Salah satu pengunjung terlihat mengamati pameran di dalam Museum Jazz saat pagelaran the 36th Jazz Goes to Campus (1/12)
Salah satu pengunjung terlihat mengamati pameran di dalam Museum Jazz saat pagelaran the 36th Jazz Goes to Campus (1/12)
Depok, Media Publica – Jazz Goes To Campus (JGTC) yang diadakan pada Minggu (1/12) tidak hanya menampilkan aksi panggung musisi Jazz, namun juga mengedukasi penonton yang datang untuk mengetahui sejarah jazz serta mengenal musisi-musisi yang mewarnai perjalanan musik jazz. Hal tersebut dikemas dalam Jazz Museum.

Di dalam Jazz Museum tersebut, terdapat sejarah mengenai bagaimana Jazz dikenal hingga saat ini. Berawal dari orang-orang Eropa yang melakukan kolonisasi ke berbagai daerah, salah satunya adalah Afrika. Disinilah akulturasi terjadi antara seni budak-budak berkulit hitam dengan instrumen dan teori musik Eropa yang sedang berkembang. Hingga akhirnya jazz tercipta dan mengalami masa popular nya, walaupun sempat tersingkirkan oleh genre musik baru yaitu rock n roll yang muncul di tahun 1950-an. Tetapi, jazz meraih masa keemasannya di tahun 1980-an.

Berkembangnya zaman dan kecintaan orang-orang terhadap musik jazz tersebut dirangkum oleh Jazz Museum dengan menampilkan biografi serta sejarah dari beberapa musisi jazz dari dulu hingga sekarang, baik dari dalam maupun luar negeri. Musisi jazz dalam Negeri yang ditampilkan di Jazz Museum ini diantaranya adalah Benny Likumahuwa, pemain bass, clarinet, saxophone, trombone. Kemudian band Krakatau yang terdiri dari Donny Suhendra, Pra B Dharma, Tri Utami, Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan. Serta masih ada beberapa musisi jazz Indonesia yang ditampilkan di Jazz Museum ini.

Selain itu, ada juga beberapa jenis musik jazz yang diperkenalkan melalui museum jazz ini. Diantaranya soul jazz yang sangat terkenal di era tahun 1960-an. Salah satu musisi yang berkecimpung dalam genre ini adalah Herbie Hancock yang dapat kita dengar di salah satu lagunya, yakni Cantaloupe Island (1964). Setelah itu ada Cool Jazz yang tercipta setelah Perang Dunia ke dua yakni di era tahun 1950-an. Referensi lagu yang dapat kita dengar ialah So What oleh Miles Davis. Lalu juga ada Fusion Jazz, Smooth Jazz dan Acid Jazz.

Selain itu juga terdapat beberapa foto musisi jazz ketika mereka beraksi diatas panggung. Foto-foto tersebut tidak hanya berasal dari event JGTC tetapi juga event Jazz lainnya, salah satunya adalah JakJazz Festival.

Antusiasme dari pengunjung Jazz Museum sendiri dapat dilihat dari panjangnya antrian pengunjung yang ingin memasuki museum ini. Diantaranya Ulan dan Citra yang sudah tiga kali datang ke acara JGTC. Mereka mengaku senang dengan kehadiran Jazz Museum tahun ini. “Bagus, lebih banyak keterangannya, kalau tahun kemaren cuma pajang foto-foto aja,” ungkap mereka.

Reporter : Dianty Utari Syam & Rizky Damayanti
Editor : Dwi Retnaningtyas

 1,786 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.