Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta, Media Publica – Pemilihan Raya (Pemira) adalah acara yang rutin diadakan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Kegiatan tersebut bertujuan untuk memilih Ketua Senat Mahasiswa. Acara yang difasilitasi oleh Komisi Pemilihan Raya (KPR) ini, pada beberapa tahun belakangan cenderung sepi. Antusiasme warga Fikom untuk berpartisipasi mulai berkurang.

Menurut Ario Prabowo, Ketua KPR tahun 2010 mengatakan bahwa, ada beberapa faktor yang menyebabkan pemira selalu sepi peminat. “Mungkin juga karena yang di lembaga selama ini terlalu asik sama lingkungan lembaganya sendiri. Kurang sosialisasi mungkin sama mahasiswa di luar lembaga. Begitu ada KPR dan Pemira baru deh KPR yang disuruh kerja keras untuk menarik perhatian banyak mahasiswa. Yaa sudah pasti  jelas nggak meriah,” tutur mahasiswa angkatan 2007 ini.

Hal tersebut diamini oleh  M.Saefulloh S.Sos, M.Si. Ia juga berpendapat bahwa, perlu adanya sosialisasi yang lebih untuk menjaring peminat dan pemilih dalam Pemira. “Sosialisasi itu kalau bisa tahapan, caranya, metodenya jangan konvensional. Selama ini  kalau punya agenda jalan selesai. Tapi butuh kreatifitas, strategi sehingga mahasiswa aware, saya yakin mahasiswa bisa aware,” ungkap pria yang pernah aktif di kelembagaan mahasiswa Fikom ini. Sebaiknya sebelum diadakannya Pemira sejak jauh-jauh hari sudah diingatkan kembali kepada mahasiswa mengenai apa itu senat.

Sosialisasi menjadi masalah utama pada kurangnya minat mahasiswa yang berpartisipasi dalam kegiatan lembaga, terutama KPR dan Pemira. Drs. Prasetya Yoga Santoso, MM, memaparkan bahwa, tidak hanya sosialisasi saja namun, kepedulian mahasiswa untuk organisasi kemahasiswaan memang kurang. Permasalahan tersebut timbul dari pengurus kelembagaan itu sendiri, peran organisasi dan kredibilitas yang harus diperkuat. Sehingga, orang yang mau ikut melihat bahwa bermanfaat atau tidak untuk dia.

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan III Fikom ini menyarankan agar syarat menjadi pemimpin harus jelas. “Saran saya syarat untuk menjadi peminpin harus jelas, kemudian sosialisasinya harus kuat dan jelas. Artinya orang menjadi tahu mau ada KPR nih, calonnya siapa dan kualitasnya seperti apa, itu harus disosialisakan dulu ke kelas-kelas, kalau cuma nempel saja itu nggak terlalu efektif, karena face to face itu lebih kena pesannya,” tuturnya.

Pelaksanaan KPR dan Pemira sendiri dirasa cukup baik untuk belajar berdemokrasi. Asalkan hal tersebut diimbangi dengan cara memilih yang benar. Kepedulian mahasiswa akan organisasi kemahasiswaan saat ini sangat kurang. Selain itu eksistensi dari Senma dirasa kurang sehingga tidak menarik minat para mahasiswa. Peranan serta kredibilitas Senma harus bisa ditampilkan agar mahasiswa dapat termotivasi mengikuti kegiatan yang difasilitasi oleh lembaga ini.

Reporter: Mega dan Putri

Editor: Mianda Aurani

1,080 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.