Fuad Muhammad Syarifuddin Foto: kominfo.go.id
Fuad Muhammad Syarifuddin
Foto: kominfo.go.id

Jakarta, Media Publica – Malang nian nasib para jurnalis di negeri ini, niat baik sebagai “anjing penjaga” yang selalu mengawasi setiap kesewenang-wenangan dan ketidakadilan di negeri ini malah berbuntut pada kejadian tragis yang menimpa beberapa jurnalis. Parahnya lagi, kasus kekerasan yang menyebabkan kematian beberapa jurnalis di Indonesia tidak jelas apa motifnya dan siapa dibalik kejadian tersebut hingga saat ini.

Salah satunya adalah Fuad Muhammad Syarifuddin atau akrab disapa Udin. Pria yang lahir di Bantul, Yogyakarta pada tanggal 18 Februari 1964 ini akhirnya tutup usia pada 16 Agustus 1996 pada umur 32 tahun karena mengalami pendarahan yang begitu besar akibat penganiayaan yang dialaminya oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.

Udin sendiri adalah jurnalis dari Harian Bernas Yogyakarta yang sangat kritis terhadap pemerintahan orde baru dan kesewenang-wenangan pemerintah setempat. Kematian tragisnya mengundang begitu banyak perhatian dari banyak pihak terutama dewan pers yang pada 5 September 2013 mengadakan acara diskusi publik dengan tema “Upaya Mengungkap Misteri Pembunuhan Udin Melalui Mekanisme Pengadilan”.

Udin dikenal sangat kritis dalam menulis beberapa peristiwa terutama mengenai pemerintahan daerah Yogyakarta. Diduga Udin tewas akibat pemberitaannya mengenai sejumlah peristiwa yang terjadi di Yogyakarta. Dalam diskusi tersebut, Heru Prasetya selaku redaktur harian Bernas mengungkapkan sejumlah data dan fakta yang janggal atas kematian Udin. Berikut sejumlah data dan faktanya:

1. Tempat Kejadian Perkara (TKP) tidak diberi Police Line, sehingga menjadi seperti pasar malam karena siapapun bisa keluar dan masuk secara bebas. Garis polisi baru dipasang pada hari ke-13 selama satu hari.

2. Diawal-awal penyelidikan, Tri Sumaryani, tetangga Udin mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Ia beberapa kali didatangai Edi Wuryanto, serse Polres Bantul, dan Sri Kuncoro, salah satu aparat pemerintah Desa Patalan. Keduanya memaksa Tri Sumaryani untuk mengaku sebagai pasangan selingkuhan Udin dengan iming-iming segala permintaan akan dipenuhi.

3. Ada informasi, orang bergegas ke wartel sebelah utara perempatan Manding. Kami menuju kesana dan bermaksud minta print-out panggilan keluar dan dijanjikan diberi keesokan harinya. Wartawan menginformasikan ke reserse Polres Bantul dan janjian mengambil bersama print-out keesokan harinya. Pada waktu yang dijanjikan, reserse tadi mengambil print-out tanpa mengajak wartawan

4. Dalam jumpa pers di Pemkab Bantul 23 Agustus 1996, Kaplres Bantul Letkol Pol Ade Subardan menegaskan bahwa tidak ada dalang di balik penganiayaan terhadap Udin, padahal ketika itu pelakku penganiayaan belum tertangkap.

5. Dwi Suamji alias Iwik ditangkap diatas bus, kemudian dibawa ke kawasan wisata Pantai Parangtritis. Ia diminta mengaku sebagai pelaku dengan lebih dulu dicekoki minuman keras, disuguhi perempuan, dan diberi janji akan dipenuhi segala permintaan. Korrdinator tim ini adalah Serma Edy Wuryanto. Iwik juga sempat dipertemukan dengan beberapa bos dan diberitahu dengan Edy Wuryanto bahwa pengakuannya untuk melindungi kepentingan Bupati Bantul.

