Beberapa Tampilan Javanese Gamelan Virtual R01. Foto: stat.ks.kidsklik.com/
Beberapa Tampilan Javanese Gamelan Virtual R01.
Foto: stat.ks.kidsklik.com/

Bandung, Media Publica – Salah satu bentuk pelestarian budaya terhadap alat musik bisa terlihat dari hadirnya gamelan virtual dikalangan pelaku dan penikmat musik Indonesia.

“Gamelan virtual yang menuangkan suara gamelan melalui teknologi digital menjadi salah satu bentuk dari pelestarian budaya,” kata komposer gamelan virtual Iwan Gunawan.

Eksperimen yang dikembangkan oleh dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini menyangkut bagaimana permainan musik melalui teknologi dapat membentuk suatu harmonisasi, namun bisa juga dikendalikan oleh manusia.

“Bukan perkara diatonik atau pentatonik, saya hanya menempatkan nada-nada yang ingin digunakan lalu mengatur kekerasannya sesuai kebutuhan semuanya tergantung keluwesan bermain atau fleksibel,” katanya di Bandung, Minggu (7/07).

Perlu waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan sebuah eksperimen tersebut, Iwan menerangkan bahwa untuk memulainya Ia harus merekam satu per satu nada asli gamelan, menganalisisnya hingga menjadi satu konfigurasi tertentu, sampai membuat media pembelajaran berbasis digital tentang gamelan.

Siti Hapiatun, selaku Kepala Seksi Pengembangan Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, menilai bahwa masyarakat perlu mengapresiasi karya seni dalam negeri, salah satunya melalui program revitalisasi, rekonstruksi dan eksperimentasi suara alat musik secara digital.

“Meski eksperimentasi merupakan program baru tahun 2013, namun animo masyarakat cukup baik mudah-mudahan hasil dari eksperimentasi itu bisa dikembangkan terus dan sesuai visi Taman Budaya adalah untuk pelestarian dan pewarisan budaya sebagai aset negara,” jelasnya.

Iwan mengatakan bahwa dirinya terinspirasi membuat gamelan virtual ini berdasarkan masa kecilnya yang sudah terbiasa mendengar dan belajar gamelan, serta melihat orang tua mereparasi alat elektronik. Hingga dirinya pun berkeinginan untuk mendengar nada-nada campuran dan berkhayal agar dapat mendengar suara gamelan tanpa ada pemainnya.

“Tidak semua apresiator seni itu buruk, namun seyogianya ada dua indikator yang senantiasa harus diperhatikan. Pertama, aspek pendidikan di sekolah, misalnya murid tidak dibiasakan bagaimana cara mendengarkan musik. Lalu kedua, aspek rutinitas jarang sekali penyelenggaraan pagelaran, padahal sajikan saja dulu jenis musik apa pun masalah selera itu nomor sekian,” tambah Iwan.

 

 

Sumber: Antara News

Editor: Desi Widiastuti

1,708 total views, 12 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.