Published On: Sun, Jul 14th, 2013

Saatnya Masyarakat Melek Media

*Oleh  Rati Prasasti

Ilustrasi : Juragansolo.com

Ilustrasi : Juragansolo.com

Media Publica – Sudah tidak asing lagi kata Literasi Media bagi kalangan anak komunikasi. National Leadership on Media Literacy menyebutkan bahwa Literasi Media adalah  Kemampuan untuk mengakses menganalisis, mengevakuasi dan mengkomunikasikan isi pesan melalui media baik memahami efek media dari segi positif dan negatif.

Literasi Media mempunyai tujuan yaitu Pertama, tujuan perlindungan, dalam hal ini  Media berpotensi menimbulkan dampak negatif sehingga khalayak harus diproteksi. Kedua, Tujuan Pemberdayaan, yaitu mengoptimalkan fungsi positif media sebagai sumber informasi, sumber belajar dan keterampilan. Ketiga, Tujuan Akademis yaitu mempelajari struktur isi pesan media, teknik produksi isi pesan dalam konteks kegiatan belajar mengajar. dan Keempat, Tujuan Aksi yaitu mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan atau aksi tertentu yang memiliki dampak lebih luas.

Program Literasi Media Dijalankan oleh beberapa organiasi atau beberapa instansi. Gerakan literasi media di Indonesia di dominasi oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan kampus, karena melihat reaksi atas situasi kehidupan dan kebebasan media yang berlebihan, yang telah dirasakan mengancam timbulnya dampak negatif di masyarakat.

Saat ini negara masih sangat terbatas melakukan upaya untuk melindungi warganya yang rentan terhadap dampak media, yakni anak dan remaja. Pemerintah lebih menyukai indikator kuantitatif kebebasan pers, ketersediaan akses media dan internet.  Tapi melupakan dampak sosialnya.

Fokus Literasi

Di Indonesia, perhatian kegiatan literasi media terhadap televisi masih sangat menonjol. Padahal problem penggunaaan media pada anak tidak hanya berkaitan dengan TV saja, tapi juga video games dan juga internet. Khusus mengenai literasi media baru (digital literacy), belum ada lembaga yang memberi perhatian secara serius, padahal sangat perlu perhatian khusus, karena media baru memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan media konvensional.

Literasi Media Televisi

Dengan literasi media anak menjadi imun terhadap dampak media di sekeliling mereka. Steril memisahkan anak dari media agar tidak terjadi dampak yang tidak diinginkan. Misalnya, anak tidak boleh menonton TV, bermain Video Games atau mengakses internet. Pada saatnya ketika mendapat akses media tersebut, mereka tidak bisa membangun mekanisme pertahanan diri dari isi media.

Menurut Nina Mutmainnah Armando Selaku Komisioner KPI Bidang Isi Siaran mengatakan bahwa “Televisi Pada saat ini tidak ramah terhadap anak”. Ia memberikan beberapa bukti yaitu :

  • Banyak acara ditunjukan untuk anak tapi mengandung adegan yang tidak pantas disaksikan anak atau tidak mudah dipahami anak
  • Banyak acara untuk anak yang sebenernya bukan acara untuk anak
  • Banyak acara dewasa dengan adegan yang tidak pantas ditonton anak-anak namun di sajikan pada saat anak menonton.

Ternyata Televisi yang menyajikan suatu informasi berupa hiburan,pendidikan dan juga motivasi mempunyai dampak negatif dan positif.

Dengan upaya penyadaran mengenai Literasi Media ini Nina mengungkapkan bahwa jadilah penonton yang bisa memilih kualitas dari isi siaran yang ada di televisi, ia juga menghimbau bahwa kepada seluruh orang tua jadilah penonton yang aktif untuk mendampingi anaknya pada saat menonton televisi, tanamkanlah nilai-nilai moralitas untuk anaknya, berikanlah penjelasan yang baik untuk diberikan pengetahuan dari segi edukasi siaran.

 

Disajikan pada saat workshop dan diskusi “Menciptakan Masyarakat Melek Media” pada 30 Agustus 2012

*Penulis adalah Pemimpin Redaksi LPM Media Publica 2012-2013