ilustrasi (sumber : merdekaa.com)
ilustrasi
(sumber : merdekaa.com)
Jakarta, Media Publica – Bencana alam memang memiliki dampak negatif bagi daerah dimana bencana tersebut terjadi. Begitu pula dengan gunung meletus. Tetapi, sebenarnya bencana tersebut dapat diketahui akan terjadi dengan melihat gejala yang ada.

Besar kemungkinan gunung berapi akan meletus ketika magma dalam kondisi panas dan cair. Artinya, jika sebuah gunung berapi terdeteksi memiliki magma cair dalam jumlah besar di dalamnya maka kemungkinan gunung tersebut akan meletus.

Magma di bawah beberapa gunung api paling berbahaya di dunia mungkin relatif dingin dan padat selama lebih dari 99 persen umurnya. Itu membuktikan bahwa gunung api yang menghangat dan mencair menjadi isyarat akan segera meletus.

Jauh di bawah gunung berapi terdapat kamar magma yang sangat luas yang berisi batu cair mendidih. Kamar magma ini terletak pada kerak Bumi yang suhunya relatif dingin, yakni antara 200°C sampai 400°C dan ini membuat para geolog membayangkan apakah gubung api itu benar-benar panas atau tidak.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Cari Cooper dari University of California dan Dr. Adam Kent dari Oregon State University, Amerika Serikat mendasarkan temuan pada penelitian sejarah suhu bagian penampung magma gunung Hood, yaitu gunung berapi aktif setinggi 3.429 meter di pegunungan Cascade, Oregon.

“Saat ini, orang biasanya memonitor gunung berapi dengan cara mencari perubahan dalam temperatur gas atau air, dan juga jumlah gempa, guna mencari tanda bahwa magmanya siap keluar,” ucap Kent.

“Kami mencoba memahami seberapa panas magma saat disimpan, Magma harus bersuhu lebih dari 750 celsius agar kelekatannya cukup rendah, hingga bisa mengalir keluar,” lanjutnya.

Salah satu yang memberi pengaruh besar terhadap proses-proses yang mengakibatkan letusan gunung adalah kondisi penyimpanan magma. Magma yang mendingin, tersimpan di bawah tanah dalam waktu yang lama bahkan terkadang hingga ratusan ribu tahun juga menjadi penyebab utama.

“Ada magma dingin dan kaku terletak sekitar lima kilometer di bawah gunung Hood. Tiba-tiba, magma baru yang lebih panas naik dan bercampur dengannya, memanaskan semuanya, memudahkan patahan-patahan bergerak ke permukaan,” jelasnya.

Pada penelitiannya ini, mereka ingin mengetahui berapa lama magma disimpan di bawah tanah dan berapa lama sepanjang waktu tersebut magma bersifat cukup cair hingga akhirnya bisa keluar.

Mereka meneliti magma beku dari dua letusan Gunung Hood, satu terjadi 220 tahun lalu, dan yang satu lagi 1500 tahun lalu. Mineral utama yang mereka teliti adalah plagioclase, yang merupakan mineral yang paling banyak dimuntahkan gunung tersebut.

Kent dan Cooper kemudian mendapati bahwa kristal-kristal yang dimuntahkan dalam magma gunung Hood berusia 100.000 tahun. Suhu bisa diketahui melalui komposisi bahan kimia kristal tersebut.

“Kami mendapati bahwa di Gunung Hood, jarang sekali terjadi penyimpanan magma dalam suhu yang cukup tinggi hingga bisa membuncah ke luar. Ini terjadi paling banyak sebanyak 12 persen, dan lebih mungkin 1 persen dari total waktu magma disimpan,” ucap Kent.

Untuk menguatkan penelitian ini, mereka mencoba meneliti gunung lainnya apakah fenomena yang terjadi pada gunung Hood sama atau tidak hingga akhirnya menyebabkan gunung meletus.

Sumber: antaranews dan radioaustralia.net.au
Editor: Dianty Utari Syam

1,387 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.