Oleh Kris Aji Irawan*

Taman Siswa
Taman Siswa

Pada zaman sekarang, pendidikan tidak bisa lepas dari hidup kita. Kita memiliki hak serta kebebasan untuk mengenyam pendidikan baik melalui instansi formal, maupun non formal.  Kita dapat mengenyam pendidikan kapan saja, dimana saja dan melalui siapa saja.

Kita sebenarnya termasuk orang yang beruntung karena bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Hal tersebut tidak jauh karena peran orang tua kita yang bisa membiayai pendidikan kita hingga jenjang perguruan tinggi ini.

Tapi lihatlah teman-teman kita yang kurang mampu, apakah mereka merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh kita? Untuk bertahan hidup saja mereka harus membanting tulang dan rela putus sekolah demi membantu perekonimian keluarganya. Akibatnya, mereka kehilangan haknya untuk mengenyam pendidikan tidak seperti kita yang mampu mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi saat ini.

Tanggal 2 Mei yang tepat jatuh pada hari ini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Mengingat tentang Hari Pendidikan Nasional tidak terlepas dari peran Suwardi Suryaningrat atau kita biasa mengenalnya dengan nama Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional yang membentuk konsep pendidikan di Indonesia.

Setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah perguruan. Kalimat tersebut merupakan salah satu konsep pendidikan yang pernah dibuat oleh Ki Hajar Dewantara.

Selain itu, karya-karya Ki Hadjar Dewantara yang menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia diantaranya adalah kalimat-kalimat yang menjadi slogan pendidikan yang digunakan hingga saat ini yaitu:

· “Ing Ngarso Sung Tulodo” artinya Didepan memberi teladan

· “Ing Madyo Mangun Karso” artinya Di tengah memberi bimbingan

· “Tut Wuri Hadayani” artinya Di belakang memberi dorongan

Ki Hajar Dewantara juga mendirikan sebuah perguruan bercorak nasional yang bernama Perguruan Taman Siswa. Perguruan Taman Siswa ini berdiri pada tanggal 3 Juli 1922 di Jogjakarta. Pelaksanaan pendidikan Taman Siswa menggunakan sistem Among, yaitu sebuah sistem yang mengedepankan kekeluargaan. Dalam sistem ini, pendidik wajib menyediakan waktu 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan pada anak didik seperti orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya.

Dewasa ini, sistem pendidikan sudah jauh menyimpang dari konsep Ki Hajar Dewantara. Pendidikan saat ini lebih mengedepankan hasil dibanding proses dalam mendapatkan hasil tersebut. Seperti contoh pelaksanaan Ujian Nasional setiap tahunnya seakan menjadi momok yang menakutkan bagi para pelajar di Indonesia. Mereka menganggap seakan kelulusan mereka hanya ditentukan dalam waktu empat hari selama Ujian Nasional berlangsung. Seakan melupakan proses mereka selama menjalani pendidikan.

Ki Hajar Dewantara meninggal dunia di Jogyakarta. Atas jasanya dalam merintis pendidikan di Indonesia, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan perjuangan itulah yang kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional dan bertepatan dengan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara yaitu tanggal 2 Mei.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya dan sejarah negaranya. Semoga hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari ini membawa harapan untuk pendidikan Indonesia agar semakin berkembang kearah yang lebih baik serta dapat mencerdaskan anak-anak bangsa.

Selamat Hari Pendidikan Nasional…

*Penulis adalah anggota LPM Media Publica periode 2012-2013

 1,741 total views,  4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.