Published On: Wed, Jun 12th, 2013

Bumiku Menangis

*Oleh Nurfajrian Chumaironi

menagisAku, seorang wanita pendiam yang cerewet katanya. Yaaa “katanya”. Dia yang begitu aku rindukan, dia yang bersusah payah meraih mimpi, dia yang selalu tersenyum dan tertawa ketika berbicara seolah menunjukkan hidupnya begitu membahagiakan. Siapa yang tahu dibalik bahagianya dia begitu rapuh lebih rapuh dari ranting pohon.

Malam kian larut, rindu semakin menumpuk merenggut senyum dan tawa diantara derasnya hujan. Ingin ku ringkas bumi hingga tak seluas ini, begini lah, waktu terasa begitu lambat saat menanti.

Aku terbangun dengan pemandangan sosok bumi dihadapanku, duduk di sofa merah marun, membaca sebuah buku, seperti biasa dengan segelas capuccino dan roti gandum dengan selai coklat kacang. Rasanya seperti mimpi. Hingga suara itu menghamburkan lamunanku.

“Jadi semalaman ini kamu memeluk foto itu?” tanyanya sambil menatapku seolah menuduhku maling jemuran yang tertangkap basah.

“Aaahh.. ini, bukan, bukan apa-apa. Hanya, semalam foto ini terjatuh, dan aku hanya mencoba membantu mengambilnya” aaaiiissh bangaimana bisa aku menjawab seperti ini, aaah dasar stupid jingga.

“Benarkah? Kalau begitu aku harus mengucapkan terimakasih padamu sudah menjaga tempatku ini dengan baik selama beberapa minggu aku pergi” bediri dari sofa tempatnya duduk “terimakasih” senyuman itu kembali, senangnya. Berlalu menuju dapur sepertinya mengambil sesuatu.

Kurasakan hati ini begitu tenang melihat senyum dan tawa khas itu didekatku. Seperti senja senyum itu mendamaikan hati, begitu tulus, begitu lugu, begitu lembut, begitu hangat. Hari ini kembali menikmati hujan ditengah senja bersamanya.

Di balkon apartemen bumi kita menikmati hujan dikala senja, sore itu suasana begitu berbeda, entah kenapa bumi tidak seperti biasanya,  seperti kehilangan semangat, sosoknya saat itu begitu dingin, begitu kaku, sepanjang sore kita hanya terdiam, seolah terkagum dengan indahnya langit saat hujan.

” Kapan kamu pulang? Kenapa tidak membangunkanku?” tanyaku coba memecahkan suasana hening yang sedang bumi ciptakan sore itu.

“Haah? Itu, sekitar jam sebelas malam, mana mungkin membangunkan kamu yang sedang terlelap di alam mimpi” ucapnya seraya tersenyum

“Ke mana kamu beberapa minggu ini?” akhirnya pertanyaan ini keluar dari mulutku

“……. jingga..”

“yaaa..”

“…..” menatap dengan pasti ke arah bumie yang sedang terduduk di sampingku, wajah itu tiba-tiba tertunduk, ia menangis, bumi menangis, ada apa ini? Ada apa dengannya?

“Jingga.. akuu..” menghela napas panjang, dan berusaha menghapus air mata yang menetes di pipi, bumi seperti kehilangan kendali, sekuat apapun ia berusaha mengatur napasnya agar hatinya tenang, air mata itu menetes kembali

“Jingga, besok hari dimana aku akan wisuda dan meninggalkan dunia kampus, dimana kita biasa ngobrol di warung kopi, menghabiskan waktu bersama teman-teman yang lain hingga fajar menjelang, tapi besok sekaligus hari dimana aku harus meninggalkan Indonesia, meninggalkan kamu, jingga, meninggalkan semua kenangan yang ada. Aku sungguh minta maaf, maaf jika harus berakhir seperti ini” air matanya kembali menetes kali ini begitu deras, entah apa yang dirasakannya, aku mencoba mengerti, langitpun seperti ikut merasakan kesedihan yang dirasakan bumi, Bumiku menangis.

“Pergi? Pergi kemana?” air mata ini pun ikut menetes “kenapa secepat ini? Ada apa sebenarnya? Apa salahku bumi?”

