Ilustrasi (sumber: kesbangpol.kemendagri.go.id)
Ilustrasi
(sumber: kesbangpol.kemendagri.go.id)
Jakarta, Media Publica – Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, generasi muda khususnya mahasiswa menjadi harapan bagi perubahan bangsa melalui hak pilihnya. Dengan jumlah pemilih muda yang cukup besar yakni sebanyak 53 juta pemilih, berbagai sosialisasi tidak melupakan lingkup pemilih muda,

Wakil Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso, mengatakan peran kampus sebagai lingkup pemuda sangat penting dalam kesuksesan Pemilu 2014, terutama memobilisasi pemilih muda untuk memberikan hak suaranya.

“Jumlah pemilih muda dalam Pemilu 2014 mencapai 50 persen, salah satu sumbernya adalah di kampus. Maka itu, kampus memiliki peranan penting dalam kesuksesan Pemilu untuk memobilisasi pemilih muda dalam memberikan hak suaranya,” ujar Priyo, Selasa (11/2).

Namun, minat pemilih muda dinilai menurun melalui beberapa survey. Salah satu penyebabnya adalah karena sosok lama yang masih muncul pada pemilihan kali ini dan belum adanya magnet penarik minat dari setiap partai politik.

Dianggap sebagai penerus pemimpin bangsa ini, Priyo menghimbau para pemilih muda untuk menggunakan hak pilihnya pada Pemilu kali ini. Dan menuju waktu pemilihan legislatif dan presiden, sosialisasi dapat dimaksimalkan kepada pemilih muda. Ia mengatakan, sisa waktu sebelum pelaksanaan Pileg dan Pilpres dapat dimaksimalkan untuk melakukan sosialisasi kepada pemilih muda. Meski banyak survei mengatakan bila minat pemilih muda.

M. Qodari, Direktur Eksekutif Indobarometer mengatakan pemilih muda merupakan penentu wajah Indonesia di masa depan. Kualitas demokrasi, ekonomi, dan politik Indonesia amat ditentukan oleh pandangan mereka terhadap politik dan demokrasi. “Ini tulang punggu masyarakat Indonesia ke depan,” ujarnya.

Hasil survei Indobarometer soal partisipasi politik anak muda dan kesadaran mereka terhadap demokrasi cukup mengejutkan. Ternyata tingkat partisipasi politik dan pemahaman demokrasi anak muda cukup tinggi. Ini didapat dari survei yang mereka lakukan kepada 1.200 anak muda (usia 17-30 tahun) di seluruh Indonesia lewat metode multirandom sampling.

Dalam hal demokrasi misalnya. Ada sebanyak 71,2 persen pemuda yang sepakat dengan sistem demokrasi sebagai bentuk pemerintahan negara. Kebanyakan pemuda tidak setuju terhadap otoritarianisme dan sistem politik satu partai. Mereka juga menolak wacana menghapus pemilu dan kepemimpinan nasional oleh militer aktif.
Lebih dari sekadar setuju pada demokrasi. Para pemuda ternyata juga memiliki pemahaman yang baik soal demokrasi. Qodari misalnya mengatakan ada sekitar 85,5 persen pemuda yang memahami demokrasi sebagai bentuk kebebasan mengkritik pemerintah.

Selain itu, ada sekitar 55,7 persen yang memahami demokrasi sebagai bentuk kebebasan mendirikan partai politik. Kemudian, sebanyak 89,7 persen pemuda juga memahami demokrasi sebagai upaya melindungi kebebasan masyarakat dari kesewenang-wenangan penguasa.

“Pemilih muda memahami makna ciri-ciri penting dalam demokrasai dari mulai kebebasan mengkritik pemerintah hingga melindungi kebebasan masyarakat dari tindakan kesewenang-wenangan,” ujarnya.

Tingkat partisipasi politik pemuda ternyata juga jauh dari kata memprihatinkan. Qodari mengatakan dalam lima tahun terakhir para pemuda cukup banyak terlibat dalam proses sirkulasi kekuasaan. Baik di level nasional maupun daerah.

“Partisipasi politik dalam pemilu legislatif 71,5 persen, pilpres 74,9 persen, pilgub 81,9 persen, dan pilwakot 81,6 persen,” kata Qodari.

Editor : Dwi Retnaningtyas

Sumber : Antaranews dan Okezone.com

709 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *