Published On: Fri, Jan 2nd, 2015

Jurnalisme Sastrawi, Seni Menulis Untuk Menarik Hati

Oleh: Ananda Ayu Ratu Kemuning*

Ilustrasi

Ilustrasi

Media Publica – Saat ini masyarakat Indonesia tidak popular akan keberadaan dari Jurnalisme Sastrawi. Kurang akan pengetahuan mengenai adanya Jurnalisme Sastrawi ini banyak dimiliki oleh masyarakat, sehingga ketertarikan terhadap tulisan sastrawi tersebut sangatlah kurang. Pada dasarnya, Jurnalisme Satrawi ini sudah lama berkembang sejak tahun 1960-1970 yang digadangkan oleh Tom Wolfe dengan gerakan New Journalism di Amerika Serikat.

 

Berdasarkan hakikatnya, jurnalisme sastrawi adalah jenis tulisan jurnalistik yang berisikan fakta dengan teknik dan gaya penulisannya menggunakan cara yang biasa dipakai dalam karya sastra, menyajikan jurnalisme yang lebih menarik dibaca, menyentuh emosi pembaca, serta memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai daerah atau tokoh tertentu. Karya sastrawi juga dikenal dengan sebutan literary journalism, narrative reporting, passionate journalism, dan explorative journalism.

 

Jurnalisme sastrawi merupakan genre dalam jurnalisme yang menggabungkan disiplin paling berat dalam jurnalisme, serta kehalusan dan kenikmatan bercerita dalam novel. Dalam pengerjaannya dibutuhkan peliputan yang sangat mendalam, detail, banyak narasumber dan memerlukan waktu yang lama.

 

WaiLan J. To yang bekerjasama dengan Albert L. Hester menulis dan menyunting buku bunga rampai “Handbook for Third World Journalist” (1987) berpendapat, bahwa jurnalistik sastra adalah salah satu upaya dari system pers dalam memperluas ruang lingkup dan keterampilan jurnalistik mereka setelah bergerak ke arah peliputan selidik.

 

Tom Wolfe mengatakan terdapat empat hal yang membuat genre ini berbeda dengan penulisan feature yang biasa dipakai surat kabar di Amerika Serikat pada saat itu

  1. Ia mengandalkan dialog dan adegan dalam tulisannya.
  2. Teknik reportasenya dikenal dengan teknik immerse reporting dimana reporter seakan-akan menyusup dalam cerita yang sedang dikerjakannya.
  3. Reportasenya tak sekedar meliput dua pihak tapi multi liputan
  4. Waktu riset dan wawancara biasanya panjang sekali, bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, agar hasilnya dalam.

 

Dengan banyaknya elemen yang terdapat dalam jurnalisme sastrawi ini yaitu dengan penulisan yang akurat melalui investigasi reporter atau penulis secara mendalam terhadap suatu topik, struktur penulisan yang membangkitkan emosi pembaca, hingga terdapatnya unsur simbolisme dari setiap fakta yang memberikan gagasan yang disusun agar mencapai makna yang mendalam.

 

*Penulis adalah anggota LPM Media Publica