Published On: Sun, Sep 8th, 2013

Memandang Luas Kreatifitas dalam ‘Creativities Unfold’

Suasana saat seminar Creativities Unfold, Jumat (6/9), Grandkemang Hotel Foto : Media Publica/Rizky Damayanti

Suasana saat seminar Creativities Unfold, Jumat (6/9), Grandkemang Hotel
Foto : Media Publica/Rizky Damayanti

Jakarta, Media Publica – Desain terus berevolusi sesuai dengan perkembangan zaman. Tak hanya berkembang dengan kecanggihannya, desain juga melihat kebelakang agar tak melupakan sejarahnya. Dengan desain, segalanya akan mudah diceritakan.

Diselenggarakan oleh Artura Insanindo, Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) memasuki tahun keempat dalam penyelenggaraannya.

Restart ‘Revolutionize History, Reinvent History’ merupakan tema acara yang diambil tahun ini. Dengan melihat tema tersebut, tentu kita tahu bahwa desain akan terus senantiasa berkembang melalui sejarahnya.

Selain memamerkan karya-karya para seniman, ICAD tahun ini juga mengadakan beberapa seminar. Salah satu seminarnya, mengangkat tema Creativities Unfold, yakni membahas tentang perlunya kreatifitas dalam setiap desain yang dibuat. Setiap pembicara ternyata memiliki pandangan mereka masing-masing terhadap kreatifitas.

Seminar ini dihadiri oleh tiga pembicara yakni: Dolorosa Sinaga, Sinta Tantra, Fitorio Bowo Leksono, serta Irma Hutabarat sebagai moderator. Pada seminar ini banyak dibahas mengenai kreativitas yang lekat dengan seniman.

Menurut Fitorio, setiap orang memiliki kreativitasnya masing-masing. Hal tersebut tidak dibatasi dengan profesi yang dimiliki oleh setiap orang. Bahkan profesi yang tidak lekat dengan kreativitas juga memilikinya.

Ia juga menambahkan terdapat masalah dalam pengembangan kreativitas di Indonesia, yakni dikarenakan kurikulum di negara kita yang meruntuhkan persepsi kita terhadap kreatifitas.

Sementara itu, Dolorosa mengatakan jika kreativitas berhubungan erat dengan hal-hal yang esensial, “Kreativitas itu selamanya akan berhubungan dengan hal-hal yang esensial, yang hakiki. Itulah yang membuat orang-orang menjadi kritis,” ungkap Dolorosa.

Sinta Tatra, mengatakan bahwa seni merupakan sebuah kegiatan sosial, karena kita tidak bekerja sendiri, tetapi bagaimana untuk memahami 1 sama lain.

Pada hakikatnya setiap manusia memang memiliki kreativitasnya masing-masing sesuai dengan potensi mereka,”Kita semua makhluk seni dan punya potensi untuk menjadi kreatif dan berkarya seni,” tutup Irma.

Sally, salah satu peserta seminar mengatakan, dengan mengikuti seminar ini semakin menyadarkannya bahwa setiap orang dapat menciptakan kreativitasnya masing-masing, “dengan batasan-batasan yang ada tidak menjadi kungkungan, dan disini aku jadi lebih terbuka dan berani mencoba sesuatu yang baru,” tukasnya.

Seminar ini juga dibarengi dengan pameran karya seni dari sekitar 45 seniman. Pameran sendiri akan berlangsung 30 Agustus-27 September 2013 di Grand Kemang Hotel.

Reporter: Dianty Utari Syam
Editor: Rizky Damayanti