Ilustrasi (sumber : tempo)
Ilustrasi
(sumber : tempo)
London, Media Publica – Para ilmuwan di seluruh Eropa tengah mengembangkan detektor kebohongan yang akan dipasangkan di media sosial Twitter. Sistem bernama Pheme ini akan menggeledah kicauan pengguna Twitter untuk mengetahui laporan mana yang palsu dan mana yang benar, khususnya untuk keperluan darurat atau bencana alam.

Sistem ini akan menguji informasi dan membaginya menjadi empat kategori, seperti spekulasi, kontroversi, misinformation atau informasi yang salah tapi tersebar, dan disinformasi atau pernyataan palsu yang dibagikan dengan motif tertentu. Hal tersebut dikemukakan oleh Kalina Bontcheva, ilmuwan dari Departemen Teknik University of Sheffield, Inggris.

“Orang-orang mudah sekali percaya pada informasi di Internet. Dalam situasi kritis, mereka sebenarnya memerlukan informasi yang bisa dipercaya yang bisa membantu diri sendiri atau orang lain,” kata Kalina seperti dilansir situs The Telegraph.

Pheme akan bekerja dengan menilai kualitas informasi dan sumber, memberikan bobot berita pada ahli, dan mencari mana yang spam dan palsu. Pheme juga akan melacak latar belakang, sejarah, dan tweet yang mereka bagi oleh akunTwitter tersebut untuk mengetahui aktivitas sebelumnya dan melihat bagaimana mereka berkembang dan narasumber akan diperiksa apakah informasi tersebut bisa dikonfirmasi atau dibantah.

Program ini merupakan hasil kerja sama antara lima universitas di Eropa, seperti Universitas Sheffield, Warwick, King’s College London, Saarland in Germany, dan MODUL University Vienna ini akan siap dalam waktu 18 bulan dari sekarang. Dengan biaya sekira £ 3,5 juta atau sekitar Rp 69 miliar, Pheme diharapkan akan membuat Twitter menjadi sumber informasi yang juga bisa dipercaya karena aktivitas penggunanya cukup tinggi.

Tujuan dari diciptakannya detektor ini adalah untuk membantu berbagai organisasi, termasuk organisasi pemerintah dan jasa layanan darurat, untuk merespon lebih efektif.

Proyek ini sendiri muncul dari riset yang berbasis penggunaan media sosial saat kerusuhan London 2011. Data yang dianalisis meliputi kicauan di KlikTwitter, komentar di forum-forum kesehatan dan komentar publik di Facebook.

Sistem ini juga akan mengklasifikasi sumber informasi untuk menilai keabsahan mereka. Kategori meliputi outlet berita, wartawan, pakar, saksi, masyarakat dan bot, yaitu akun yang secara otomatis mempublikasikan informasi di media sosial.
Nantinya, detektor ini akan menganalisa melalui teks, “hanya teks yang akan dianalisa,” ucap Kalina. “Kami tidak akan melakukan analisa gambar, karena hal itu terlalu sulit secara teknis,” lanjutnya.

Sumber: BBC Indonesia, Tempo
Editor: Dianty Utari Syam

1,096 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *