Ilustrasi
Ilustrasi

New York, Media Publica  – Melalui program “Indonesian Batik Workshop for Art Teachers” Kedutaan Besar RI di Washington DC memberi kesempatan bagi 30 guru seni dari berbagai jenjang pendidikan, yaitu sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama dan sekolah dasar, untuk mengikuti pelatihan tentang batik.

Pelatihan yang berlangsung dua hari pada 1-2 April lalu itu mengajarkan peserta tentang teknik membatik tradisional Indonesia dengan menggunakan canthing, cap, malam serta proses pewarnaan batik dengan pewarna alam.

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, dalam sambutannya yang disampaikannya melalui video juga menjelaskan hakikat batik bagi Indonesia, antara lain sebagai warisan dan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dilestarikan bersama.

Batik Indonesia pun telah mendapat pengakuan dunia dan masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity-UNESCO.

Meskipun berprofesi sebagai guru seni, sebagian besar peserta menyampaikan bahwa mereka belum mengetahui lebih dalam soal batik Indonesia dan seni membatik. Dalam pelatihan tersebut, selain memperlihatkan cara membatik secara tradisional, juga mengajarkan teknik alternatif seni membatik dengan menggunakan terigu sebagai pengganti malam, juga sebagai cara yang lebih aman dan lebih sederhana.

Dengan cara itu, guru-guru diharapkan dapat mengajarkan seni membatik kepada para siswa-siswi di sekolah dengan lebih mudah dan disesuaikan dengan kondisi di AS, termasuk dalam hal alternatif penggunaan malam yang ditenggarai kurang baik bagi kesehatan.

Proses pewarnaan dilakukan dengan cara menggunakan kwas dan tanpa proses celup sehingga menjadikan teknik ini lebih sederhana dan mudah diikuti oleh siswa, bahkan oleh siswa sekolah dasar.

KBRI Washington menjelaskan, teknik alternatif tersebut diperkenalkan oleh Instruktur Batik Indonesia dari Montreal Kanada, Ibu Avy Loftus, dengan tema “Peace, Love and Hope”.

Tema diambil dalam upaya mengurangi praktek `bullying` (kekerasan) yang sering terjadi di sekolah-sekolah di AS maupun di Kanada. Para peserta pelatihan juga dibekali dengan pengetahun terkait sejarah, arti dan macam-macam batik Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia.

Setelah mengikuti pelatihan, para guru menyampaikan kekaguman mereka atas kekayaan budaya Indonesia dan tergerak untuk mengetahui dan mempelajari lebih jauh mengenai budaya Indonesia.
Pameran Batik di Prancis

Kekaguman negara asing akan batik pun terasa di Picardie, Prancis. Kolektor Batik asal Swiss Gaspard de Marval menggelar pameran batik Indonesia bertema “Batik Javanais, Sekar Jagad (Fleurs de L’Univers)” di Galerie Saint-Jacques, Saint-Quentin, Picardie, Prancis. Pameran ini berlangsung dari 27 Maret 2013 sampai dengan 12 Mei dan dibuka Wakil Walikota Saint-Quentin Stephane Lepoudere.

 

Menurut Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Paris Arifi Saiman yang turut menghadiri pembukaan pameran Batik tersebut, menyebutkan pameran ini  diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Saint-Quentin dan Galerie Saint-Jacques dengan sang kolektor.

 

Lepoudere mengatakan Pemerintah Prancis, khususnya Pemerintah Kota Saint-Quentin, mengakui batik sebagai warisan dunia seperti diakui UNESCO. Dia juga menyebutkan pemerintah dan masyarakat Saint-Quentin menaruh perhatian besar pada seni budaya Indonesia, termasuk Batik.

 

Pada pameran itu juga dipamerkan karya seni Indonesia lainnya seperti wayang kulit dan benda-benda budaya Suku Dayak, sementara jumlah batik yang dipamerkan sekitar 200 bahan/pakaian. Khusus batik Jawa, pameran menampilkan seni karya batik khas keraton Surakarta dan batik Tiga Negeri bermotif kombinasi Pekalongan, Surakarta dan Yogyakarta.

 

Pihak penyelenggara juga menampilkan batik asing batik buatan Belanda untuk konsumsi pasar Afrika dan batik buatan Cina.

 

Sumber: Antara

Editor: Desy Setyowati

1,019 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.