Published On: Thu, Jul 4th, 2013

Tan Malaka, Bapak Republik yang Terlupakan

“Pada pukulan terakhir yang menentukan, kita hanya bisa mendapat kemenangan, jika kita juga mengambil inisiatif bertahan. Agar supaya pukulan terakhir yang menentukan itu dapat mewujudkan tujuan kita.” – Naar de ‘Republiek Indonesia’ Menuju Republik Indonesia (1925).” Salah satu kutipan dari Tan Malaka tersebut, membuktikan betapa tegasnya sikap agar saat itu bangsa Indonesia mampu bertahan untuk mencapai satu tujuan: kemerdekaan.

 

 

Tan Malaka

Tan Malaka

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun) adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri, pemimpin Partai Komunis Indonesia, pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Nama asli Tan Malaka adalah Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis ibu. Nama lengkapnya adalah Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Tanggal kelahirannya tidak dapat dipastikan, dan tempat kelahirannya sekarang dikenal sebagai Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian, dan Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa. Tan Malaka mempelajari ilmu agama dan berlatih pencak silat. Pada tahun 1908, ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock. Menurut gurunya GH Horensma, Malaka, meskipun kadang-kadang tidak patuh, adalah murid yang pintar. Di sekolah ini, ia menikmati pelajaran bahasa Belanda, sehingga Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang guru di sekolah Belanda. Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang hebat. Ia lulus dari sekolah itu pada tahun 1913. Setelah lulus, ia ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya. Namun, ia hanya menerima gelar datuk. Ia menerima gelar tersebut dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913.

Pendidikan

Meskipun diangkat menjadi datuk, pada bulan Oktober 1913 ia meninggalkan desanya untuk belajar di Rijkskweekschool (sekolah pendidikan guru pemerintah), yang didanai oleh para engku dari desanya. Sesampainya di Belanda, Malaka mengalami kejutan budaya, dan pada 1915, ia menderita pleuritis. Selama kuliah, pengetahuannya tentang revolusi mulai meningkat setelah membaca de Fransche Revolutie, yang diberikan kepadanya sebelum keberangkatannya ke Belanda oleh Horensma. Setelah Revolusi Rusia pada Oktober 1917, ia semakin tertarik pada komunisme dan sosialisme, membaca buku-buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Friedrich Nietzsche juga menjadi salah satu panutannya. Saat itulah ia mulai membenci budaya Belanda dan terkesan oleh masyarakat Jerman dan Amerika. Dia kemudian mendaftar ke militer Jerman, Bagaimanapun, ia ditolak karena Angkatan Darat Jerman tidak menerima orang asing. Saat itulah ia bertemu Henk Sneevliet, salah satu pendiri Indische Sociaal dari-Democratische Vereeniging (ISDV, pendahulu dari Partai Komunis Indonesia). Ia juga tertarik bergabung dengan Sociaal Democratische-Onderwijzers Vereeniging (Asosiasi Demokrat Sosial Guru). Pada bulan November 1919, ia lulus dan menerima ijazahnya yang disebut hulpactie. Menurut sang ayah, selama Tan Malaka di Belanda, mereka berkomunikasi melalui suatu sarana mistik disebut tarekat.

Sosok yang misterius dan memiliki lusinan nama samaran ini adalah salah satu buron nomor satu pemerintah Belanda. Ia telah berpetualang ke berbagai tempat, mulai dari Moskow di Rusia hingga Banten. Di berbagai tempat, hanya satu pemikirannya, menyemaikan benih perjuangan kepada bangsanya. Lantas siapakah sosok yang dalam kisah novel dijuluki sebagai pacar merah ini?

Sejak muda sosok Tan Malaka memang dikenal sangat cerdas, berani dan berjiwa petualang. Ia tidak hanya dikenal sebagai tokoh politik, tetapi juga sebagai pendidik yang revolusioner, ahli strategi gerilya, ekonom yang visoner dan penulis yang produktif.

