Published On: Thu, Feb 5th, 2015

Keraguan

*Oleh: Dimas Mahendra

“Kamu tau, apa yang paling aku benci?” tanya seorang pria kepada wanita dihadapannya itu.

“Apa?” wanita itu terlihat bingung.

“Aku benci saat seperti ini, saat punya banyak deadline, tapi trouble malah menghampiri, yang gak izinin aku nemuin jalan keluar” pria itu pun menundukan kepalanya yang ditahan tangannya.

Wanita itu pun tersenyum, seraya memeluk pria tersebut.

“Kamu punya Tuhan, kan? Udah berapa lama kamu gak sholat? Mendingan kamu sholat. Abis gitu, minta petunjuk sama Allah” suruh wanita berbadan mungil itu.

Pria tersebut pun tak mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia malah menjatuhkan bulir-bulir bening yang makin deras dari matanya. Kedua tangan pria itu pun saling menggenggam, semakin keras. Terlihat pria ini menahan amarah yang menyelimutinya.

“Kamu tau, apa yang paling aku benci?” wanita itu balik bertanya pada pria itu dan pria itu pun hanya menggeleng, “Saat seperti ini, saat kamu yang harusnya bisa jauh lebih kuat dari aku, tapi selalu lemah hanya karena masalah sepele, sampai lupain agama. Gak sepatutnya seperti ini, Sayang. Kamu yang bilang kan, Kegagalan Bukan Alasan Untuk Menyerah. Inget gak?”.

Mereka berdua adalah sepasang kekasih bernama Dera dan Gina. Sudah 2 tahun mereka merajut hubungan asmara. Dera yang bekerja mengandalkan kreatifitasnya, dan Gina dengan ilmu yang pernah dipelajari semasa belajar formal. Dera sudah mampu berkreasi dalam lirik-lirik lagu dan aransemen yang dibuatnya, juga mengeluarkan kata-kata ajaib dalam tulisan novel atau cerpennya. Sedangkan Gina, seorang yang ulet belajar, mampu mengambil beasiswa dikantornya sehingga mendapatkan gelar S2-nya.

“Kamu berkali-kali ajarin aku tentang bagaimana bertarung melawan hidup yang kejam, tapi kamu sendiri malah lemah seperti ini. Lihat ini semua, coretan-coretan kamu di dinding ini, apa gunanya kalo kamu gak bisa ngelakuinnya?” Gina terus mendorong semangat Dera untuk bangkit “Der, sekuat apapun aku support kamu, tapi semua itu tetap ada di hati kamu, kamu yang tentuin ini semua” lanjutnya.

Dera pun menatap mata kekasihnya itu dengan sangat dalam, lalu berdiri dan hanya mengucapkan “Tunggu disini sebentar, ya” dan ia pun keluar dari kamarnya.

Gina pun mengikuti instruksi Dera, ia pun tiduran dikasur Dera sambil memikirkan harus memotivasi pacarnya itu seperti apa lagi. 5 menit tak kembali, akhirnya Gina pun keluar kamar, mencari tau apa yang sedang dilakukan pria kesayangannya itu.

“Ya Allah, ampunilah dosa hamba-Mu ini. Makhluk hina yang cuma bisa ngeluhin nikmat yang Kau beri. Terima kasih telah mengirimkanku seorang wanita yang sangat menyayangiku, selain ibuku. Jagalah ia, jauhkan ia dari bahaya, dan kuatkan ia untuk tetap berada disamping hamba-Mu ini, Ya Allah” Dera memohon kepada Sang Pencipta beralaskan permadani surga dan kain halus yang menutupi aurat dari perut hingga mata kaki.

Gina pun tersenyum, sambil menitikan airmatanya dibelakang Dera. Ia tau, Dera mampu membimbingnya ke Surga. Dan Gina pun kembali kekamar Dera, seperti tidak tau apa-apa.

Dera kembali kekamarnya, melihat gadis yang disayanginya sedang memejamkan matanya dikasurnya. Lalu ia duduk disamping kasur, sambil membelai tangan halus gadisnya itu, dan mencium tangannya.

“Maafin salah yang pernah aku buat ya sayang. Makasih kamu terus ada disamping aku, terus kasih aku dorongan untuk jauh lebih baik dari yang pernah aku lewatin” ucap Dera.

