Bahasa-Salah-Kaprah-yang-Sering-Dipake3+Jakarta, Media Publica – Perguruan Tinggi selalu memiliki suatu wadah yang dapat digunakan untuk Penelitian dan Pengembangan , serta tempat  mendidik manusia baru. Guna menghasilkan generasi yang memiliki kompetensi  sesuai bidangnya. Tak pelak, wadah tersebut didirikan oleh mahasiswa.bertujuan menunjang kreatifitas serta bakat mereka. Selain harus menggeluti dalam bidang akademik.

Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), yang notabene memiliki banyak WKM (Wadah Kegiatan Mahasiswa) maupun komunitas lain yang ada dikampus, dinilai kurang  memanfaatkan sumber daya manusia (red-mahasiswanya) dalam melakukan beberapa kegiatan kampus. Pihak kampus Merah Putih, terkesan tidak memperhatikan SDM yang ada, serta cenderung memilih pihak luar dalam melibatkan kegiatannya. Hal tersebut menyebabkan anggaran yang besar bagi pengeluaran kampus.

Salah satunya setiap kegiatan Wisuda, UPDM (B) selalu menggunakan jasa fotografer dari luar kampus. Hal tersebut pun disayangkan oleh Gerald Dwitama, anggota WKM Telefikom Fotografi, menurutnya pihak kampus kurang memanfaatkan potensi dari Telefikom. Padahal, sebagai WKM yang bergelut di bidang fotografi, anggota telefikom banyak yang sudah menjalankan hobi seperti profesi dengan menggarap proyek untuk gathering perusahaan, wedding dan lainnya, jelasnya.

Menanggapi masalah tersebut, Dekan Fikom UPDM(B) Dr. H. Hanafi Murtani, MM, menyatakan bahwa pihak kampus bukan tidak melibatkan mahasiswanya, hanya saja pengelolaan dan pengorganisasian dalam WKM harusnya menjadi lembaga profesional tidak disadari oleh mahasiswa. “Harus mengajukan untuk ikut tender buat proposal. Kita harus lihat kualitas mereka. Jadi bersaing dengan yg lain ͵kita tidak bisa ambil begitu saja. Ungkap kelebihan anda dan ikut bersaing,” tambahnya.

Terkait PH (Production House) “ Moestopo Production”, yang didirikan oleh Moestopo, untuk menggarap film “Cinta Sepanjang Amazon” , yang disinyalir sebagai ajang promosi kampus. Film adaptasi novel Mira W., yang dilaunching tahun 2009 sekaligus menelan dana milyaran rupiah, dalam proses penggarapannya juga dirasa kurang efektif untuk memperkenalkan kampus ke mata masyarakat luas. “Menurut gue itukan anggarannya besar. Mestinya sih kampus, bisa menggunakannya untuk kegiatan lain seperi seminar atau pameran, yang bisa mengundang masyarakat untuk datang,” ungkap Rarasati anggota komunitas pecinta film (Konflik Moestopo).

Lainnya halnya dengan yang diungkapkan, Alzamar Rizki Perdana. Ia mengaku bahwa,  sebelumnya pihak  Yayasan  UPDM (B), pernah mengajaknya menjadi MC dalam acara kampus. Namun, mahasiswa Fikom 2009 ini, mengatakan pihak kampus yang beberapa waktu sempat membuat website kampus, menggunakan jasa kosultan. Alza menilai, UPDM(B) sebagai kampus komunikasi. Tapi justru menyewa konsultan, lebih baik memanfaatkan yang ada dalam kampus terlebih dahulu. “Harus adalah apresiasi bagi mahasiswa berpotensi . Simbiosis mutualisme kampus ikut mengembangkan potensi mahasiswanya. kita kampus komunikasi,” Lanjutnya.

Reporter : Putri Yanuarti & Verrel Yudistira P.

 Editor: Prabawati Sriningrum

 

825 total views, 12 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *