black-campaignUsainya Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2014, maka aktivitas dari tim juru kampanye masing-masing kubu yang mencalonkan diri telah bergerak dengan berbagai strategi yang telah dilakukan seperti kampanye terbuka dan silent campaign (kampanye tertutup).

Dengan hal ini dapat dikatakan bahwa perang antar kubu untuk mendapatkan “kursi” tertinggi pemerintahan telah dimulai baik secara sembunyi maupun terbuka. Salah satu cara tidak sehat yang di tempuh adalah Black Campaign atau biasa yang disebut kampanye hitam.

Black Campaign merupakan suatu cara atau perilaku berkampanye yang dilakukan dengan menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut, hingga menyebarkan isu bohong yang dapat menjatuhkan lawannya. Hal ini tentu memiliki tujuan agar masyarakat memiliki persepsi buruk terhadap kubu lawannya dan menganggap hal tersebut tidak etis dalam kebijakan publik.

Jangan heran, bentuk isu kampanye hitam pernah terlontarkan ke Jokowi yang merupakan Gubernur Ibukota DKI Jakarta yang tak lama ini menduduki jabatan tersebut pun pernah mendapatkan isu buruk, seperti pada tahun 2012 tersebar isu dari mulut ke mulut bahwa “Jokowi Tidak Tahu Berwudhu.” Tetapi bagi sebagian umat Islam yang berfikir rasional dapat mengetahui bahwa seseorang yang pernah naik haji tentunya mengetahui jelas bagaimana cara berwudhu, begitu pula Jokowi.

Selain itu, tersebar isu saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta antara Fauzi Bowo atau yang kerap dikenal Foke dengan rivalnya Jokowi, saat itu bereda foto Foke mirip dengan Hitler, begitu juga Jokowi mirip Jenderal Sudirman. Dari Perbandingan ini tentunya pendukung Jokowi ingin mengarahkan persepsi masyarakat bahwa Jokowi sehebat Jenderal Sudirman dan Foke memiliki sistem memerintah layaknya Hitler, yang memiliki sistem otoriter.

Pada dasarnya hal ini tidak memiliki dampak buruk yang besar bagi masyarakat, namun dengan hal ini dapat menjadikan masyarakat tidak lagi memiliki orientasi dalam memilih pemimpin Negara mereka yang dikarenakan oleh isu buruk yang disebarkan oleh mereka para calon kandidat.
Tindakan kampanye yang secara sengaja dilakukan untuk menjatuhkan lawannya dengan menyebar luaskan isu buruk telah memiliki kaitan erat dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam pasal 28 Undang-Undang No. 11 tahun 2008 sebagaimana menyatakan bahwa : “setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak untuk menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA).”

Selain itu, dalam Pasal 270 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah memberikan ancaman pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 24 bulan, dan denda paling sedikit Rp. 6.000.000 dan paling banyak Rp. 24.000.000.
Dengan demikian, bagi masyarakat jangan mudah terpengaruh dengan adanya Black Campaign melalui penyebaran isu buruk para kandidat yang dasarnya disebarkan oleh lawannya juga, pandai lah memilih dengan hasil penilaian tersendiri dan tidak mudah menerima isu buruk dari masing-masing calonnya.

Penulis : Ananda Ratu Ayu Kemuning

 1,604 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.