Published On: Sun, Jun 16th, 2013

Mobil Listrik Buatan Mahasiswa Indonesia Kian Bermunculan

Mobil listrik "Aristo" buatan Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Brawijaya saat test drive di Samanta Krida, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Kamis, 30 Mei 2013. Foto: plasamsn.otomotif

Mobil listrik “Aristo” buatan Mahasiswa Teknik Mesin Universitas Brawijaya saat test drive di Samanta Krida, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Kamis, 30 Mei 2013.
Foto: plasamsn.otomotif

Malang, Media Publica-Universitas Brawijaya (Unbraw) Malang kembali membuat inovasi cemerlang. Mahasiswa jurusan Teknik Mesin Unbraw berhasil membuat mobil listrik yang bernama Apatte 62 Aristo yang disebut-sebut hemat energi. Apatte akan diikutkan dalam ajang  lomba tahunan Shell Eco Maratahon Asia 2013 di sirkuit Sepang, Malaysia pada tanggal 4 hingga 7 Juli 2013 mendatang. Apatte harus melaju di sirkuit Sepang sejauh 12 kilometer dengan target waktu 30 menit.  “Satu kilo watt mampu menempuh 700 kilometer, ” ujar koordinator tim, Agustian Adi Gunawan, Kamis, 30 Mei 2013.

Mobil konsep ini merupakan pengembangan Apatte yang meraih juara tiga Indonesian Energi Marathon Challenge di Surabaya 2012. Apatte memiliki kecepatan maksimal hingga 47 kilometer per jam. Sebagai penggerak Apatte dipasang motor listrik BL DC 48 volt 800 watt. Sumber energinya dipasok dari baterai berkekuatan 48 volt 20 ampere hours.

Indonesia akan mengirimkan 20 tim ke dalam kompetisi yang akan diikuti 150 tim dari 16 negara itu. Dari Indonesia, hanya Unbraw yang akan bertarung di kelas elektrik atau mobil listrik.

sebelumnya Senin, 20 Mei 2013 lalu, Kementerian Riset dan Teknologi meluncurkan prototipe mobil listrik nasional di Yogyakarta berkapasitas 15 penumpang yang bertujuan sebagai inovasi mobil ramah lingkungan berbiaya rendah (low cost green car). Produk penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut dioperasikan di Taman Pintar yang digunakan sebagai angkutan wisatawan untuk berkeliling keraton dan alun-alun.

Kendaraan listrik itu berupa micro bus bernomor polisi D-7091-C. Mengandalkan baterai litium 320 VDC 160 Ah seberat 550 kilogram. Kendaraan tersebut bisa melaju hingga kecepatan maksimal 100 kilometer per jam. Untuk sekali pengisian baterai, hanya dibutuhkan waktu pengisian 30 menit dan bisa menempuh perjalanan maksimal 115 kilometer. Namun, karena kendaraan dilengkapi pendingin udara, kondisi baterai penuh itu diperkirakan hanya dapat menjangkau 80-100 kilometer.

Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, kendaraan itu dibuat sesuai dengan arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan hari teknologi nasional di Bandung, setahun lalu.

Pembuatan kendaraan ini menelan biaya penelitian sebesar Rp 1,8 miliar. Sebanyak 1,2 miliar diantaranya digunakan sebagai biaya produksi.

Prototipe mobil listrik yang diluncurkan di Yogyakarta itu diakui belum sepenuhnya sempurna. Salah satu kelemahan kendaraan itu terletak pada baterai. Masih dibutuhkan pengembangan penelitian untuk menemukan bentuk baterai kecil yang memiliki daya simpan listrik yang besar.

Saat ini, LIPI masih membuat dua prototipe lain. Satu kendaraan berupa micro bus yang didesain sebagai tempat pertemuan mobil dan satu lainnya berupa sedan.

Koordinator peneliti mobil listrik LIPI, Abdul Hapid, mengatakan, mobil listrik merupakan jawaban atas semua persoalan kendaraan konvensional. Tak harus mengandalkan energi minyak, semua jenis sumber daya alam di setiap daerah bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik penggerak.

Kementerian berusaha mengeluarkan sejumlah kebijakan  agar dunia industri tertarik memproduksi massal kendaraan listrik semacam ini. Seperti keringanan pajak.  Gusti Muhammad Hatta membandingkan dengan kendaraan berbahan bakar minyak yang sekarang beredar di pasar. “Kami dapat pajak, tapi mereka keluarkan pencemaran.”
Akibatnya, pemerintah kembali mengeluarkan uang untuk membersihkan pencemaran yang ditimbulkan. “Empat puluh persen pencemaran di Jakarta berasal dari kendaraan,” tambahnya.

Selama beroperasi di Yogyakarta, kondisi mobil akan dipantau dan dievaluasi kekurangannya sebelum ditawarkan ke pasar. Dengan bermunculannya mobil-mobil listrik buatan anak Indonesia, hal ini bisa menjadi indikasi bahwa perindustrian teknologi Indonesia akan terus berkembang.

Sumber: Tempo.co

Editor: Rizky Damayanti