Warsito P Taruno (berdiri dengan baju batik di tengah) serta sukarelawan yang mencoba perangkat 4D Brain Activity Scanner. Sumber: Kompas
Warsito P Taruno (berdiri dengan baju batik di tengah) serta sukarelawan yang mencoba perangkat 4D Brain Activity Scanner.
Sumber: Kompas

Jakarta, Media Publica – Ilmuwan Indonesia Dr. Warsito P Taruno memublikasikan hasil temuannya berupa alat pemindai aktivitas otak pada International Symposium on Biomedical Imaging di San Francisco, Amerika Serikat, 7-13 April 2013. Temuan tersebut telah dipatenkan di lembaga paten dunia WIPO/PTO tahun 2006.

Ketua Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia Warsito, peneliti yang menyelesaikan doktor di Universitas Shizuoka, Jepang itu, menggunakan ECVT dengan alatnya.

“ECVT digunakan untuk mengukur sinyal-sinyal listrik yang dihasilkan dari aktivitas otak manusia dan merekonstruksi citra volumetrik dan aktivitas otak,” ungkap Warsito dalam rilisnya.

Warsito juga merupakan Direktur Eksekutif CTECH Labs Edwar Technology, sebuah lembaga riset swasta yang memfokuskan diri pada pengembangan teknologi maju di bidang pemindaian untuk industri dan kedokteran, serta teknologi kesehatan untuk terapi dan diagnostik penyakit kanker.

CTECH Labs berkantor di komplek Business Technology Incubation Center (BTIC) di kawasan bisnis baru Alam Sutera, Tangerang Selatan, yang dikelola oleh MITI. Ditujukan untuk memromosikan hasil riset untuk aplikasi di industri dan mendorong munculnya perusahaan-perusahaan berbasis teknologi tinggi di Tanah Air, yang terinspirasi oleh Silicon Valley, Palo Alto, California, AS.

Humas Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) Drs. Mu`arif mengatakan, “alat tersebut diberi nama `4D Brain Activity Scanner` berbasis `electrical capacitance volume tomography`(ECVT) atau tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis,” katanya, Jumat (12/04).

Ia menambahkan, “ini adalah teknologi pertama di dunia yang bisa melakukan pemindaian terhadap aktivitas otak manusia secara `4D` dan `real time` yang bisa digunakan untuk membantu melakukan studi terhadap otak manusia (neuroscience) dan menangkap abnormalitas yang terjadi pada otak manusia yang disebabkan oleh berbagai gangguan, seperti epilepsi, dan penyakit alzheimer.”

Mu`arif menjelaskan, “International Symposium on Biomedical Imaging” yang diselenggarakan oleh “Institute of Electrical and Electronics Engineers” (IEEE) dan berlangsung di San Francisco, AS, dari 7-11 April 2013 itu merupakan ajang tahunan publikasi pengembangan teknologi terkini dalam bidang pencitraan medis dan diagnostik, yang diorganisir oleh dua asosiasi ilmuwan dan teknolog di bidang teknologi kesehatan dan “signal processing” di bawah IEEE.

IEEE merupakan organisasi ilmiah profesional internasional terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 425.000 anggota dari 160 negara, dengan ruang lingkup aktivitasnya mencakup pengembangan inovasi teknologi termaju di hampir seluruh bidang, membuat standardisasi teknologi, mengadakan aktivitas profesional dan pendidikan.

Simposium tahun 2013, katanya, manghadirkan 371 peneliti dari hampir 700 pengaju dari seluruh dunia. Sebagian besar peserta masih didominasi oleh pemakalah dari Amerika dan Eropa yang memimpin pengembangan teknologi kedokteran terkini, seperti Stanford University, UCLA, Harvard Medical School, MIT, John Hopkins School of Medicine dan University of Oxford.

Peserta dari industri menghadirkan GE Healthcare, Siemens AG, Philips Research, IBM Research, Toshiba, Frauhofer dan lain-lain. Ia menjelaskan, sebagian kecil peserta dari Asia berasal dari Jepang, Korea, China, India dan Singapura.

“Sedangkan Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) Edwar Technology adalah satu-satunya peserta dari Indonesia,” katanya.

Dalam perkembangan teknologi di bidang kedokteran ini, ditemukan pula beragam teknik ataupun alat untuk memindai otak lainnya baru-baru ini. Temuan-temuan inipun memberi harapan baru dalam ilmu kedokteran untuk proses penyembuhan penyakit-penyakit pada otak manusia.

