Niken Ayu, Alumnus Fikom Moestopo angkatan 2006. Foto: Media Publica/Aji
Niken Ayu, Alumnus Fikom Moestopo angkatan 2006.
Foto: Media Publica/Aji

Passion adalah suatu hasrat, setiap orang pasti memiliki hasrat terhadap suatu yang mereka sukai, cintai dan ingini. Bekerja dengan passion akan menambah jiwa pada hasil pekerjaan kita, jika tidak dengan passion, apapun pekerjaan yang dilakukan tidak akan memiliki jiwa. Begitulah pandangan passion menurut Niken Ayu, mahasiswi Universitas Prof.Dr. Moestopo (Beragama).

Niken, akrab ia disapa adalah salah satu mantan pemain sinetron cilik pada awal tahun 90an. Namanya sempat tenar kala bermain dengan bintang besar Indonesia, Ayu Azhari dan Cok Simbara melalui sinetron Noktah Merah Perkawinan. “Enaknya main sinetron dulu itu bisa main sama para senior, jadi bisa curi-curi ilmu dari mereka, soalnya dulu gue kan perannya sebagai anak kecil,” ungkap Niken. Meskipun sebagai pemain sinetron cilik, kegiatan syuting yang dilakukan selalu setelah ia pulang dari sekolah, karena menurutnya sekolah adalah hal yang utama. “Sekolah itu utama, selain itu di sekolah lah tempat gue bertemu dengan teman-teman,” ungkap mahasiswi angkatan 2006 ini.

Tak hanya sinetron, ia pun sempat bermain dalam film serial mengenai biografi Antonio Blanco yang ditayangkan di luar negeri. “Syuting nya di Bali jadi sempet kayak Jakarta-Bali bolak balik gitu, dan di Jakarta pun juga masih sering berpindah-pindah lokasi,” kenang wanita kelahiran 18 April 1988 ini.

Wanita berambut pendek ini mengatakan bahwa, sinetron zaman dulu ceritanya lebih realistis pemain dan karakternya juga lebih realistis, sedangkan sinetron zaman sekarang lebih hanya sekedar drama yang dibuat-buat saja. “Kalo gue pribadi nggak gitu tertarik dengan sinetron yang sekarang, kalau zaman dulu kan hiburan masih sedikit, jadi sinetron udah paling the best lah untuk ditonton,” ujar Niken.

Disinggung mengenai kegiatannya sekarang, wanita yang baru saja menyelesaikan skripsi nya ini menjalani profesi baru yakni sebagai guru di salah satu sekolah kebutuhan khusus, Bina Abyakta Shelter Workshop for Individuals with Autism atau biasa disebut dengan Bina Abyakta. “Sebenarnya gue kerja disitu pun karena gue bikin skripsi tentang pola komunikasi antara guru dengan penderita autis, awalnya observasi, sampai akhirnya gue jatuh cinta dengan anak-anak dan sekolah ini,” ungkap Niken.

Ketika bertemu dengan anak-anak murid di sekolah tersebut, ia seperti dilanda love at the first sight (jatuh cinta pada pandangan pertama) . “Perasaan haru, senang, bahagia tapi ada sedihnya juga. Mereka bisa dibilang memiliki kebutuhan khusus, tapi dibalik itu semua ada potensi di diri mereka,” ujar Niken. Hal tersebut membuatnya terus bersyukur atas apa yang ada di dalam hidupnya. “Jadi tidak hanya mereka yang belajar dari guru-gurunya, tapi guru-gurunya juga belajar dari mereka mengenai apapun,” lanjutnya.

Tak ada kesulitan yang berarti selama menjadi guru di sekolah kebutuhn khusus tersebut ,“Kesulitan awal komunikasi ya, karena ada beberapa anak yang dalam pelafalannya kurang bagus, itu aja sih kesulitan dalam memahami mereka ngomong apa tapi lama-lama juga jadi ngerti,” ungkap Niken. Sebagai guru, ia selalu menginginkan muridnya untuk selalu berkomunikasi, “meskipun cuma menunjuk atau memberikan tanda, gue udah tau maksud dia apa dan mau dia apa, tapi kita sebagai pengajar terus memancing mereka untuk berkomunikasi,” jelasnya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Fikom UPDM(B), ia memiliki beberapa keinginan, “rencana kedepannya pengen lanjut sekolah  lagi, pengennya sih ambil sekolah bahasa, lalu pengen juga sekolah jahit dan buat fesyen line sendiri, seneng aja kalau buat baju yang aneh-aneh buatan sendiri, terus rencana terakhir apa ya paling pengen menikah itu juga kalau ada yang mau hehehe,” tutup Niken dengan tawanya.

Reporter : Kris Aji Irawan

 Editor: Mianda Aurani

3,421 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *