Sumber : Vivanews.com
Sumber : Vivanews.com

Jakarta, Media Publica – Penampilan bergaya androgini tidak sedikit menuai kontroversi. Namun, gaya androgini nampaknya tetap menunjukan perkembangan di bidang fashion sejak kemunculannya di era tahun 90-an.

Androgini (Androgyny) berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Andro” yang berarti pria dan “Gyny” yang berarti wanita. Irwan Hidayana, salah seorang sosiolog mengatakan, ketika seseorang menampilkan karakter maskulin dan feminin sekaligus secara seimbang, maka ia bisa disebut dengan androgini. Tidak hanya dipergunakan untuk mendeskripsikan wanita yang gaya busana dan kepribadiannya mendekati pria, tetapi istilah ini juga dapat dipakai bagi para pria yang bergaya sebagai wanita, namun tetap berkepribadian pria.

Mulai dikenal sejak tahun 1920-an, gaya androgini memberikan hembusan baru yang menantang bagi para fashionista untuk mengaplikasikan gaya ini di kehidupan sehari-harinya. Pada tahun itu, para wanita mulai bergaya seperti pria untuk mengekspresikan kebebasan yang pada saat itu para wanita “terikat” dengan korset yang melekat pada tubuhnya.

Transformasi dimulai dari maraknya potongan rambut super pendek dan berkembangnya keberadaan blazer yang bersiluet lurus, longgar dengan pundak lenar untuk mengesankan ketegasan dan pribadi yang lebih kuat.

Saat ini, perkembangan gaya Androgyny makin pesat. Dengan kebebasan dunia fashion saat ini, meski kerap kali dianggap menyimpang, gaya berbusana Androgyny tidak tenggelam begitu saja.

Disamping berkembangnya gaya busana konvensional lainnya, androgini pun bisa diaplikasikan kepada para hijabers. Gaya androgini lebih banyak memakai model celana. Selain menampilkan pilihan warna dan motif yang berani, karakter androgini juga tak lantas meninggalkan sisi feminin perempuan dengan warna-warna lembut.

Di panggung mode dunia, tema feminin-maskulin ini juga meramaikan Pekan Mode Paris. Beberapa perancang menyajikan karya untuk tampil fleksibel melalui gaya ini. Perancang dunia, seperti Ralph Lauren, Roberto Cavalli, dan Dolce&Gabbana juga menciptakan busana dengan karakter boyish yang kuat, tapi tetap ada unsur feminin yang seksi. Misalnya, paduan jaket berpotongan kaku, celana pipa, topi, dan sepatu boots.

Sumber : kompas, femina, dan tempo.co
Editor : Dwi Retnaningtyas

2,167 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.