6. Rumah Wagiman jenggot (sekarang almarhum) ayah Udin, beberapa kalii didatangi orang yang mengaku bernama Nizar dan Achmad Herlin Bashari. Mereka mengajak Wagiman untuk datang di Mapolda DIY agar kasus Udin cepat selesai. Belakangan ketika wajah tamu tersebut dimuat di salah satau majalah, Iwik mengenali sebagai bos yang menemuinya di kawasan Pantai Parangtritis.

7. Alasan penangkapan terhadap Iwik adalah masalah perselingkuhan. Udin dituduh berselingkuh  dengan Sunarti, istri Iwik. Sehingga menyebabkan Iwik marah dan melakukan penganiayaan terhadap Udin. Salah satu bukti adalah foto Sunarti yang ada di dompet Udin, padahal belakangan diketahui foto itu adalah dokumentasi pernikahan Iwik dan Sunarti yang ada di KUA dan diambil oleh polisi.

8. Kedatangan Sri Kuncoro dan kawan-kawan pada malam kejadian dan langsung memberi pertolongan kepada Udin dengan  membawanya ke rumah sakit. Menurut Sri Kuncoro kedatangannya adalah tidak sengaja, melainkan niat awalnya hanya ingin makan mie di warung depan rumah Udin. Tetapi dalam sidang Pengadilan Negeri Bantul, Yunari salah satu penolong mengaku berpapasan dengan tetangganya sekitar 50 meter di sebelah utara rumah Udin. Padahal menurut tetangga yang disebut itu, ketika melewati depan rumah Udin belum ada kejadian apapun.

9. Beberapa waktu setelah Udin dimakamkan, Serma Edy Wuryanto mendatangi rumah Wagiman untuk meminjam darah Udin sisa operasi yang katanya untuk kepentingan penyidikan. Belakangan Edy Wuryanto mengaku, darah tersebut dibuang di laut selatan agar penyidikan lebih lancar, lainnya dibuang di tempat sampah. Hal itu tidak saja menyinggung harkat dan martabat keluarga Udin, tetappi juga dicurigai digunakan untuk kepentingan lain.

  1. Sekitar satu bukan sebelum kejadian, aparat pemerintahan Pemkab Bantul dan kecamatan Imogiri mendatangi kantor Harian Bernas dan melakukan klarifikasi terhadap berita tentang “penyunatan” dana Inpres Desa Tertinggal di desa Karang Tenga, Imogiri. Mereka menganggap bahwa tulisan Udin yang memberitakan bawah adanya penyunatan dana IDT itu tidak benar. Tetapi Udin bisa menunjukan bukti kuitansi yang menjadi bukti otentik.
  2. Tidak lama dari kejadian Polwil DIY melakukan paparan di depan tim mabes Polri. Paparan dilakukan di ruang Kabag Serse Polwil dan disampaikan Kabag Serse Kapten Suko Hariyanto. Dalam paparan tersebut, Suko menuliskan dugaan penganiayaan adalah berita.
  3. Ketika Udin dibawa ke RSUD Bantul, ada orang yang menanyakan mengapa terjadi peristiwa seperti itu. Sri Kuncoro yang berada di bawah tempat tersebut, langsung menjawab karena berita yang ditulis Udin selalu kritis. Pernyataan tersebut aneh, karena peristiwa baru saja terjadi.

Berikut beberapa data dan fakta yang janggal atas pembunuhan Udin, Bagir Manan dalam diskusi tersebut berharap, “yang harus ditekankan dalam kasus Udin adalah bagaimana keberanian polisi dalam mengungkap kasus tersebut? Karena sampai saat ini kita belum lihat apa uaya dan keberanian polisi dalam mengungkap kebenaran,” terang ketua Dewan Pers.

Reporter: Cheppy Setiawan

Editor: Rati Prasasti

1,349 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *