Published On: Thu, Feb 7th, 2013

Jelang 2014, Independensi Media Diragukan

Civitas Universitas Katholik Atmajaya, Rabu (6/02) menyelenggarakan seminar bertajuk "Tirani Media Menghadapi Pemilu 2014".Foto: Media Publica

Universitas Katholik Atmajaya, Rabu (6/02) menyelenggarakan seminar bertajuk “Tirani Media Menghadapi Pemilu 2014″.
Foto: Media Publica

Jakarta, Media Publica – Posisi media massa mainstream diperkirakan akan terganggu independensinya menjelang Pemilu 2014 mendatang. Hal ini disebabkan karena maraknya trend pemilik media yang terjun ke dunia politik.

Kekhawatiran ini dinyatakan oleh Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Eko Maryadi dalam seminar “Tirani Media Menghadapi Pemilu 2014″ yang diadakan pada Rabu (6/02) di Universitas Katholik Atmajaya, Jakarta.

Intervensi yang dimaksud adalah mengenai pemberitaan peristiwa atau informasi tentang tokoh atau partai tertentu yang mengikuti dan memiliki kepentingan dengan Pemilu 2014 mendatang.

“Semua wartawan, dari tahap reporter sampai jajaran pimred (pimpinan redaksi) akan menghadapi intervensi,” kata Maryadi. Setidaknya terdapat beberapa kelompok usaha yang mendominasi media massa di Indonesia.

Maryadi menyebutkan memang tidak semua pemilik media terjun ke dunia politik, tapi beberapa pemilik media yang memiliki kedekatan dengan politisi atau partai politik memiliki kecenderungan itu. Lanjutnya, tidak tertutup kemungkinan bagi beberapa partai politik untuk berpartner dengan media-media lain. Bahkan dapat menyusupkan figur tertentu dalam media tersebut. Fenomena ini pun berdampak pada media massa secara keseluruhan, media massa yang seharusnya berpihak kepada kepentingan publik pun beralih kepada kepentingan pemilik atau pemodal beserta kepentingan politiknya.

“Kooptasi bisnis media sudah terlalu dalam, jadi sekarang hanya tunggu partai jurnalis sendiri,” tegas pria yang biasa disapa Item ini.

Sementara itu, di tempat dan waktu yang sama, Manajer Program Media dan Informasi Yayasan TIFA, R. Kristiawan menyatakan bahwa terdapat 12 kelompok usaha yang mendominasi dunia jurnalistik di tanah air. Kedua belas kelompok usaha ini tidak hanya bergerak dalam satu jenis media saja, bahkan beberapa diantaranya memiliki surat kabar, stasiun televisi dan media on line. Global Mediacomm (MNC Group), Jawa Group dan Kelompok Kompas Gramedia adalah tiga kelompok usaha yang memiliki lebih dari 2 jenis media yang tersebar di seluruh pelosok di Indonesia. Bahkan Jawa Group memiliki 171 media lokal di berbagai daerah.

“Betapa dahsyatnya 12 kelompok usaha memegang peranan dalam kontrol informasi,” kata pria akrab disapa Wawan ini. Oligarki bisnis media menurut Wawan, justru telah merusak semangat demokratisasi yang terjadi sejak Reformasi.

“Demokratisasi yg terjadi ternyata hanya melahirkan tiran-tiran baru, maling-maling baru, termasuk dalam media,” tegasnya.

Konsientisasi dan Pers Mahasiswa

Sementara itu menanggapi fenomena oligarki bisnis media, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Katholik Atma Jaya, Prof. Alois A. Nugroho, berpendapat bahwa harus ada proses konsientisasi atau penyadaran secara menyeluruh kepada masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Nugroho mengatakan proses konsientisasi harus dilakukan untuk menghindari pembodohan massal yang dilakukan oleh kelompok pemilik media yang memiliki kepentingan politik atau paling tidak kepentingan bisnis. Selain itu, menurutnya, pembodohan yang dilakukan dengan pemberitaan tertentu dan program acara yang hanya mengejar rating sangat merendahkan masyarakat sebagai konsumen. Oleh karena itu, masyarakat harus menyadari dan melawan pembodohan tersebut.

“Rakyat bersatu, tak bisa dikalahkan,” seru Nugroho.

Sementara itu, Maryadi memandang bahwa pers mahasiswa dapat menjadi media yang menginspirasi masyarakat atau paling tidak di lingkungan kampusnya. Pers mahasasiswa, ungkapnya, dapat kembali menjadi pers alternatif yang memberikan informasi-informasi yang disembunyikan media mainstream kepada masyarakat.

“Pers mahasiswa harus inovatif, dapat memberitakan hal-hal yang tidak ada di media mainstream,” tegasnya.

Kepemilikan_Media

Reporter Teuku Wildan Al Amin

Editor Cheppy Setiawan