“Julia, aku akan menikah dengan Julia di Paris”

“Apa !!” hujan semakin deras, sederas amarahku, sederas kecewaku, sederas air mataku. “hentikan !! hentikan omong kosong ini”

“Jingga, berjanjilah kamu akan bahagia, kamu harus bahagia, jingga, harus.”

“Fuck her and fuck you !!”

Bumi mendekapku dalam pelukannya. Dan kami berdua menangis bersama, menangis dalam pelukan bumi, yang mungkin akan menjadi pelukan terakhir. Dan pada akhirnya aku seperti waktu, berlalu begitu saja. Tuhan begitu mudahnya sakit hati datang dan pergi, mengapa mencintainya tak semudah itu? Bahkan melupakanpun ternyata lebih sulit dari mencintai.

Dalam gelap aku menatap lirih cahaya bulan, seakan terang hanya mimpi bagi mereka yang terlupakan, bersama bintang menari mengiringi sisa riang. Aku seperti kertas kosong tanpa aksara, menyisakan air mata yang menghapus sisa bahagia, hadapi hidup seperti menyeruput segelas kopi yang tersisa. Masih adakah diantara kita terselip kata cinta? Adakah senyum yang kau sisipkan malam ini Bumi? bisakah kita duduk bersenda gurau menghabiskan sisa waktu yang ada?

Waktunya menyiapkan diri, kubantu bumi membereskan sisa barang-barang miliknya ditempat ini, tempat biasa aku menghabiskan waktu dengan bumi. “aku akan baik-baik saja, bahagialah, kita akan baik-baik saja” ini akan menjadi hari terakhirku bersamanya. “aku mencintaimu bumi” tertunduk lesu dan kurasakan pelukan hangat yang mendekap tubuhku, harum tubuh ini aku akan sangat merindukannya.

Kutemukan surat di dalam buku pemberian Bumi sebelum ia benar-benar pergi ke Paris, kota impianku, kota dimana kami akan melangsungkan pernikahan setelah kelulusanku. Kelulusanku yang tinggal menunggu waktu.

 

            Dear Jingga,

Terkadang kita terlalu mendambakan cinta yang sempurna, tanpa adanya penghianatan, airmata dan perpisahan. Cinta yang sempurna itu hanya ada dinovel romantis jingga, hanya novel yang bisa menggambarkan sosok lelaki yang mencintai wanita dengan sempurna. Hubungan yang sempurna dibuat oleh kedua belah pihak, dan nyatanya aku telah menghianati cinta kita, membuatmu mengalirkan airmata dan pada akhirnya perpisahan adalah jalan yang kupilih, bukan berarti aku memilih bersamanya.

Terimakasih untuk hari-hari membahagiakan yang kau berikan untukku..

 Terimakasih sudah mencintaiku dengan tulus..

Maaf untuk luka yang menganga yang ku tinggalkan dihatimu..

Maaf karna telah menghancurkan mimpimu, kota paris..

Pada airmata yang terjatuh kali ini, aku sisipkan salam perpisahan untukmu sayang. Kau tahu jingga rasanya sulit bagiku untuk bernafas, begitu sesak melihat kesedihan dan kekecewaan diraut wajahmu dan melihatmu tetap berusaha untuk tersenyum..

Suaramu yang indah mengiringi kepergianku.. sulit untukku mengatakan ini padamu

Aku Sungguh Mencintaimu Jingga, Maafkan Aku..

Yang selalu mencintaimu

 

Rezal Bumi Darma

            Aku teringat dengan kata-kata Ibu “jingga, kamu harus siap jika suatu saat nanti kamu harus berpisah” itulah kata yang Ibu ucapkan, mungkin ibu mencoba mengingatkanku, bahwa mencintai seseorang tak boleh terlalu berlebih, bahwa pada kenyataannya cinta begitu lekat dengan kekecewaan walau ada bahagia didalamnya.

Mengapa cinta begitu sulit? Mengapa mencintaimu begitu menyakitkan? It’s so sad, how you were a big part of me, and now you’re just gone. Selamat tinggal bumie. Aku akan bahagia untukmu, kamu juga harus bahagia, untukku.

*Penulis adalah mahasiswi Fikom UPDM(B) angkatan 2010