Published On: Tue, Jan 27th, 2015

Endorsement Sebagai Strategi Pemasaran Produk

 Oleh: Dianty Utari Syam*

Salah satu foto yang diposting Raisa dengan mengenakan outerwear dari Cotton Ink di akun Instagramnya. (Sumber: Instagram @raisa6690)

Salah satu foto yang diposting Raisa dengan mengenakan outerwear dari Cotton Ink di akun Instagramnya. (Sumber: Instagram @raisa6690)

Media Publica – Fenomena endorsement saat ini dapat kita rasakan keberadaannya. Tak dapat dipungkiri, dengan meluasnya kegiatan ini, endorsement dapat menjadi salah satu strategi pemasaran yang diandalkan oleh pebisnis, terutama kegiatan dagang yang menggunakan cara pembelian dan pembayaran secara online.

Endorsement sendiri terus berkembang seiring dengan adanya pula perkembangan media sosial. Penggunaan media sosial dirasa efektif oleh para pebisnis untuk mempromosikan kegiatan dagang mereka. Pertimbangan dapat diakses dimana saja dan kapan saja serta jumlah pengguna yang terus meningkat, membuat media sosial dimanfaatkan dengan mengatur strategi dalam mencari peluang dalam berbisnis.

Keefektifan endorsement dalam berbisnis juga sangat dirasakan bagi produk-produk baru agar keberadaan produk tersebut diketahui masyarakat. Jika diperhatikan, di dalam endorsement sendiri mengandung kegiatan komunikasi bisnis karena adanya pertukaran informasi yang dilakukan oleh endorser (orang yang melakukan kegiatan endorsement) terhadap orang banyak.

Menurut Rosenbaltt (1982:7), Komunikasi Bisnis merupakan pertukaran ide, opini, informasi, instruksi dan sejenisnya, yang disajikan secara personal ataupun nonpersonal melalui simbol atau tanda untuk mencapai tujuan perusahaan.

Dari pengertian yang diberikan Rosenbaltt, endorsement menjadi kegiatan untuk pertukaran informasi mengenai produk. Misalnya, saat A (endorser) melakukan endorsement terhadap suatu produk di Instagram. Maka endorser tersebut akan memberi informasi darimana ia mendapatkan produk tersebut, sehingga orang-orang yang melihat dan tertarik akan mencari informasi yang lebih dalam.

Yang paling dapat terlihat jelas bahwa endorsement dilakukan dengan memanfaatkan para pelaku seni hiburan. Biasanya, pelaku bisnis melakukan mapping terhadap calon endorser. Mereka melihat seberapa banyak pengikut atau followers dari target endorser produk mereka. Sebab, sudah pasti dalam melakukan kegiatan bisnis dan jika dikaitkan dengan pengertian komunikasi bisnis menurut Rosenbaltt diatas bahwa endorsement dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan, dimana perusahaan menginginkan adanya keuntungan bagi mereka.

Salah satu contohnya adalah akun sosial media penyanyi Indonesia, Raisa. Ia menjadi endorser untuk produk Cotton Ink lewat akun Instagram miliknya. Raisa melakukan endorsement dengan cara mengunggah foto dirinya sedang mengenakan produk yang bersangkutan. Dari situ pula ia memberi informasi seputar merk baju yang ia pakai serta akun produk pakaian tersebut, sehingga orang-orang yang tertarik untuk membeli dapat mencari informasi melalui akun produk tersebut.

Dari hal itu pula, dapat dilihat bahwa produk pakaian tersebut melirik Raisa sebagai endorser dengan pertimbangan pengikut akun Instagram yang dimiliki begitu pula kecocokan produk yang akan dipakai untuk Raisa. Maka dari itu, tujuan perusahaan pakaian tersebut yakni meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dapat dicapai dengan melakukan kegiatan endorsement melalui Raisa.

Dapat disimpulkan, dengan adanya kegiatan komunikasi bisnis di dalamnya, menjadikan endorsement bagian dari strategi pemasaran produk yang mulai dilirik oleh para pelaku bisnis. Sebab dengan endorsement, produk dapat dikenal dengan mudah oleh masyarakat melalui informasi yang disampaikan oleh endorser. Begitu pula dengan tujuan perusahaan untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya dapat diperoleh dengan mudah melalui kegiatan endorsement.

 

*Penulis merupakan anggota LPM Media Publica