“Iya, Sayang. Kamu kan yang ajarin, harus selalu ikhlas. Kalau mau makasih, makasih sama Allah, karena Ia lah yang nguatin aku sampe sekarang buat kamu” Gina pun duduk dihadapan Dera.

“Aku fikir kamu tidur. Hmm…” Dera pun speechless, “Makasih ya, Sayang” Dera pun memeluk tulus dari Gina.

Mereka akhirnya memutuskan mencari angin segar malam itu, dan mobil Lancer Evo hitam itu pun berhenti di sebuah taman yang tidak banyak pengunjungnya karena perkiraan cuaca bilang akan turun hujan malam itu.

“Disini, ya, Love? Aku mau cari tenang sama kamu” tanya Dera kepada sang kekasih.

Everything makes you better, I’ll do, Darling” jawab Gina.

Pelukan hangat Dera buat Gina makin merasakan kasih sayang dari Dera. Namun, perasaan Gina ada yang mengganjal. Sebuah tugas kantornya yang akan membuat kisah mereka lebih tertantang. Dan Gina pun mencoba untuk mengungkapkan itu kepada sang kekasih.

“Der…” ucap Gina.

“Apa sayang? Kamu haus ya? Oh iya, aku lupa. Maaf ya sayang, kamu tunggu disini sebentar, I’ll be back” jawab Dera dengan spontan karena sedang memandang wajah kekasihnya dengan serius.

Tak lama, Dera pun kembali dengan satu buah plastik ditangannya.

“Ini, minuman kesukaan kamu. Dan ini, cemilan kita malam ini ya” tukas Dera.

Gina tertegun dengan kesigapan Dera, membuat ia mengurungkan niatnya.

“Makasih ya, Der” ucap Gina dengan senyum manis, favorite Dera.

Everything for you, Love” jawab Dera dengan sangat manis, namun ekspresi mukanya membuat Gina tertawa.

Mereka pun akhirnya membunuh malam itu dengan gelak tawa dari candaan dan cerita-cerita konyol mereka berdua. Waktu pun memaksa mereka untuk kembali pulang.

2 minggu kemudian, Gina memutuskan untuk berterus terang akan apa yang dihadapinya bersama Dera. Dan Gina pun mengajak Dera bertemu di café tempat ia bertemu.

“Hai cantik, boleh aku duduk satu meja sama kamu?” tanya Dera dengan gombalannya.

“Maaf, ini buat orang tersayang. Memangnya anda tersayang, sampai berniat duduk disini?” jawab Gina meladeni gombalan Dera.

You’re My Sunshine, and I’m Your Moonlight. With Us, World Is The Best Comfortable Place!”.

Gina pun tertawa lepas melihat ekspresi lucu yang dibuat kekasihnya itu, lagi.

“Kamu telat 20 menit, kamu harus kena hukuman!” tukas Gina.

“Hukuman apa yang akan saya terima, tuan putri?” tanya Dera.

“Abisin makan ini semua” jawab Gina saat waitress datang membawa pesanan Gina, termasuk menu favorit Dera.

“Dengan senang hati kalau gitu, tuan putri”

“Hahaha dasar ya kamu. Yaudah makan dulu, aku laper nih” pinta Gina

Mereka pun melahap hidangan di depan mereka itu sembari bercanda dan bercerita tentang kerjaan mereka. Dan setelah makanan habis, obrolan yang mulai serius, dimulai Dera.

“Gin, boleh aku lihat tas kamu?” pinta Dera dengan muka curiga.

“Buat apa?”

“Udah, aku mau liat aja.”

Gina pun memberikan tasnya karena ia merasa tak ada yang harus ditutupi.

“Ini, dari mana? Kamu dapet ini dari mana?” tanya Dera dengan ekspresi marah yang tertahan, sembari mengeluarkan kalung dari tas Gina

“A…a…aku gak tau. Itu bukan punya aku sayang,” Gina pun terkaget.

“Bohong! Jujur sama aku!” Dera pun semakin menahan marahnya.

Bersambung..

*Penulis adalah mahasiswa Fikom UPDM(B) angkatan 2011