Brunei Darussalam, Media Publica – Brunei Darussalam akan melakukan perubahan Undang-Undang pidana. Kesultanan Brunei menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menerapkan hukum Islam kepada para pelaku kriminal. Sultan Hassanal Bolkiah akan menerapkan hukum mati berdasarkan syariat Islam dan memperketat penerapannya.

Mekanisme hukuman mati tersebut dengan melului proses rajam. Menurut laporan penerapan hukuman tersebut akan berlaku pada Selasa (22/4) lalu namun terjadi penundaan untuk memberlakukan hukum tersebut. Warga negara yang didominasi muslim itu akan menghadapi peradilan Islam, denda atau penjara jika melakukan perbuatan melawan hukum seperti hamil di luar nikah, tidak menunaikan shalat Jumat dan menyebarkan agama selain Islam.

Fase kedua yaitu hukuman cambuk dan potong tangan hukuman akan diterapkan pada 12 bulan kemudian kepada para pencuri dan peminum alkohol .Hukuman mati, termasuk dengan dirajam, akan dikenalkan pada fase terakhir setahun kemudian untuk pelaku zina, kelainan seksual dan menghina Alquran serta Nabi Muhammad.

Hukum syariah ini juga diberlakukan terhadap warga non muslim. Namun hal itu menimbulkan keprihatian dari para pekerja asing di sektor perminyakan dan puluhan ribu etnis Tionghoa di Brunei serta 30.000 pekerja migran Filipina yang kebanyakan beragama Katolik. Pemerintahan Brunei Darussalam akan menerapkan hukuman rajam juga bagi kaum homoseksual di negara tersebut. Hukuman ini juga akan diberlakukan untuk pelaku zina di negara yang mulai tahun ini menerapkan hukum syariah itu.

Sebelumnya penerapan hukum Syariah diumumkan Sultan Bolkiah tahun 2013. Hukuman ini hanya diberlakukan untuk umat Islam di negara tersebut, yang jumlahnya sepertiga dari populasi keseluruhan 420.000 orang.

Para cendikia muslim Brunei menjamin sistem ini tak akan mengantarkan negeri ini kepada ekstremisme, “tak akan sembaran memotong, merajam atau mencambuk. Ada syarat-syaratnya dan metode-metode yang adil,” kata pakar syariah Awang Abdul Aziz.

Brunei menerapkan hukum Islam demi memberantas kejahatan di mana pada 2000-2008 meningkat sampai sepertiga, sedangkan penangkapan orang karena kejahatan narkotika naik 50 persen tahun lalu dibandingkan tahun 2012.

“Ini karena kami butuh pada Allah yang Mahakuasa, dengan segala kemurahanNya, telah menciptakan hukum untuk kita, sehingga bisa menegakkan keadilan,” kata Bolkiah.

Selain rajam, pidana syariah memuat hukuman potong tangan bagi pencuri. Namun untuk menerapkan hukum ini tidak semudah yang dibayangkan, ada aturan yang ketat. Potong tangan hanya akan dijatuhkan bagi barang curian mencapai senilai atau lebih dari seperempat dinar (4,25 gram emas). Kurang dari itu adalah penjara. Sementara hukum rajam hanya diberlakukan untuk pezina yang telah menikah, dengan dihadirkan empat orang saksi laki-laki yang melihat perzinahan secara langsung.

Sementara itu, pezina yang belum menikah akan dihukum cambuk 100 kali. Hukuman cambuk juga diberikan bagi pengonsumsi khamr atau minuman keras.

Sumber : Antara
Editor : Putri Yanuarti

1,161 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.