Published On: Sat, Dec 20th, 2014

Seni Mural, Aspirasi dalam Visualisasi

*Oleh: Putri Yanuarti

Media Publica – Berkembangnya zaman saat ini menciptakan banyaknya peluang dan kesempatan untuk para pecinta seni dalam menuangkan karya-karyanya. Seni Mural salah satunya. Mural merupakan seni lukis modern yang mulai mendapat perhatian masyarakat. Kreasi ini mulai banyak menghiasi tembok kota-kota besar.

Banyak yang mungkin bertanya-tanya apa bedanya Mural dengan Graffiti yang sudah lebih dulu dikenal. Perbedaannya mungkin tipis tapi mudah untuk dibedakan. Graffiti merupakan seni lukis berupa tulisan dan menggunakan cat semprot serta tembok yang menjadi medianya. Namun mural bisa menggunakan cat tembok maupun kapur atau apapun yang bisa menghasilkan suatu gambar dan biasanya bukan hanya tembok, tetapi bisa dibuat di media datar baik itu papan maupun aspal jalanan

Mural pada hakikatnya bukan hanya gambar tanpa makna. Mural dianggap menjadi media yang unik untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, termaksud aspirasi si pembuat mural itu sendiri. Menurut Berelson dan Steiner, 1964, yang mengartikan komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain. Melalui simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dan lain-lain. Bagi praktisi  mural, tentu ada pesan-pesan yang ingin disampaikan. Ada pesan yang menonjolkan esthetic (keindahan), dan ada pesan yang  menyuarakan kondisi sosial, budaya, ekonomi dan juga politik.

Salah satu seni mural estetik. (Sumber: ediscoverymap.com)

Salah satu seni mural estetik. (Sumber: ediscoverymap.com)

“Kita buat mural nggak hanya kritik saja,tapi tentang trend yang ada, tentu ada pesan moral juga,sekarang juga sudah mulai banyak wadah untuk kompetisi mural,” ungkap Martua Siadari salah satu praktisi mural Seni Rupa Intitut Kesenian Jakarta (IKJ).

Kreativitas dalam mural selain mengandung nilai estetik untuk memperindah kota, disisi lain  bermaksud mengedukasi masyarakat mengenai keadaan sosial. Mural kini menjadi salah satu media yang efektif sebagai media penyampaian pesan secara visual untuk membangun komunikasi di ruang publik.

Salah satu seni mural yang menghiasi jalanan ibukota memiliki makna tersendiri. (Sumber: Antara)

Salah satu seni mural yang menghiasi jalanan ibukota memiliki makna tersendiri. (Sumber: Antara)

Kritisi masalah sosial

Biasanya hampir seluruh negara memiliki masalah sosial bahkan pada negara maju sekalipun, ada saja hal yang dikritisi baik kondisi negaranya maupun masalah internasional. Mural dianggap menjadi sebuah cara yang dinilai komunikatif dan efektif dalam menyampaikan aspirasi masyarakat, contohnya seperti gambar mural yang menyindir para koruptor dan beberapa permasalahan internasional.

Pesan menurut Vardiansyah, (2004) dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi  adalah segala sesuatu yang disampaikan komunikator pada komunikan untuk mewujudkan motif komunikasinya. Pesan pada dasarnya bersifat abstrak. untuk membuatnya konkret manusia dengan akal budinya menciptakan lambang komunikasi, salah satunya berupa gambar. Karena itu, lambang komunikasi adalah bentuk atau wujud konkret dari pesan.

Artinya komunikasi dilihat sebagai cara ekspresi dalam diri komunikator,yaitu praktisi mural mengkomunikasikan perasaan dan pikirannya lewat karyanya. Melalui pesan yang terbuka, dengan memperhatian kebutuhan atau keinginan orang lain dalam pengertian mendorong dan mengedukasi masyarakat untuk memahami apa yang sedang terjadi lewat sebuah karya dalam mural.

*Penulis adalah anggota LPM Media Publica periode 2014-2015