Setelah lulus, ia kembali ke desanya. Ia kemudian menerima tawaran Dr. C. W. Janssen untuk mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh di Sanembah, Tanjung Morawa, Deli, Sumatera Utara. Ia riba di sana pada Desember 1919; dan mulai mengajar anak-anak itu bahasa Melayu pada Januari 1920. Selain mengajar, Tan Malaka juga menulis beberapa propaganda subversif untuk para kuli, dikenal sebagai Deli Spoor. Selama masa ini, dia belajar dari kemerosotan dan keterbelakangan hidup kaum pribumi di Sumatera. Ia juga berhubungan dengan ISDV dan terkadang juga menulis untuk media massa. Salah satu karya awalnya adalah “Tanah Orang Miskin”, yang menceritakan tentang perbedaan mencolok dalam hal kekayaan antara kaum kapitalis dan pekerja, yang dimuat di Het Vrije Woord edisi Maret 1920. Ia juga menulis mengenai penderitaan parakuli kebun teh di Sumatera Post. Tan Malaka menjadi calon anggota Volksraad dalam pemilihan tahun 1920, mewakili kaum kiri. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri pada 23 Februari 1921.

Perjalanan Hidup

Tempat di mana Tan Malaka mengajar sangat dekat dengan wilayah perkebunan yang dikelola Belanda. Pada saat itulah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana menderitanya para petani yang ditindas oleh tuan tanah dan para pengawas perkebunan milik kompeni tersebut. Dari situ, semangat juangnya terpanggil. Ia kemudian memutuskan untuk memulai aksi perjuangannya melawan kolonialis Belanda yang sudah menimbulkan penderitaan bagi rakyat.

Pada tahun 1921 ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan para anggota Sarekat Islam faksi komunis. Sarekat Islam faksi komunis inilah yang kemudian berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Kedekatannya dengan tokoh PKI membuat gerak-geriknya masuk daftar pengawasan Belanda. Maklum, PKI pada saat itu adalah organisasi yang paling keras melawan Belanda.

Di PKI, karirnya meningkat dengan pesat. Kemampuan orasi dan pemahaman Tan Malaka yang luas di berbagai bidang membuatnya tidak kesulitan untuk meraih banyak simpati atau pengikut. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan, di antaranya pemogokan buruh kereta api, pendirian berbagai kursus kepemudaan dan rapat-rapat umum. Tapi sayangnya, pada Januari 1922, ia kemudian ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Kupang. Dua bulan kemudian ia dibebaskan tetapi diusir dari Indonesia.

Sejak saat itu petualangannya dimulai. Pertama-tama ia pergi ke Berlin, Jerman. Di sana ia berusaha menjalin komunikasi dengan para tokoh anti-imperialisme dari banyak negara. Kemudian ia diterima bekerja di Komintern, sebuah federasi partai-partai komunis sedunia yang pada waktu itu berada di bawah kendali Joseph Stalin, pemimpin tertinggi Uni Soviet.

Sayangnya, banyak petinggi Komintern yang kemudian memusuhinya. Ini karena perbedaan pandangan antara Tan Malaka dan para petinggi Komintern lain. Mayoritas tokoh Komintern menilai gerakan Islam sebagai penghalang dan juga sisa-sisa feodalisme yang harus dibasmi, sedang Tan Malaka sangat tidak setuju. Ia bahkan menilai gerakan Islam sebagai kawan seperjuangan untuk memusnahkan kapitalisme dan kolonialisme. Atas perbedaan itulah ia kemudian dipecat dari Komintern.

Selanjutnya ia menjadi buronan, tidak hanya oleh para polisi Belanda, tetapi juga kaki tangan Komintern. Tan kemudian berpindah dari satu negeri ke negeri lain dengan lusinan nama samaran. Ia pernah menjadi pengajar di Shanghai, Cina. kemudian menjadi pengawas sekolah di Singapura. Ia juga turut andil dalam mendirikan partai komunis Filipina. Hampir setiap hari ia hidup dalam bayang-bayang penangkapan. Tetapi karena Tan Malaka seorang yang cerdas dan berani, Ia selalu dapat meloloskan diri.

Setelah dua puluh tahun berkelana (menurut kisahnya dalam pendahuluan di buku berjudul Madilog), ia kembali ke Indonesia. Di sini, ia kemudian mengorganisir para pejuang serta memberikan berbagai taktik dan strategi politik yang berguna untuk mengenyahkan Belanda dari bumi pertiwi.

Tan Malaka, Kisah Hidup dan Bukunya

Walau hidup dalam pelarian, ternyata di benak Tan Malaka selalu teringat nasib bangsanya. Itu dibuktikannya melalui berbagai buku yang ia tulis. Buku-bukunya sangat berkelas dan tak lekang oleh waktu. Semua karya tulisnya menyiratkan bahwa selain sebagai seorang nasionalis tulen, ia adalah seorang penulis produktif.

Banyak dari karyanya kini diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan dibaca beragam kalangan, mulai dari para sarjana asing hingga aktivis kampus. Karya-karya besar dari putra Minang ini antara lain: Menuju Indonesia Merdeka (Naar de Republiek Indonesia), Aksi Massa, Semangat Muda dan yang paling fenomenal, Madilog (Materia-Dialektika-Logika).

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

Madilog adalah karya Tan Malaka yang paling terkenal. Di dalamnya, Tan Malaka memberikan warisannya yang paling berharga bagi rakyat Indonesia, yakni cara berpikir yang logis dan mengenyahkan cara berpikir yang berdasarkan takhayul belaka. Madilog pun dicetak dalam berbagai bahasa di dunia dan dipajang di berbagai toko buku besar maupun perpustakaan megah di seluruh dunia, walau di Indonesia hanya membusuk di koridor usang di lapak penjual buku bekas.

Pahlawan yang Terlupakan

Dari sekian banyak sumbangsihnya terhadap Indonesia, Tan Malaka sayangnya menjadi sosok yang terlupakan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Tan Malaka memiliki kedekatan dengan komunisme, walau begitu banyak pula yang meyakini ia hanya seorang muslim taat yang bersimpati dengan ajaran komunis, tanpa menjadi komunis. Bahkan kabarnya, ketika terjadi pemberontakan komunis di Madiun pada tahun 1948, Tan Malaka yang saat itu berada di penjara, sengaja dikeluarkan untuk menghadapi pasukan PKI pimpinan Musso.

Jika ditilik, sudah banyak jasa yang diberikan oleh Tan Malaka bagi republik ini. Ia sering tampil di barisan paling depan dalam berbagai aksi rakyat. Ia juga turut menyemaikan kesadaran nasional yang kemudian membuahkan kebangkitan semangat perjuangan rakyat Indonesia. Mantan guru ini juga adalah idola bagi banyak tokoh bangsa saat itu, termasuk Bung Karno.

Tan Malaka sendiri kemudian hilang tak tentu rimbanya. Menurut Pozie, salah satu ahli sejarah asal Belanda, Tan Malaka dan pasukannya dieksekusi mati oleh sepasukan tentara di bawah komando Letda Soekotjo pada 21 Februari 1949 di Kediri. Hanya tanah dan langit yang berkabung atas tewasnya salah seorang bapak bangsa tersebut.

Menurut Keputusan Presiden No 53 Tahun 1969, Tan Malaka ditetapkan oleh Bung Karno sebagai salah satu pahlawan kemerdekaan nasional. Tetapi di era Soeharto, namanya dikubur dalam-dalam, bahkan Madilog serta karya-karyanya yang lain dibakar oleh kaki tangan orde baru. Orde baru memang sangat alergi terhadap segala hal yang berkaitan dengan komunisme. Itulah akhir nasib Tan Malaka, pembangkit nasionalisme, yang kemudian terhapus jejaknya di buku sejarah bangsanya sendiri, bangsa yang ia perjuangkan untuk merdeka.

Bibliografi

Dari Pendjara ke Pendjara

  • Parlemen atau Soviet (1920)
  • SI Semarang dan Onderwijs (1921)
  • Dasar Pendidikan (1921)
  • Tunduk Pada Kekuasaan Tapi Tidak Tunduk Pada Kebenaran (1922)
  • Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) (1925)
  • Semangat Muda (1925)
  • Massa Actie (1926)
  • Local Actie dan National Actie (1926)
  • Pari dan Nasionalisten (1927)
  • Pari dan PKI (1927)
  • Pari International (1927)
  • Manifesto Bangkok(1927)
  • Aslia Bergabung (1943)
  • Muslihat (1945)
  • Rencana Ekonomi Berjuang (1945)
  • Politik (1945)
  • Manifesto Jakarta (1945)
  • Thesis (1946)
  • Pidato Purwokerto (1946)
  • Pidato Solo (1946)
  • Madilog (1948)
  • Islam dalam Tinjauan Madilog (1948)
  • Gerpolek (1948)
  • Pidato Kediri (1948)
  • Pandangan Hidup (1948)
  • Kuhandel di Kaliurang (1948)
  • Proklamasi 17-8-45 Isi dan Pelaksanaanya (1948)
  • Dari Pendjara ke Pendjara (1970)

Editor: Dianty Utari Syam