*Oleh Dwiyasista Widiatma Sekartaji

63640_473053506285_4194491_n

Seperti halnya fatamorgana, aku melihat sebuah hati yang tenang untuk ditempati, yang detak jantungnya menjadi nada terindah saat aku mendengarnya ketika bersandar, dan yang wajahnya paling menyejukkan saat kekalutan memonopoli seisi pikiran.

Seperti halnya fatamorgana, aku mencium wewangian dari tubuhnya yang mendamaikan perasaan, yang kelucuannya memecah kesunyian, yang hadirnya membelah lamunan, dan yang senyumnya melengkapi mimpi semalaman.

Seperti halnya fatamorgana, ada cahaya yang menyilaukan menerobos retina saat kita bertatapan, yang sapanya menggetarkan jiwa, yang dengan menjabat tangannya aku harus terpaksa menampar wajahku sendiri karena tak percaya, yang berjingkrakan saat aku diberinya puisi yang katanya bikinan sendiri.

Itulah aku yang terlalu terpana pada keindahan duniawi.

Aku lupa, ada yang menegurku dengan diberinya keindahan. Terlalu lupa bahwa semua hal kecil itu adalah godaan. Hingga saking cintanya, aku dibuat lupa dengan siapa Pencipta-Nya.

Tuhan, ampuni aku yang tak mengerti artinya sementara.

Ajari aku bagaimana caranya menjadi manusia yang tak hanya baik mendengar Perintah-Mu, tetapi juga bijaksana mensyukuri nikmat dan berkah yang sesungguhnya hanya dititipkan saja.

Dekatkanlah telingaku pada mulut-Mu, ya Tuhan. Agar aku dapat selalu mendengar bisikan-Mu, pun jauh dari apa yang Engkau larang.

Pada akhirnya, aku hanyalah sebutir pasir di belahan dunia yang memohon ampun untuk segala kehilafan, kecurangan, keacuhan, dan kesombongan yang sesungguhnya hanya Engkaulah yang pantas menyombongkan diri. Bukan aku yang tak punya segala.

Mohon ampun aku….

 

*Penulis adalah alumnus Fikom UPDM(B) angkatan 2007 dan Pemimpin Redaksi LPM Media Publica periode 2009-2010.

2,845 total views, 12 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.