pilihJakarta, Media Publica – Kurangnya sosialisasi dan keterlibatan mahasiswa pada proses pemilihan Rektor dan Dekan UPDM (B) sangat disayangkan oleh mahasiswa. Hal ini dikarenakan statuta UPDM (B) yang tidak mengizinkan keterlibatan suara mahasiswa ikut andil, tidak terkecuali juga dengan perwakilan mahasiswa di lembaga. “Itu sudah statuta yang harus dijalankan sudah digariskan, kalau diibaratkan seperti UU dalam suatu negara,” ungkap Drs. M. Muminto Arief ditemui Kamis siang (19/9) diruang kerjanya.

Ia menambahkan bahwa statuta bisa saja diubah, jika banyak yang menginginkan dan wewenang Yayasan.Dekan UPDM (B), Dr. H. Hanafi Murtani, MM mengatakan, “tugas mahasiswa pada dasarnya ialah belajar,” dan Ia menambahkan bahwa pemilihan dekan sendiri tidak melibatkan semua dosen, yakni hanya dosen tetap saja, persoalan statuta itu sudah tercatat keputusannya.

Rifki Ramadhya mahasiswa fikom angkatan 2005 mengaku tidak pernah dilibatkan dan tidak tahu mengenai mekanisme pemilihannya. “Tidak pernah tahu pasti aturanya bagaimana͵ karena memang mereka pun tidak open, jika mahasiswa dilibatkan itu lebih baik” ujarnya. Hal senada diungkapkan mahasiswa Fikom UPDM(B) lain Arys G Pratama, “selama gue kuliah gue nggak pernah ikut pemilihan dekan atau rektor. Yang gue tau itu pemilihannya tertutup dan hanya dihadiri oleh guru besar, yayasan dan para petinggi lainnya saja.” Untuk pemilihan dekan, Arys mengungkapkan perwakilan lembaga mahasiswa bisa diajak dalam pengambilan suara, namun untuk pemilihan rektor dirasa sulit karena UPDM(B) tidak mempunyai Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM).

Wahyu Ramadhan, selaku ketua MPM, mengatakan suara mahasiswa penting dalam keberlangsungan kampus paling tidak mahasiswa yang tidak memiliki hak suara bisa ikut mengawal dan mengutarakan pertanyaan terhadap visi misi bakal calon rektor dan dekan secara langsung. Dr. Novita Damayanti, S.Sos, M.Si selaku Dosen Komunikasi Politik menyampaikan dalam pemilihan pejabat kampus seperti dekan atau rektor seharusnya melibatkan semua lapisan yang berada di kampus. Tak hanya itu, suara dari mahasiswa umum juga perlu diikutsertakan yang kemudian disalurkannya ke lembaga perwakilan mahasiswa. “Harusnya semua stakeholder terlibat mulai dari karyawan, dosen sampai mahasiswanya, tapi tidak bisa semua juga kalau semua mahasiswa memilih. Mahasiswa yg baru sama semester akhir itu beda pemikirannya,” ujarnya. Ia menambahkan pemimpin itu bukan hanya figur, tapi seorang pemimpin harus bisa me-manage anak buahnya dan menguasai komunikasi dua arah, artinya mengetahui dan peduli kemauan karyawan, jajaran dan mahasiswa bukan berarti menyetujui semua aspirasi melainkan juga mencari jalan terbaik .

Gerardus Kalis mahasiswa Fikom 2009 mengatakan kebutuhan kampus seharusnya tidak tertutup, mahasiswa harusnya dilibatkan lewat teman teman kelembagaanya. Menurutnya suara mahasiswa sangat penting, orang yang terpilih ditunjukkan untuk membantu semua lapisan kampus͵ jika dia dipilih langsung mahasiswa dia juga akan berusaha memperjuangkan kepentingan mahasiswa.

Reporter : Dianty & Putri

Redaktur : Desi Widiastuti

1,096 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.