Aksi yang dilakukan mahasiswa UNAS pada Jumat (12/9) kemarin di kampus UNAS.
Aksi yang dilakukan mahasiswa UNAS pada Jumat (12/9) kemarin di kampus UNAS.
Jakarta, Media Publica – Sejak Juni lalu, gabungan mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) tak henti berjuang menyuarakan aspirasinya meski pihak rektorat UNAS seakan tutup mulut atas semua tuntutan yang dilakukan mahasiswa. Karena hal tersebut, Jumat (12/9) kemarin, gabungan mahasiswa UNAS melakukan aksi dengan melayangkan Tiga Tuntutan Mahasiswa (TRITUMA) kepada pihak rektorat kampus.

Menurut Afif Rahadian selaku anggota BPM UNAS, aksi ini dilakukan oleh mahasiswa terhadap rektorat karena hingga detik ini, pihak rektorat tidak kunjung memberi respon terhadap aksi-aksi yang telah dilakukan sebelumnya dan aksi yang dilakukan ini pun meliputi semua mahasiswa, tidak hanya mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Mahasiswa.

“Aksi ini juga dipicu karena tidak adanya respon rektorat atas apa yang dituntut oleh mahasiswanya. Aksi ini dilakukan oleh semua mahasiswa, jadi ngga dari anak lembaga aja, mereka mengajukan TRITUMA juga di aksi ini,” ujar Afif.

Dengan adanya aksi ini, diharapkan adanya keterbukaan pimpinan kampus tersebut atas segala keputusan yang diambilnya secara sepihak, agar tidak terjadi ke kisruhan di internal kampus.

Senada dengan hal tersebut, Syarief selaku mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut berharap agar adanya sifat keterbukaan oleh rektoratnya dan tidak lagi mengambil keputusan sepihak seperti membekukan lembaga serta UKM yang aktif didalamnya.

“Semoga rektornya terbuka sama kita-kita, biar gak ngerugiin kegiatan bersama kita,” ujarnya.

Sejak dilakukannya penggeledahan di Universitas Nasional (UNAS) menyangkut kasus penggunaan narkoba oleh mahasiswanya, terutama pada instasi internalnya yaitu Lembaga Senat Mahasiswa, maka tercatat empat nama alumni serta mahasiswa aktif yang akan diberikan sanksi Drop Out (DO) secara sepihak oleh rektorat.

Sebelumnya, para pimpinan Lembaga Mahasiswa telah berusaha menemui pimpinan UNAS guna melakukan audiensi untuk meminta kejelasan. Namun, proses audiensi yang diharapkan oleh mahasiswa pada tanggal 26 Juni 2014 tersebut tidak menghasilkan titik temu. Karena kecewa terhadap sikap pimpinan kampus yang tidak mau membuka ruang dialog atau audiensi tersebut, sejumlah mahasiswa akhirnya tersulut emosi dan melakukan pembakaran banner yang merupakan bentuk kekecewaan mereka terhadap kampus beberapa waktu setelahnya.

Adapun TRITUMA yang dilayangkan mahasiswa UNAS tersebut berisikan hal-hal berikut ini:
1. Keputusan Drop Out (DO) dan Skorsing harus ditinjau ulang
2. Cabut pelaporan mahasiswa di Polres Jakarta Selatan
3. Cabut keputusan pembekuan organisasi Intra kampus (SENMA, BPM, dan UKM) dan kembalikan ruang sekretariat yang telah direlokasikan.

Reporter: Ananda Ratu Ayu K.
Editor: Dwi Retnaningtyas

1,165 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.