Sumber : buruhmigran.or.id
Sumber : buruhmigran.or.id

Jakarta, Media Publica – Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah sebutan bagi warga Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja dan mendapatkan upah. Lebih dari enam juta penduduk Indonesia menjadi TKI dan menyumbang sekitar 6 Triliun Rupiah untuk devisa Indonesia. Termasuk mereka para tenaga kerja wanita (TKW).

Pada enam bulan pertama di tahun 2013, uang kiriman atau remitensi TKI mencapai Rp36,8 triliun. Bahkan di akhir tahun dapat mencapai Rp120 triliun angka ini sama dengan delapan persen dana APBN. Tapi sungguh sangat disayangkan, mereka yang disebut sebagai pahlawan devisa ini justru banyak yang harus meregang nyawa diperantauannya.

Banyak dari mereka yang mengalami perbudakan, penganiayaan, bahkan terancam hukuman mati di negeri antah berantah. Tahun ke tahun masalah TKI yang dianiaya, meninggal dan bahkan terancam hukuman mati semakin banyak. Data dari Migrant Care yang dilansir oleh kompas.com menyebutkan, ke-265 TKI itu hingga Oktober masih menjalani proses hukum di sejumlah pengadilan di luar negeri dengan dakwaan hukuman mati. Sebanyak 213 TKI di antaranya di Malaysia, 33 orang di Arab Saudi, 18 TKI di China, dan 1 orang lagi di Iran.
Baru-baru kita digemparkan oleh kasus Wilfrida yang telah tiga tahun ditahan di Penjara Pangkalan Chepa, Kota Nharu, Kelantan, Malaysia. Ia juga sudah menjalani persidangan di Mahkamah Tinggi Kota Bahru. Wilfrida ditangkap Polisi Daerah Pasir Mas di sekitar Kampung Chabang Empat, Tok Uban, Kelantan, dengan tuduhan membunuh Yeap Seok Pen. Dia diancam pengenaan hukuman mati untuk dakwaan pembunuhan dan melanggar Pasal 302 penal code (Kanun Keseksaan) Malaysia.
Belum lagi kasus itu selesai kini muncul lagi kasus Satinah (40), tenaga kerja Indonesia asal Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang terancam hukuman mati. Sebelumnya, Satinah dinyatakan terbukti membunuh majikannya yang bernama Nura Al Garib serta mencuri uang sebesar 37.970 real atau kira-kira Rp 97 juta.

Karena divonis melakukan pembunuhan secara spontan, keluarga korban dapat memaafkan Satinah jika Satinah menyediakan diyat, atau uang tebusan yang akan membebaskannya dari hukuman mati.
Kemudian muncul Ati, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Sukabumi, Jawa Barat yang terancaman hukuman mati karena tuduhan melakukan sihir. Ati yang bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) itu dituduh majikan perempuannya meretakkan hubungannya dengan sang suami.

Kasus-kasus diatas hanyalah segelintir dari banyaknya kasus yang menjerat para TKI diluar negeri. Apa yang menimpa buruh migran Indonesia itu tidak lepas dari berbagai kesalahan, seperti dokumen ilegal. Ada 101.067 buruh migran ilegal yang mendaftarkan untuk legalisasi, tapi hanya 17.306 orang yang berhasil mendapatkan dokumen ketenagakerjaan serta 6.700 orang yang mendapatkan exit permit. Tapi ada pula misleading tentang perlindungan yang dimaknai secara parsial dan ad hoc, yakni penanganan kasus yang cenderung reaktif dan terlambat, seperti pemulangan overstayers dari Arab Saudi. Apa yang terjadi ini tidaklah dapat dianggap remeh sebelah mata karena secara tidak langsung hal ini mengarah kepada perbudakan modern.

Menurut Undang-Undang No.39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri dijelaskan tentang kewajiban pemerintah antara lain dalam bab II disebutkan bahwa pemerintah bertanggungjawab dalam upaya perlindungan TKI yang berada di luar negeri dari mulai proses pelatihan, pemberangkatan, penempatan hingga TKI tersebut purna tugas dan kembali lagi ke Indonesia. Bertalian dengan itu, pemerintah juga wajib menjamin pemenuhan hak-hak TKI secara optimal di Negara tempat tujuan TKI tersebut.

Namun pada implementasinya apa yang dilakukan pemerintah belumlah sesuai dengan regulasi yang dibuat. Sungguh amat miris ketika para TKI yang mengais rejeki dari negeri orang karena negerinya sendiri tak mampu untuk memberi kehidupan yang layak. Teramat menyedihkan melihat para pahlawan devisa harus meregang nyawa di negeri antah berantah.

*Oleh: Mega Pratiwi

892 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *