(Ilustrasi: health.detik.com)
(Ilustrasi: health.detik.com)
Jakarta, Media Publica – Bagi Anda yang senang mendengarkan musik lewat headphone atau earphone, sepertinya mulai dari sekarang harus mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan tersebut. Sebab, kedua hal tersebut dapat merusak indra pendengaran Anda.

Sebuah survey yang dilakukan oleh Kelompok kampanye Aksi Gangguan Pendengaran yang melakukan jajak pendapat pada 1.000 orang dewasa menunjukkan sepertiga dari mereka mengabaikan “level aman” pada alat pemutar musik mereka.

Setengah dari mereka yang disurvei mengatakan mereka mendengarkan musik antara satu dan enam jam sehari atau sepertiga dari waktu bangun mereka di tempat kerja atau di pemutar MP3 dalam perjalanan dari dan menuju tempat kerja atau studi.

Bahaya yang dapat ditimbulkan dari musik keras sangat berisiko mengalami telinga berdenging (tinnitus).

Gejala tinnitus dimulai dari “suara dengung sekilas” hingga ke “deruan konstan” di telinga dan kepala. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi di tempat kerja untuk tidur di malam hari.

Paul Breckell, pemimpin Aksi Gangguan Pendengaran, mengatakan bahwa mendengarkan musik keras dalam waktu yang lama dapat memicu tinnitus dan merupakan indikasi pendengaran yang rusak.

“Kebanyakan orang mengalami tinnitus, tetapi pada kasus yang parah dapat memicu ketakutan, kecemasan dan perasaan tidak berdaya yang mempengaruhi kualitas hidup mereka,” ungkapnya.

Ancaman Bagi Pendengaran Manusia
Earphone seringkali kita gunakan untuk mendengarkan musik. Namun, yang dapat menjadikannya bahaya adalah jika kita menggunakannya dengan volume yang keras dan dalam jangka waktu yang lama. Hal tersebut dilansir oleh Huffington Post.

Dampak negatif earphone untuk pendengaran lebih tinggi karena letaknya yang lebih dekat dengan saluran telinga. Telinga manusia sangat halus, bila suara memasuki telinga manusia, hal itu menyebabkan gendang telinga bergetar. Getaran ini kemudian melakukan perjalanan ke koklea atau rumah siput, di mana cairan membawanya kepada bulu-bulu halus yang merangsang saraf pendengaran yang melakukan perjalanan ke otak untuk menginterpretasikan suara.

Gangguan pendengaran terjadi ketika sel-sel rambut dalam telinga manusia hancur. Kerusakan tersebut dapat terjadi ketika manusia mendengarkan suara keras dalam waktu lama. Dengan penemuan earphones dan pemutar musik portabel yang dapat menyimpan banyak musik serta memiliki baterai yang tahan lama, semakin banyak orang yang mendengarkan musik keras selama berjam-jam. Tentu saja kebiasaan itu membawa risiko buruk tersebut.

Suara dapat merusak pendengaran kita pada tingkat 85 desibel, yang setingkat dengan pengering rambut atau food processor.

Dibandingkan dengan headphone bergaya tradisional yang terletak di atas telinga, earphone memiliki tingkat output yang lebih tinggi dari suara sekitar 7-9 desibel. Beberapa audiolog dari Wichita State University, Kansas, AS, mengambil penelitian dari siswa untuk mengetahui seberapa keras mereka mendengarkan musik.

Jika Anda ingin menggunakan earphone, disarankan aturan dari Amerika Auditory Society adalah 60/60, artinya Anda disarankan untuk tidak mendengarkan lebih dari 60 menit dan 60% dari volume maksimal.

Dari hasil penelitian itu mereka menemukan bahwa kebanyakan siswa sedang mendengarkan musik pada 110-120 desibel, lebih dari volume yang direkomendasikan. Pada tingkat itu, suara keras bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen setelah hanya satu jam.

Dengan angka seperti ini, maka tidak mengherankan jika sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of American Medical Association mengatakan bahwa jumlah remaja dengan gangguan pendengaran telah melonjak 33 persen sejak tahun 1994.

Maka dari itu, mulai saat ini lakukanlah pembatasan dalam menggunakan earphone. Apalagi jika ingin menggunakannya dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, perhatikan pula volume musik agar tidak menambah risiko terjadinya kerusakan pada telinga Anda.

Sumber: BBC Indonesia dan Solopos.com
Editor: Dianty Utari Syam

890 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *