dengan menyisipkan gambar mobil.

Kesamaan perilaku kita terhadap penderita autis dan down syndrome terletak pada beberapa hal, yakni maksimalkan perhatian dan rasa kasih sayang kita terhadap mereka, perdalam sesuatu hal yang berkaitan dengan autis maupun down syndrome, mengenali bakat mereka dan fokuskan kepada apa yang mereka inginkan. Penderita autis dan down syndrome juga butuh lingkungan luar, maka dari itu ajak penderita untuk bergabung dengan teman lainnya, baik dalam komunitas maupun sekolah khusus yang menangani penderita autis atau down syndrome.

Reporter: Dianty Utari Syam

Editor: Rarasati Anindita

2,714 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.