Published On: Sat, Feb 7th, 2015

Keraguan (Bagian 2)

*Oleh: Dimas Mahendra

“Ini, dari mana? Kamu dapet ini dari mana?” tanya Dera dengan ekspresi marah yang tertahan, sembari mengeluarkan kalung dari tas Gina

“A…a…aku gak tau. Itu bukan punya aku sayang,” Gina pun terkaget.

“Bohong! Jujur sama aku!” Dera pun semakin menahan marahnya.

“Sumpah, that’s not mine” Gina pun semakin takut dengan ekspresi kekasihnya itu.

“Serius banget. Enggak kok, ini emang punya kamu, tapi dari aku, sayang” Dera berhasil membuat kekasihnya tertekan

“Kamu, ya! Kebiasaan banget acting sampe segitunya!” kini Gina yang marah

“Udah jangan marah, ini buat kamu”

“Pakein lah! Gak romantis banget sih lu” jawab Gina sembari gaya membuang muka

Dera yang romantisnya memang tak terduga, menuju belakang Gina untuk memakaikan kalung itu.

“Kamu ada aja ya kerjaannya. Tapi serius ini buat aku?”

Of course

Gina pun tersenyum indah, persis yang Dera suka.

“Makasih ya, sayang” Gina pun sembari memeluk Dera

“Sama-sama, sayang. Everything for you” jawab pria berjas itu

“Aku juga mau kasih tau sesuatu, tapi jangan marah, ya” Gina pun akhirnya membuka omongan penting malam itu

“Apa, sayang?” Dera pun panik mendengar ucapan itu

Gina mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya, dan memberikannya kepada Dera. Sesaat saja, Dera selesai membaca, dan langsung menatap tajam kekasihnya itu. Gina pun merasa berantakan, antara lega karena sudah bisa jujur, dan takut Dera tidak bisa Long Distance Relationship.

“Kok baru bilang? Tanggalnya ini bulan lalu, kenapa baru ngasih tau?” tanya Dera

“Aku takut, Der. Aku takut kamu keberatan dengan semua ini, dengan apa yang kita hadapin” Gina pun menjawab dengan terbata, sembari menundukan kepalanya.

“Hei, ini impian kamu kan? Berangkat, ya. Jangan sia-siain kesempatan ini” kata Dera sembari menyentuh dagu Gina hingga menatap matanya

“Kamu gak marah? Kamu rela jalaninnya, dengan kondisi yang kamu gak suka?”

“Kamu tau aku gak suka itu dulu. Beda jaman beda perspektif, sejak aku milik kamu”

“Aku, aku bingung harus berterima kasih gimana sama support kamu. Aku sayang kamu, Der” pelukan hangat Gina menyentuh jiwa Dera

Semua ini karena kamu, sayang, demi kamu. Aku akan lakuin yang terbaik buat kamu, yang selalu ngasih yang terbaik buat aku, ucap Dera dalam hati.

Setelah kepergian Gina ke Amsterdam, untuk keperluan kantornya, selama beberapa bulan awal, Dera masih intensif berkomunikasi dengan Gina. Namun setelah beberapa bulan akhir, Dera terasa sibuk dan seperti tidak peduli kepada Gina.

“Kamu lagi sibuk, ya, sayang? am I disturb?” tanya Gina dalam SMS-nya

“Iya, sayang. aku lagi repot nih. Nanti aku kabarin lagi ya” jawaban Dera pada Gina

“Jangan kecapean, sayang. Aku gak mau kamu sakit” Gina pun membalasnya lagi

“Iya, makasih ya” tutup Dera

Sesaat, Gina merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya. Pikiran buruk pun melintas dikepala, entah Dera mempunyai selingkuhan, atau malah Dera kembali ke kehidupan lamanya, yang negatif. Ya, Dera pernah masuk kedalam dunia yang kelam itu. Gina takut kekasihnya itu kembali tak terkontrol, yang membuat Dera kembali kekehidupan lamanya. Pertanyaan itu terus terlintas difikirannya. Ditambah dengan teman Dera di penerbitan adalah mantan pacar Dera. Hingga pada hari kepulangannya, Gina kembali memberikan kabar bahwa dirinya sudah di bandara, meski Dera bersedia menjemput Gina saat tiba di tanah air, namun jawabannya tetap singkat. Gina pun mencoba positif thinking pada lelaki tersayangnya itu. Ia hanya berharap segera bertemu dengan kekasihnya itu, dan bertanya langsung apa yang sedang terjadi dengan dirinya.

