china fashion weekMedia Publica – Seiring dengan perkembangan fesyen di dunia, China pun tidak mau kalah saing dengan beberapa Negara lain, khususnya di Negara bagian Asia. Berikut ini merupakan perkembangan industri fesyen di China

Sejak 1970-an, industri garmen China menyaksikan perkembangan pesat di bawah reformasi ekonomi dan kebijakan terbuka negara tersebut. Perubahan dramatis yang disebabkan reformasi ini, telah menyentuh hampir setiap aspek perekonomian dan masyarakat China.

Pada 1992, China memulai upaya membangun ekonomi yang berorientasi pasar. Reformasi ini meningkatkan fleksibilitas dan respon dari industri pakaian jadi Cina. Seiring waktu, industri China telah berkembang dari yang pada 1960-an dan 1970-an sebagian besar didorong volume, menjadi industri didorong ekspor pada 1980, kemudian awal 1990-an menjadi lebih berorientasi pada konsumen.

Pada 1995, tak disangka China menjadi industri pakaian terbesar dunia dengan lebih dari 3,9 juta pekerja yang bekerja di 47 ribu pabrik dan perusahaan. Industri jahit China telah lama terkonsentrasi di wilayah pesisir, dengan transportasi dan komunikasi relatif nyaman, infrastruktur yang baik dan skala ekonomi eksternal.

Setelah puluhan tahun berupaya, beberapa merek China kini memproduksi pakaian berkualitas tinggi bagi konsumen high-fashion. Pembeli China tidak hanya mengantri di luar butik Chanel dan Louis Vuitton, mereka juga mulai memamerkan pembelian di NETIGER dan Shanghai Tang. “Orang China, yang semula malu dengan budaya dan ekonomi mereka, tiba-tiba memenangkan medali itu,” ungkap Raphael le Masne de Chermont, CEO Shanghai Tang. “Mereka mulai merasa bangga menjadi orang China,” lanjutnya.

Kebanggaan itu membantu mendukung harapan perusahaannya untuk menaklukkan pasar di Barat. Shanghai Tang telah membuka toko di beberapa kota fashion dunia, termasuk London dan New York. “Merek Cina telah diakui oleh konsumen massal, tetapi mereka menghadapi masalah dalam membangun kehandalan merek dan kepercayaan,” kata Tan.

Mengingat China akan menjadi pasar barang mewah terbesar dunia dalam waktu dekat, budaya dan preferensi China tidak dapat diabaikan. Lebih dari 100 kota pinggiran memiliki populasi lebih dari 1 juta orang dan konsumen yang memiliki, baik daya beli tingkat atas dan minat dalam merek mewah.

Di barat, budaya, desain dan elemen China semakin diterima. Selain itu, lebih banyak orang China yang mencari barang yang menonjolkan budaya mereka.

The World Luxury Association memprediksikan, China akan menjadi pasar barang mewah terbesar dengan volume penjualannya mencapai 14,6 miliar USD dalam empat atau lima tahun ke depan.

Penelitian dari Bain Capital, salah satu perusahaan konsultasi strategi bisnis terkemuka dunia, menunjukkan bahwa pada 2010, penjualan barang mewah meningkat secara substansial dari tahun ke tahun sebesar 30% di China, sedangkan penjualan menurun di Jepang dan AS, dua pasar barang mewah di dunia. Laporan itu mengatakan bahwa dengan pertumbuhan yang kuat di pasar China, daya beli yang besar dari China adalah di luar negeri.

Dengan melihat perkembangan industri fesyen di China yang sangat pesat tersebut, ditambah pula dengan tingkat konsumerisme yang tinggi, perilaku pasar yang dinamis, sampai fashionista yang ekspresif membuat trend fesyen begitu laris di Asia. Takk menutup kemungkinan China akan menjadi ibukota fesyen yang mampu menyaingi beberapa Negara Asia lainnya. Bahkan, diprediksikan dapat bersaing dengan ibukota fesyen yang kita kenal saat ini, Paris.

Asia menjadi target pemasaran luxury goods dalam sepuluh tahun terakhir. Pembelian terbesar sendiri berasal dari China. Demografi konsumen di Asia, Luxury brands adalah orang-orang muda yang banyak menghabiskan gaji mereka membeli barang-barang mewah. Orang-orang muda yang berpendidikan tersebut mempunyai brand awareness yang tinggi. Sehingga tidak heran, karena begitu pesatnya perkembangan luxury goods disana, pemerintah memberlakukan larangan untuk membuat kampanye yang terlalu mewah untuk tiap luxury goods yang masuk ke China.

Akibat dari Luxury goods itu sendiri akhirnya, membuat brand seperti Armani betah berada di China karena permintaan akan produk mereka tinggi di sana. Penjualan yang bergerak naik di China juga dialami Burberry. Tidak hanya dua brand itu yang betah berada disana, Kurang lebih sama seperti Chanel yang mempertunjukkan koleksi resort mereka di Singapura, tiga brand pemenang CFDA/Vogue Fashion Fund menampilkan koleksi fall 2013 di salah satu lokasi paling eksotis di Beijing – city wall yang merupakan bangunan peninggalan sejarah Dinasti Ming.

Beberapa brand terkemuka, seperti Proenza Schouler, Rag & Bone, dan Marchesa mempertunjukkan koleksi mereka dalam sebuah show yang dikemas dengan tema “Americans in China.” Mereka menampilkan beberapa leading models yang berasal dari China, seperti Liu Wen, Shu Pei, dan Fei Fei Sun “Americans in China”. Selain untuk memperdalam penetrasi luxury brands, disini juga terlihat usaha pendekatan politik terselubung. “Americans in China” sendiri adalah sebuah usaha berkelanjutan untuk mendukung fashion talents dari Amerika dan China.

Kabar mengejutkan, China juga akan menyusul Jakarta, menjadi kota berikutnya yang memiliki Galeries Lafayette di bulan September nanti.

Kabar lain, niche market berkembang dengan baik di China.  Local brands berhasil mengedukasi konsumen yang tadinya luxury brands – minded untuk mencoba sesuatu yang baru.  Apalagi, setelah istri Presiden China Peng Liyuan menjadi semacam promotor bagi lokal brands yang ternyata tidak kalah kerennya dengan merk luar. Mereka yang membaca Monocle memiliki social bubble yang cukup berbeda dengan mereka yang luxury brands – minded. Niche market melawan luxury brands, sebuah perang yang berlangsung secara global. Dengan semua kemajuan fesyen di China, akankah kota fesyen akan beralih?

Editor : Dianty Utari Syam
Sumber : Fimela dan Inilah.com

2,510 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.