provokeJakarta, Media Publica – Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) kembali menggelar pameran fotografi, sebagai tugas akhir bagi peserta workshop fotografi setelah belajar selama setahun di GFJA. Pameran foto hasil karya workshop fotografi angkatan XVIII ini digelar sejak 5 April hingga 28 April 2013, di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jl. Antara, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Pameran fotografi yang dibuka oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, Jum’at (05/04), ini melibatkan 33 peserta dan menghasilkan 183 foto yang terbagi atas kelas jurnal dan kelas dasar. Dalam pameran ini pun turut hadir Seniman senior Indonesia, Didi Petet dan Direktur Pemberitaan Perum LKBN Antara, Akhmad Kusaeni.

Tema yang diusung oleh angkatan XVIII ini adalah “Seen” yang berarti telah melihat. Tema ini diambil karena mewakili tujuan para peserta yaitu menampilkan realitas kehidupan yang ada di sekitar yang kadang terabaikan, dan menuangkannya dalam bentuk visual. “Jadi kita berusaha menyajikan lagi ya inilah kenyataan yang ada, ini yang ingin kita tampilkan sehingga kepekaan itu kembali terasah,” jeas Rika Panda Pardede selaku Ketua Panitia Pameran.

Salah satu peserta workshop fotografi dari kelas jurnal, Nur Azhab Abdullah menampilkan karnyanya mengenai pengguna kendaraan. Melalui karyanya ini, Ia berusaha menceritakan tentang apa saja yang dihadapi oleh pengguna kendaraan melalui sudut pandang pengendara motor. “Jadi memberikan pandangan apa sih yang kita lihat kalau naik motor. Apasih yang bisa kita temui, ada kecelakaan, kemacetan nggak karu-karuan,” tandas pria yang memberi judul karyanya ini “My Way”.

Foto-foto yang dipamerkan dalam pameran ini memiliki ceritanya masing-masing yang mewakili tujuan dari fotografer kepada masyarakat. Melalui foto-fotonya, para fotografer ini berusaha menyampaikan kembali hal-hal yang sering dilihat, agar lebih jelas dan memunculkan kembali kepekaan sosial masyarakat.

Rika Panda Pardede berpendapat bahwa masalah sosial yang terjadi disekitar kita sudah dianggap hal biasa, padahal ini merupakan masalah bersama. Kita sebagai makhluk sosial dewasa ini kehilangan tenggang rasa antar sesama, dan  sibuk akan kepentingan hidup masing-masing, kata Rika.

Padahal  banyak disekitar kita yang membutuhkan uluran tangan dan kepedulian lebih. “Kami berharap karya kami yang jauh dari kata sempurna ini setidaknya memberi harapan baru kepada masyarakat luas,” ujar Rika.

Ia menambahkan, “kondisi Indonesia pada umumnya seperti ini, jadi lebih peka dan nggak hanya sekadar peka saja tapi juga melakukan tugasnya masing-masing entah dalam berprofesi, atau dimanapun dengan adanya tindakan untuk melakukan,” tutup wanita yang biasa disapa Panda ini.

Reporter: Mega, Diyanti, & Nanda

Editor: Desy Setyowati

1,013 total views, 16 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.