Jakarta, Media Publica – Indonesia Fashion Week (IFW) 2014 resmi dibuka pada tanggal (20/2) lalu. Salah satu pekan mode terbesar di Indonesia ini membawa tema ‘Local Movement‘ didalamnya. Bukan hanya karya dari para desainer besar, namun beberapa booth menampilkan busana dari kain-kain tradisional, seperti tenun. Salah satu yang menarik adalah booth kain tenun khas Alor.

Booth yang didesain dari rumput alang-alang yang memiliki aroma khas ini menampilkan berbagai rancangan yang terbuat dari kain Tenun Alor. Siapa yang menyangka bahwa warna dari kain yang dipajang ini adalah warna dari tumbuhan dan juga biota laut. Salah satunya adalah kain yang berwarna hijau yang menarik perhatian.

“Warna hijau ini dari daun ketapang,” ujar Sariyat Libana, salah satu pengrajin kain tenun yang didatangkan langsung dari Alor.

Wanita yang disapa Mama Sariyat ini menjelaskan warna hijau ini didapat dari menumbuk daun ketapang hingga halus lalu diberi air secukupnya dan kemudian diperas, seperti membuat santan.Warna dan motif yang khas menjadi salah satu daya tarik kain tenun ini. Biota laut banyak menjadi inspirasi motif dari kain ini, seperti teripang, ikan dan lainnya.

Melihat tenun Alor ini mengingatkan kita kembali bahwa dengan memanfaatkan alam kita bisa menghasilkan suatu karya yang memiliki nilai tinggi. Mama Sariyat contohnya, ia menggunakan alam untuk membuat kain tenun yang bisa dihargai lima ratus ribu rupiah. Wanita asal Alor ini bahkan sudah pernah mendapat rekor dari museum rekor indonesia atas karyanya untuk penggunaan warna dari biota laut.

Namun ia mengharapkan bantuan lebih dari pemerintah untuk mengoptimalkan penjualan kain tenun khas Alor ini belum cukup baik.


Reporter : Mega Pratiwi dan Dwi Retnaningtyas
Editor : Dwi Retnaningtyas

1,002 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *