Sutradara : Conor Allyn Produser : Conor Allyn, Rob Allyn Penulis Naskah : Conor Allyn, Rob Allyn Genre : Action Studio : Margate House Films Tanggal Rilis : 18 April 2013
Sutradara: Conor Allyn
Produser: Conor Allyn, Rob Allyn
Penulis Naskah: Conor Allyn, Rob Allyn
Genre: Action
Studio: Margate House Films
Tanggal Rilis: 18 April 2013

Conor Allyn & Rob Allyn dengan Production House miliknya, Margate House  kembali menggarap film action di Indonesia dengan melibatkan aktor dan aktris terkenal  Indonesia.  Ia juga berani memboyong aktor Hollywood Mickey Rourke dan Kellan Lutz untuk mengisi peran utama  sebagai peramu yang masuk ke pasar Amerika.

Yang menarik di film ini adalah bagaimana kerjasama para aktor dan aktris asal Indonesia yang beradu akting dengan Mickey dan Kellan. Ario Bayu, Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan, Mike Muliadro, Tio Pakusadewo, Uli Auliani , Astri Nurdin, Verdi Solaiman, Frans Tumbuan & Rudy Wowor, dinilai mampu bekerjasama dengan sangat mengesankan serta menampilkan kualitas terbaiknya di film ini

Peristiwa bom bunuh diri  di keraton Yogyakarta yang menewaskan Sultana palsu yang menyerupai sultana (Atiqah Hasiholan).  Letnan Hashim (Ario Bayu) ditunjuk untuk mencari pelaku dari peristiwa tersebut yang mengarah ke jaringan teroris.  Jake (Kellan Lutz) dicurigai oleh Hashim karena dia adalah orang terakhir yang bertemu dan berkomunikasi dengan Sultana. Walau sempat diinterogasi, Jake tetap dicurigai oleh Hashim dan Anton (Rio Dewanto) yang merasa dirinya mengetahui pelaku dari peristiwa tragis tersebut.

Dalang dari konspirasi ini adalah Malik (Mickey Rourke ) seorang art merchant yang juga memiliki kelainan seksual dengan menyalurkan hasrat seksualnya pada anak laki–laki. Secara mengejutkan, terdapat konspirasi besar yang dilakukan antara pihak kraton perdana menteri ( Tio Pakusadewo) yang ingin merebut takhta Keraton dan bekerjasama dengan  Malik sehingga pencarian mereka tidak semudah yang mereka perkirakan sebelumnya.

Sosok sentral penjahat dalam film “Java Heat” adalah ‘Malik’. Malik sendiri seorang penjahat kelas internasional yang berburu perhiasan mahal milik kraton Yogyakarta namun berkolaborasi dengan ‘jihadis’ lokal bernama Ahmad (Mike Muliardo) kenyataannya Malik dengan licik hanya memanfaatkan Ahmad. Dan sosok teroris di dalam film ini digambarkan adalah korban konspirasi pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dalam salah satu adegan di awal-awal film, sudah digambarkan sosok ‘teroris’ dengan rompi penuh berisi bom, meledakkan diri ditengah kerumunan orang sambil meneriakkan “Allahu Akbar” pada saat suatu acara perayaan di keraton.

Dibeberapa scene menampilkan sindiran-sindiran kepada banyak pihak, terutama pemerintah negara ini, Amerika Serikat, terorisme , eksploitasi wanita dan kepribadian bangsa ini di suguhkan. Hanya saja terkesan konyol karena kesan pedalaman atau masih tertinggalnya tanah Jawa yang mewakili Indonesia , penggambaran kantor polisi di kota Yogyakarta, digambarkan kumuh & terbelakang. Menggunakan  televisi jaman dulu berupa hitam putih untuk memutar rekaman.

Film yang menghabiskan  dana 145 miliar ini juga menunjukkan adegan tolerasi beragama, yaitu dengan digambarkannya Hashim dan Anton yang sedang berdoa bersama. Sebagai muslim, Ario menutup doanya dengan kalimat “Insya Allah” sedang Rio membalas dengan mengatakan, “Semoga Bunda Maria bisa melindungi kita.”.

Pada adegan puncak adu tembak antara Malik , Hashim, Jake di puncak candi Borobudur , berhasil mengambil keindahan atmosfer unsur budaya Jawa yang mengambil lokasi di candi Borobudur yang sedang merayakan Waisak.

 Sindiran bahwa orang asing lebih banyak bicara daripada mendengar, stereotype pemikiran asing mengenai keragaman agama dan Islam di Indonesia, sampai konspirasi yang saling berhubungan dimana-mana dan media dijadikan tempat untuk mencari siapakah yang harus dipersalahkan. Pemandangan Pasar Burung Ngasem di Yogyakarta, anak-anak jalanan, keramaian jalan dengan becak, sepeda, bajaj, terowongan bawah tanah Keraton Yogyakarta, dan lain-lain pun, menghiasi layar dalam film berdurasi 98 menit ini.

 Secara keseluruhan film ini menarik untuk ditonton, karena banyak pelajaran yang bisa diambil dalam film kerjasama Hollywood–Indonesia ini, sebagai saksi atas  kemajuan kualitas perfilman Indonesia.

 

Peresensi: Putri Yanuarti

 1,790 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.