Published On: Sat, Feb 8th, 2014

PATABA, Perpustakaan Karya Peninggalan Pramoedya Ananta Toer

Share This
Tags

Tampak depan rumah Pramoedya Ananta Toer (kiri atas) dan suasana di dalam Perpustakaan PATABA, Blora, Jawa Tengah, Santu (1/2) Foto :: Rizky Damayanti

Tampak depan rumah Pramoedya Ananta Toer (kiri atas) dan suasana di dalam Perpustakaan PATABA, Blora, Jawa Tengah, Santu (1/2)
Foto :: Rizky Damayanti

Blora, Media Publica – Sekilas memang mungkin tidak ada yang berbeda dari sebuah rumah yang didominasi oleh warna kuning dan hijau yang terletak tepat di pinggir Jalan Sumbawa 40, Blora, Jawa Tengah. Hanya ada tulisan kecil “PERPUSTAKAAN” yang terpampang di pagar berwarna kuning. Siapa sangka, rumah itu ternyata menyimpan segudang sejarah dari salah satu sastrawan Indonesia.

Siapa yang tak kenal sosok Pramoedya Ananta Mastoer atau yang akrab dikenal dengan Pram. Salah satu sastrawan Indonesia yang terkenal berkat sejumlah karya sastranya.

Rumah tersebut adalah rumah peninggalan dari ayah Pram yang kini oleh adik kandungnya yaitu Soesilo Toer, salah satu bagian dari rumah itu dibuat perpustakaan kecil yang bernama PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa).

“Perpustakaan PATABA didirikan untuk mengenang kakak saya (Pram-red.) yang wafat tanggal 30 April 2006 silam,” ungkap Soesilo Toer saat ditemui Media Publica di PATABA, Sabtu (1/2).

Selain untuk mengenang Pram, perpustakaan kecil yang dibuat sejak tahun 2006 itu juga memiliki tujuan untuk berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis, seperi motto yang dimiliki PATABA, “Masyarakat Indonesia Membangun adalah Masyarakat Indonesia Membaca menuju Masyarakat Indonesia Menulis”.

Saat ini sudah ada sekitar 5000 eksemplar jumlah buku-buku yang terkumpul dan tersusun teratur di perpustakaan kecil tapi memiliki segudang pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Selain terdapat buku-buku koleksi dari Pram, Soesilo dan Koesalah (adik Pram),ada juga buku sastra, ilmu sosial, keagamaan, teknik, buku-buku Rusia dan masih banyak sejumlah buku-buku lainnya.

Tapi adakah karya-karya Pram disana? Soesilo menyatakan bahwa karya-karya Pram ada beberapa yang ia simpan secara pribadi, karena ia ingin agar karya sastra kakaknya itu bisa tetap utuh dan awet.

Tak hanya kumpulan buku yang ada di PATABA, berbagai foto dan karikatur tergantung rapi di dinding bercat putih itu. Terdapat beberapa gambar karikatur dan foto Pram yang didapat dari pengunjung PATABA dan ada juga koleksi foto Ir Soekarno, RA kartini, Tirto Adhie Soerjo, serta Ki Samin Suro Sentiko.

Sejak didirikan delapan tahun silam, selalu saja ada pengunjung yang datang ke PATABA setiap harinya. Ada yang hanya berkunjung karena penasaran, hingga yang datang untuk studi literatur.

PATABA tak hanya dikenal di Blora dan Indonesia, itu terlihat dari pengunjung mancanegara seperti Swedia, Amerika, Belgia, Jepang, Korea, Jerman. Tokoh yang pernah berkunjung dari dalam negeri ada Ajip Rosidi, Koesalah Soebagya, FX Hoerry, Poppy Dharsono dan lain-lain. Serta rombongan mahasiswa dari Semarang, Yogyakarta hingga Jakarta.
“Dari lima Benua di dunia, yang saya ingat hanya Afrika yang belum pernah mengunjungi kesini,” ucap lelaki berumur sekitar 70-an tahun itu.

Para pengunjung yang ingin membaca di PATABA, tak harus menjadi anggota dulu. Hanya cukup menulis di buku tamu yang disediakan, pengunjung bisa langsung membaca buku-buku di sana. Mereka harus rela melayani dirinya sendiri karena memang tak ada petugas khusus disana. Di ruangan yang hanya seluas 5×4 meter tersebut, pengunjung yang datang berombongan harus rela bergantian masuk. Tak jarang, karena terbuka seperti itu, ada beberapa buku yang bernilai dan berharga tinggi berpindah tangan tanpa tahu kemana perginya.

Soesilo mengatakan semoga buku-buku yang berpindah tangan itu dibaca bukan dibakar seperti peristiwa yang pernah dialami kakaknya. Karena itulah juga, di depan pintu rumah utama Blora tersebut terpampang gambar Pram dengan tulisan merah menyala, “Bacalah, Bukan Bakarlah!”.

Walaupun merupakan perpustakaan liar karena belum ada pengesahan yang sah dan juga tak ada katalog apa saja buku-buku yang ada disana, tetapi Soesilo Toer yang juga menjadi Pengelola dan Penanggung Jawab PATABA berharap semoga PATABA akan terus dikenal dan dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas dari kegiatan dan juga perpustakaan itu sendiri.

“Semoga PATABA bukan hanya menjadi perpustakaan daerah, tetapi terus berusaha untuk perpustakaan bertaraf internasional. PATABA ada di Blora untuk Indonesia dan Dunia”, tutup Soesilo Toer.

Reporter : Rizky Damayanti

Editor : Kris Aji Irawan

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>