Suasana Mesir ketika bentrokan 'berdarah'. Sumber: liputan6.com
Suasana Mesir ketika bentrokan ‘berdarah’.
Sumber: liputan6.com

Mesir, Media PublicaKelompok Ikhwanul Muslimin berencana berunjuk rasa kembali menentang dilengserkannya Presiden Mohammed Mursi, serta sebagai bentuk mengecam kematian para demonstran. Para pengunjuk rasa menuntut Mursi dilantik kembali, setelah digulingkan oleh angkatan bersenjata pada bulan Juli lalu. Unjuk rasa itu  dihelat di Kairo usai sembahyang Jumat waktu setempat. 

Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius menegaskan perlunya pengendalian diri maksimal semua pihak di Mesir. Ia mengungkapkan, “cuma dengan cara itu, kekerasan bisa direduksi.”

Pemerintah sementara Mesir mengatakan jumlah korban jiwa dalam operasi pembubaran pengunjuk rasa mencapai 638 orang tewas dan 3.717 lainnya cedera. Namun, kelompok Ikhwanul Muslimin, penggagas aksi unjuk rasa menyebutkan korban yang tewas lebih dari 2.000 jiwa.

Juru bicara Kementerian Kesehatan mesir menyebutkan pihak berwenang juga sudah merujuk 48 orang termasuk pendukung Presiden Mohammed Morsi yang terguling kepada jaksa penuntut militer dengan dakwaan pembunuhan dan pembakaran gereja.

Komisaris Tinggi Persatuan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia, Navi Pillay, menyerukan dilakukannya penyelidikan atas kekerasan yang terjadi Mesir. Menurutnya, apa yang terjadi dalam sehari di negeri itu sarat dengan aroma pelanggaran Hak Asasi Manusia.

“Harus ada, penyidikan yang imparsial, efektif, dan kredibel serta independen terhadap aparat keamanan. Siapapun yang ditemukan bersalah melakukan pelanggaran harus dimintai pertanggungjawaban,” tegas Navi.

Aksi kekerasan meletus ketika pasukan keamanan menyerbu kamp pro-Mursi Rabu, setelah beberapa pekan mereka melakukan pendudukan di sejumlah titik. Bentrokan dan tembakan pecah, meninggalkan genangan darah dan mayat berserakan di jalan-jalan.

Pihak berwenang membuldoser tenda dan ratusan orang diusir untuk menjauh dari lokasi. Berbarengan insiden ini, 29 gereja dan fasilitas Koptik di seluruh negeri dibakar.

Mesir saat ini berada dalam keadaan darurat nasional. Kementerian dalam negeri mengizinkan polisi menggunakan peluru tajam untuk membela diri atau ketika mengatasi serangan terhadap gedung-gedung pemerintah dan banyak wilayah yang memberlakukan jam malam.

 

 

Sumber: Kompas.com, Tempo.co & bbc

Editor: Rizky Damayanti

1,365 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.