Meong, sebutan tongkrongan mahasiswa Moestopo yang sampai saat ini masih eksis.
Meong, sebutan tongkrongan mahasiswa Moestopo yang sampai saat ini masih eksis.
Foto: Media Publica/Cheppy

Jakarta, Media Publica – Universitas Prof. Dr. Moestopo yang terletak di jalan Hang Lekir I no. 8, Jakarta sudah berdiri sejak tahun 1962, seiring  berjalannya waktu  area terdekat kampus ini mulai ramai oleh mahasiswa bahkan orang umum yang mampir untuk membeli makanan atau minuman.

Mahasiswa UPDM(B) tentu sudah tidak asing lagi dengan julukan tongkrongan “Meong”, di area seberang kampus ,terutama 3 pedagang terlama di kampus UPDM(B).

Tahun 1971, Saodah penjual aneka minuman ringan di sebuah kios sederhana yang terletak di seberang jalan kampus UPDM(B). Ia mengungkapkan istilah “Meong” berasal dari nama suaminya Bapak Rahmio KS dan banyak orang salah kaprah mengira tongkrongan “Meong” ada di sebelah warungnya, tempat makan yang menjual Mie Ayam dan Soto Ceker.

“Dulu disini awalnya Meong ,anak FKG banyak yang nongkrong disini,masih Pak Rahmio sering disini, kemudian diplesetin sama anak- anak Mio jadi Miong (red-Meong) ,tapi sekarang banyak yang ngira meong itu yang di sebelah (mie Ayam)-nya Pak de,padahal disini awalnya,” ungkap ibu dari 6 anak ini.

Ia mengaku senang berjualan di dekat kampus UPDM(B) ,dari berjualan ia bisa menyekolahkan keenam anaknya di Kampus Merah Putih ini  ,dari ke enam anaknya anak bungsunya Zainal Arifin (FE,2007) tercatat sebagai mahasiswa aktif kini sedang menyusun skripsinya. Tahun lalu ia menunaikan ibadah haji dari hasil tabungannya selama 42 tahun berjualan minuman.

“Bisa kuliahin anak saya ,masih satu yang disini lagi skripsi,tahun kemarin kebetulan abis pulang haji,” Lanjut Saodah.

Ketika ditanyakan tentang sosok Bapak Moestopo ia mengungkapkan beliau kerap memesan sirup merah ‘Pisang Ambon’

“Pernah dulu kalo kesini sukanya sirup merah, orangnya ngga banyak bicara ya baik deh ,”tambahnya.

Lain halnya dengan Suyadi, penjual soto ceker yang sudah berjualan sejak 1985 ia mengungkap belum sempat bertemu dengan Bapak Moestopo.“saya belum pernah ketemu, saya baru jualan disini tahun 85,”

Soal omzet berjualan soto ceker dan nasi goreng ia mengaku sekarang sudah tidak sama seperti dulu sekarang banyak bahan baku naik dan untung menipis,tapi tetap ia akan bertahan berjualan. “Untung sekarang tipis ,ngga seperti dulu, tempatnya udah tetap ibaratnya,”ungkap bapak yang sering memakai peci ini.

Mie Ayam Pak de yang sudah ada sejak 1977, Sukatno mengaku saat datang dari kampung ia kemudian mencoba berjualan Mie Ayam awalnya belum adanya tempat,kemudian saat masa Gubernur Suryadi Sudirja pedagang kaki lima di tata dengan rapi dengan nama JS (jualan sementara) di sediakankan tempat untuk berdagang agar tidak mengganggu lalu lintas dan tidak mengganggu umum.

Pajak retribusi bukanlah hal yang asing bagi para pedagang begitu juga dengan Bapak Sukatno, ia mengungkapkan tidak keberatan dengan pajak yang wajib  dibayarkan pedagang – pedangang  ke pihak walikota dengan tarif Rp 3.000/hari.

“Kalo pajak itu ada. Cuma pajaknnya retribusi dibayar ke wali kota langsung, saya ngga keberatan dengan adanya itu soalnya sehari cuma Rp 3000, kita dikasih tempat trus dikelola dan bayar ,”

Dari hasil berjualan mie Ayam sukatno berhasil menyekolahkan ketiga anaknya 2 diantara sudah lulus kuliah,anak kedua Dewi Wulandari merupakan merupakan lulusan UPDM(B) 2011 jurusan Administrasi Negara.

Ketika ditanyakan tentang sosok Bapak Moestopo ,ia mengungkapkan pernah ditegur karena mengambil mangkok,

“pas ngambil mangkok sempet di tegor dia akhirnya beliau nyaranin jualan yang tertib dan bersih ya,” ungkap pria yang lahir di Wonogiri ini.

Reporter : Putri Yanuarti

Editor : Rati Prasasti

 6,322 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.