Metode “Clarity” untuk Melihat Otak

Hasil scan otak tikus dengan Clarity Sumber: Reuters
Hasil scan otak tikus dengan Clarity
Sumber: Reuters

Teknik untuk membuat otak terlihat transparan, terobosan baru yang dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang fungsi mental normal dan gangguan syaraf, ditemukan oleh ahli syaraf Stanford University di California, Karl Deisseroth.

Dalam jurnal ilmiah Nature daring, Rabu (10/04), Deisseroth dan koleganya melaporkan bahwa mereka mengembangkan cara untuk menggantikan jaringan buram dalam otak (red-yang diambil dari tikus laboratorium atau sumbangan orang untuk riset) dengan “hydrogel,” substansi serupa yang digunakan untuk lensa kontak.

“Ini mungkin kemajuan neuroanatomi paling penting,” kata Thomas Insel, Direktur National Institute of Mental Health Amerika Serikat di Bethesda, Maryland, di laman Nature.

Metode yang memperlihatkan bagian dalam otak seperti hippocampus dengan jelas layaknya ikan transparan ini disebut CLARITY. Bahkan sirkuit syaraf dan sel-sel pun terlihat.

“Kita bisa melihat struktur hingga ke pasangan neuron pada setiap sisi sinaps,” kata Deisseroth seperti dikutip Reuters.

Deisseroth menambahkan, kelompoknya masih dalam proses membuat keseluruhan otak manusia menjadi terlihat transparan.

Sampai sekarang teknologi yang ada hanya memungkinkan para ilmuwan melihat neuron dan hubungan antar-neuron dalam detil mikroskopis pada sekerat kecil jaringan. Para peneliti harus merekonstruksi data tiga dimensi dari potongan-potongan tipis jaringan ini, menyatukan ratusan dan bahkan ribuan potret-potretnya.

Metode yang demikian membuat pemetaan proyeksi rentang-panjang sel-sel syaraf sangat berat dan rentan kesalahan, dan analisis terhadap keseluruhan otak mustahil dilakukan.

Teknik yang baru memungkinkan pada ahli syaraf mempelajari otak secara utuh. “Itu akan memberikan peluang yang lebih baik untuk mempelajari hubungan berjarak besar, yang akan membantu menentukan hubungan struktur dan fungsi,” kata Deisseroth.

 

Pemindaian Otak untuk Mengukur Rasa Sakit

Menurut hasil studi yang dipublikasikan New England Journal of Medicine, hasil pemindaian otak akan memungkinkan para dokter menaksir rasa sakit yang dialami seseorang.

Tor Wager dari University of Colorado Boulder, bersama timnya menggunakan teknik penggalian data komputer untuk menyisir 114 citra otak yang diambil saat subyek penelitian menghadapi tingkatan paparan panas dari hangat hingga menyakitkan.

Dengan bantuan komputer, para peneliti mengidentifikasi pembedaan pertanda neurologis untuk rasa sakit dan menemukan bahwa pertanda itu dapat dipindahkan kepada orang yang berbeda, memungkinkan mereka memperkirakan seberapa besar sakit yang dirasakan seseorang dengan tingkat akurasi 90 persen-100 persen.

Para ilmuwan terkejut saat menemukan bahwa pertanda itu isyarat khusus untuk sakit fisik.

Mereka lantas melakukan pengujian untuk melihat apakah pertanda neurologis itu bisa mendeteksi saat analgesik digunakan untuk mengurangi rasa sakit. Hasilnya menunjukkan, pertanda rasa sakit itu berkurang pada subyek yang diberi penghilang rasa sakit.

Hasil penelitian itu belum memungkinkan para ilmuwan mengukur kuantitas rasa sakit fisik, tetapi bisa menjadi dasar kerja masa mendatang untuk menguji rasa sakit oleh dokter di rumah sakit.

“Saya pikir ada banyak cara untuk memperluas penelitian ini, dan kami sedang mencari pola pengujian yang sudah kami kembangkan untuk memperkirakan rasa sakit pada kondisi yang berbeda. Apakah pertanda itu berbeda jika Anda mengalami tekanan sakit, atau rasa sakit pada bagian tubuh yang berbeda,” jelas Wager.

“Memahami kontribusi yang berbeda dari sistem berbeda atas sakit kronis dan bentuk penderitaan lain adalah langkah penting untuk memahami dan meredakan penderitaan manusia,” kata Wager seperti dikutip Kantor Berita Xinhua.

Wagner, penulis utama hasil studi tersebut, mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada metode klinik yang bisa diterima untuk mengukur rasa sakit dan emosi yang lain tanpa menanyakan langsung kepada yang bersangkutan apa yang mereka rasakan.

Sumber: Antara dan Nature

Editor: Desy Setyowati

1,987 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.