Jakarta, Media Publica – Komunitas Pecinta Seni Bulungan (KPSB) kembali menggelar Festival Film Pendek Jabodetabeka (FFPJ) di tahun ini. Bertempat di Gelanggang Bulungan, event ini berlangsung sejak 24-29 Maret 2014. Tahun ini merupakan gelaran ketiga FFPJ diselenggarakan setelah pertama kali diadakan pada tahun 2012.

FFPJ hadir sebagai wadah kreatifitas para sineas. Hal tersebut dikemukakan oleh Helmi Gantha selaku panitia FFPJ. Ia mengatakan festival ini sendiri bertujuan untuk menjadi wadah kreativitas dalam bidang seni khususnya film maker indie, ia juga mengungkapkan tidak pernah ada tema khusus dalam gelaran FFPJ.

“Kita bebas tidak ada tema sama sekali, mau seperti apapun bebas, tidak ada sensor, soalnya karya kalo dibatasin jadi jelek hasilnnya,” ujarnya.

Acara ini juga akan dilombakan dalam empat kategori, yakni Film Pendek Terbaik, Cerita Film Terbaik, Poster Film Terbaik dan Video Klip Terbaik.

Rangkaian acara FFPJ dimulai sejak tanggal 24 Maret dengan agenda pembukaan acara dan pameran poster. Dilanjutkan pada hari Selasa hingga Jumat terdapat satu workshop setiap harinya dan ada pemutaran film dan video klip peserta.

Antusias peserta terlihat tidak hanya saat pemutaran film, bahkan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, peserta workshop tahun ini jumlahnya lebih banyak. “Antusiasnya sama-sama besar, cuma untuk workshop alhamdulillah besar. Kalo antusiasnya dari data-data yang lalu, tahun sekarang lebih banyak untuk workshopnya,” lanjut Helmi.

FFPJ 2014 dibuka untuk umum, baik pemula maupun profesional dapat mengikuti festival ini. Tercatat sebanyak 50 lebih karya yang telah dikirimkan peserta dengan ketentuan durasi lima sampai 20 menit telah diseleksi. Sebanyak 48 film lolos dan berhak diputar selama acara berlangsung.

Bentuk apresiasi yang diberikan kepada pemenang lomba film akan diadakan dalam Awarding Night pada Sabtu (29/03) pukul 20.00 WIB. Juri yang berkompeten akan dihadirkan untuk memberi penilaian, seperti Wibowo, BE Raisuli, Kekev Marlov.

Helmi menambahkan sebagai pecinta seni janganlah takut berkarya, karena indie merupakan wujud dari cermin kemandirian para sineas dalam menyalurkan kreatifitasnya.

“Bikin karya tuh jangan takut, karena apa? Kita indie dan kita tidak akan mati, kita tidak ada duit pun asalkan kreatif masih bisa berjalan, yang penting itu semangat,” ungkap Helmi.

Reporter: Putri Yanuarti & Verrel Yudistira
Editor : Dianty Utari Syam

 1,728 total views,  8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.