Sesampainya di Jakarta, Gina pun dijemput kekasihnya itu. Tak banyak perbincangan didalamnya, muka Dera pun terlihat jauh lebih letih dari biasanya.

“Kamu capek banget, ya, Der? Kalau emang capek, harusnya bilang, biar aku naik taksi aja tadi. Mata kamu udah jadi mata panda tuh,” tanya Gina pada Dera.

“Enggak kok, biasa aja capeknya. Tapi aku langsung pulang ya nanti, aku mau kamu langsung istirahat soalnya,” jawab Dera.

“Loh, gapapa, Sayang. Ngopi dulu aja,” pinta Gina.

“Gak usah. Udah, ya, jangan ngelawan. Ikutin perkataan aku, aku lagi gak mau dibantah,” Dera pun menegaskan ucapannya.

Gina pun terdiam, dan semakin bertanya, apa yang terjadi dengan kekasihnya itu. Beberapa hari setelah itu, Dera pun mengajak Gina bertemu di café, seperti biasa, yang tidak seperti biasa, café itu sepi. Gina merasa ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya, Gina takut Dera benar telah melupakan kisahnya bersama.

“Sayang, aku mau minta maaf, ya. Selama beberapa bulan terakhir, aku berubah sama kamu dan aku sadar itu. Dan sekarang, aku mau jujur, apa yang sebenarnya terjadi,” Dera pun membuka omongan.

Ketakutan Gina makin menjadi, terlebih Dera mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya pada Gina tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya isyarat untuk membuka, yang dilakukan Dera.

Gina pun membuka amplop tersebut yang ternyata adalah sebuah undangan. Awalnya, Gina mengira bahwa itu adalah undangan Dera dengan wanita lain. Namun semua keraguannya selama ini, lenyap seketika, saat ia membaca nama di undangan tersebut adalah ‘ALDERA PUTERA & GINA SOEPRATMAN’.

“Der, ini semua, apa?” Gina pun terkaget, hingga sulit mengeluarkan suaranya.

“Iya, saat aku ngasih kalung waktu itu ke kamu, aku mau ngajakin kamu ngurus ini semua. Tapi saat kamu ngasih kabar buat pergi ke Amsterdam, aku berfikir, harus aku lakuin sendiri, dan ini, DEMI KITA”, jawabnya.

“Tapi, kok, kamu…” pertanyaan Gina yang langsung dipotong Dera.

“Aku apa? Yakin? Aku udah bilang sama Papa Mama kamu kok, juga Ka Restu. Dia udah izinin aku untuk menyunting kamu. Semenjak aku agak berubah, disitu aku udah mulai sibuk, nyiapin semuanya. Kita Cuma nunggu kamu pulang, untuk lamaran, dan persiapan akhir resepsi kita. Ya, dengan dana yang aku punya, aku cuma mikir untuk ngundang kerabat dan keluarga aja. Seperti impian kamu, we do garden party. Dan satu kejutan lagi,” Dera mengeluarkan ID Card dari sakunya.

“Aku udah jadi karyawan tetap di penerbit itu,” lanjutnya.

Tanpa mengeluarkan sedikit pun suara, Gina langsung memeluk erat tubuh Dera sambil menangis terharu. Dera pun mencoba melepaskan pelukan itu saat waitress datang. Dera pun mengambil sesuatu yang dibawa waitress tersebut, lalu setengah berlutut dihadapan Gina.

And for the last time. Will you marrie me, darl?” tanya Dera didepan Gina sambil mengeluarkan cincin.

Gina yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi dengan semua kejutan ini pun, hanya mengangguk sambil tersenyum menatap kekasihnya itu, saat itu juga Dera memakaikan cincin tersebut ke jari Gina. Tanpa disadari Gina, café yang awalnya sepi saat dia datang, sudah ramai dan bertepuk tangan untuk mereka berdua. Ditambah pengunjung itu adalah sahabat-sahabat dekat dari Gina dan Dera. Gina pun semakin bahagia malam itu, tak pernah terbayang dalam hidupnya akan mendapatkan ini semua.

Akhirnya di hari bahagia itu, mereka berdua menikah. Keduanya terlihat sangat bahagia, terlebih Gina, yang merasa Dera memang pantas untuk dirinya. Gina yang tau Dera pernah hidup dalam lingkup kelam, selalu berfikir bahwa Dera pasti bisa jauh lebih baik hari ke hari, seperti yang pernah Dera ucapkan,

Hidup Itu Gak Akan Pernah Stay Di Satu Titik, Pasti Akan Terus Berubah Ke Arah Yang Lebih Baik.

*Penulis adalah mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2011