Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Media Publica – Timbulnya berbagai penyakit yang muncul ketika musim penghujan seperti diare, flu, penyakit kulit bahkan yang paling berbahaya yaitu demam berdarah atau dikenal dengan DBD, menjadi sesuatu yang seharusnya mendapat perhatian khusus bagi masyarakat. DBD merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dengan cara menggigit manusia sehingga virus yang terkandung pada air liur si nyamuk akan berpindah dan menularkan ke penderita.

Penderita DBD pada awalnya akan mengalami demam, sakit kepala, nyeri di persendian dan yang paling mudah terlihat adalah munculnya bintik-bintik kemerahan pada beberapa bagian tubuhnya. Mengapa DBD bisa sampai membahayakan jiwa seseorang? Pertama, DBD dapat menyebabkan pendarahan, kebocoran pembuluh darah dan rendahnya tingkat trombosit darah sehingga  menyebabkan darah membeku. Kedua adalah sindrom renjat dengue sehingga akan menyebabkan tekanan darah rendah yang dapat berbahaya bagi kesehatan si penderita.

Penyakit demam yang satu ini memang seharusnya perlu perhatian khusus setiap saat, tak hanya ketika musim hujan tiba saja. Nyamuk biasanya bertelur pada air yang menggenang. Oleh karena itulah ketika musim penghujan, nyamuk betina bebas bertelur dimana saja, lalu telur menetas menjadi jentik-jentik dan kemudian nantinya menjadi nyamuk dewasa jumlahnya akan berlipat ganda. Siklus hidup nyamuk dari mulai telur hingga nyamuk dewasa adalah antara 7-10 hari.

DBD bisa dicegah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSM) yaitu 3M yaitu Menguras penampungan air dan membersihkannya, Menutup tempat penampungan air untuk mencegah nyamuk bertelur, yang terakhir adalah Mengubur barang-bekas yang memiliki potensi dapat menjadi tampungan air seperti kaleng-kaleng bekas. Gerakan 3M tersebut harus dilakukan secara berkala, bukan hanya ketika musim penghujan datang. Selain 3M, cara yang dilakukan untuk menanggulangi wabah penyakit DBD adalah dengan melakukan penyemprotan insektisida (Fogging) yang dilakukan di beberapa area yang diduga menjadi sarang dan penyebaran si nyamuk yang berwarna belang putih hitam tersebut.

“Karena daerah kita merupakan daerah endemis pada DBD, jadi gerakan tersebut harus dilakukan secara berkala. Lalu ketika sudah ada penderita, baru dilakukan fogging. Selain itu kita juga harus ada Jumat bersih atau Minggu bersih secara berkala untuk mencegah wabah DBD,” jelas dr. H. Mohamad Subuh, MPPM selaku Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan saat dihubungi Media Publica, Selasa (17/02).

Sebelumnya memang pencegahan yang dilakukan hanya sebatas gerakan 3M dan fogging, namun sekarang sedang diadakan uji coba vaksin untuk pencegahan DBD diharapkan dapat lebih efektif. Ada empat jenis dari kuman DBD tersebut yaitu The Dengue Virus (DEN) 1-4, dan di Indonesia lebih banyak terdapat virus DEN 2 dan DEN 3. Uji coba vaksin yang sedang dilakukan baru sebatas sampai DEN 1, dan akan terus ditingkatkan hingga terdapat vaksin untuk semua DEN yang ada.

“Vaksin yang baru ada itu hanya baru ada DEN 1-nya, sehingga bila diterapkan di Indonesia belum efektif. Makanya kita masih terus mengadakan uji coba hingga bisa diterapkan di Indonesia. Dengan Community Riset (masyarakat), Clinical Riset (pasien) dan Laboratorium Riset yang membutuhkan waktu sekitar dua tahun,” tutup dr. H. Mohamad Subuh, MPPM.

Reporter: Rizky Damayanti

Editor: Rarasati Anindita

 1,313 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.