Poster FixJakarta, Media Publica – Munculnya berbagai fenomena menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, tak dapat diacuhkan begitu saja oleh masyarakat. Adanya berbagai iklan politik, beragam kegiatan PR politik yang kasat mata dan tidak disadari keberadaanya oleh masyarakat, serta munculnya beragam pemberitaan terkait Pemilu 2014 mengharuskan masyarakat untuk lebih pintar menyikapinya.

Tak terkecuali bagi mahasiswa yang sering kali disebut sebagai agent of change. Sebagai mahasiswa komunikasi, seharusnya dapat mengkaji bergam fenomena tersebut melalui tiga perspektif yakni Hubungan Masyarakat (Public Relations), Jurnalistik dan Periklanan.

Banyak kegiatan Public Relations (PR) dalam ranah politik yang luput dari pandangan masyarakat. Menurut Dr. Novita Damayanti, S.Sos.,M.Si,  selaku dosen mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia, kegiatan PR bukan hanya mengenai kampanye atau Corporate Social Responsibility (CSR) saja namun, lebih luas lagi cakupannya.

Menurutnya, kegiatan PR adalah mengenai loyalitas, manajemen reputasi dan bagaimana memiliki hubungan yang baik dengan media. Lalu, PR juga berhubungan dengan hukum-hukum perundangan dan tanggung jawab sosial. Ia juga menambahkan adanya kegiatan blusukan yang sering dilakukan, sebagai salah satu kegiatam ke-PR-an. Secara global, masyarakat terkadang tidak menyadari kegiatan PR tersebut. “Jangankan masyarakat, mayoritas politisi pun mengganggap PR politik adalah konsultan politik,” ujarnya.

Selain kegiatan PR, dunia Jurnalistik pun turut andil dalam beragam fenomena yang timbul jelang pemilu 2014. Beberapa calon kandidat yang akan maju nantinya, juga merupakan pemilik industri media baik cetak maupun televisi. Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang positioning media yang seharusnya menjadi kontrol sosial sebagaimana fungsinya.

“Maka yang diharapkan peran Komisi Penyiaran Indonesia dan Dewan Pers, mereka harus didorong untuk melakukan fungsinya sebagai wasit, tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan untuk menyuarakan kepentingannya sendiri,” ujar Dr. Rajab Ritonga, MSi., yang juga merupakan dosen Fikom UPDM(B) yang sudah lama terjun di bidang jurnalistik.

Mahasiswa seharusnya dapat lebih kritis menyikapi beragam fenomena yang timbul. Tak hanya berhenti di kegiatan jurnalistik, dunia periklanan pun tak kalah ramai mengambil posisi dalam kegiatan politik. Saat ini sudah marak beredar iklan politik yang telah menjadi konsumsi masyarakat setiap harinya, baik iklan perorangan atau pun partai.

Menurut Bayquni S.Sos, M.Pd., iklan politik adalah tentang bagaimana menyampaikan pesan politik yang disesuaikan dengan target, karena masing-masing partai memiliki target yang berbeda.  Setiap partai politik harus mengetahui siapa targetnya, agar pesan politik pada iklan dapat tersampaikan dengan baik.

Ketiga perspektif tersebut memiliki cara komunikasi yang berbeda untuk emnyampaikan pesannya kepada masyarakat. Dimana masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya harus lebih jeli melihatnya. Sering kali sebagian dari masyarakat memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya pada pemilu, hal tersebut juga terjadi pada golongan muda yakni mahasiswa. Mulai saat ini, sebagai generasi penerus bangsa harus turut andil dalam memberikan suaranya dalam pemili, dan tentunya telah jeli melihat siapa yang akan dipilihnya.

“Saya menghimbau golongan muda untuk memilih atau tidak golput, kalau anda tidak memilih berarti anda memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menang tanpa realita yang sesungguhnya,” tambah Rajab ketika ditemui pada Kamis (19/9).

Hal tersebut ditambahkan oleh Bayquni, “Satu suara menentukan nasib rakyat,” Tegasnya.

 

Reporter : Dwi Retnaningtyas & Kris Aji Irawan

Redaktur : Mianda Aurani

1,145 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *